KISAH SEHARI DI NEGERI BAHARI   Leave a comment

Dear Bentoeliser

Melanjutkan posting (tulisan) Refreshment saya di Rumah Sadhana, tanggal 22 April 2018 lalu, berikut saya sampaikan catatan Sehari di Negeri Bahari itu.

Sebagai apresiasi saya kepada semua saja yang telah berjasa mengupayakan, terlibat dan berpartisipasi di dalamnya sehingga helatan “Sehari Di Negeri Bahari” bisa terealisasi baik membahagiakan semua yang hadir saat itu di Tegal, 28 April 2018. Maka inilah catatanku untuk kita sekalian …

Setiap pertemuan bergulir kepada perpisahan adalah hukum alam yang tak bisa dielakkan. Siapapun selalu merindukan kehadiran. Namun akhir, ya meskipun biasa tidak dikehendaki, namun sebuah moment ending atau perpisahan itu adakalanya justeru menjadi suatu awal hadirnya keindahan sebagai dampak dari pertemuan.

Kisah Sehari di Negeri Bahari sebagaimana judulnya yang memang dirancang hanya untuk selesai sehari, namun menjadi satu dari sedikit kisah dimana bagian ending pada Sehari di Negeri Bahari ini justeru istimewa karena menjadi kunci pembuka simpul akhir yang menjadikannya pintu pertemuan-pertemuan (silaturahmi) baru dan selanjutnya – betapa sangat blur antara pertemuan dan perpisahan oleh karenanya. Saya percaya semua yang hadir di Tegal baik yang hadir sejak hari Jumat maupun Sabtu, merasakan hal yang sama dengan saya, bahwa kami tidak merasakan aura perasaan menjadi yang terdahulu dan yang kemudian, semua hadirin adalah sama – sama-sama hadir di saat dan peristiwa yang sama, sama-sama tamu kota Tegal tanpa ada gap di antaranya.

Sehari di Negeri Bahari sukses menciptakan nuansa kerinduan seorang saudara menyongsong kehadiran saudaranya yang lain. Sambutan hangat dari para saudara kepada saudaranya yang lain yang hadir kemudian, terjadi dan terjaga begitu indahnya dengan tanpa mengurangi kadar kekhusyukan acara yang sedang berlangsung. Justeru sebaliknya. Acara itu sendirilah yang seolah memang telah sengaja dipersiapkan sebagai pesta besar menyambut saudara yang lama terpisah oleh region dan waktu. Kami bisa merasakan kebahagiaan itu.

IMG-20180430-WA0001

Nyaris tidak terasa acara seremonial resmi yang saya alami di kesempatan Sehari di Negeri Bahari – sepanjang hari Sabtu 28-04-2018 sedari pagi hingga lewat tengah malam saat saya meninggalkan Hotel Alexander menuju Stasiun Tegal yang senantiasa benderang itu, untuk kemudian melakukan perjalanan pulang ke Surabaya. Pagi hari ketika saya bermaksud untuk registrasi ulang kepada “panitia”, yang istimewa adalah saya justeru diminta bergabung menggaulkan diri saya kepada kawan-kawan yang sudah hadir terlebih dahulu yang tengah berkumpul di lantai 2 Hotel Alexander. Sangat tampak rona keletihan pada raut Pak Kurniawan Junaedhie, Pak Adri Darmadji Woko, juga Bu Evi Manalu karena upaya besar beliau demi pertemuan ini mengejawantah – sungguh apresiasi besar dan takzim kami kepada beliau semua, yang dengan kerendahan hati yang sedemikian anggunnya telah rela menanggalkan busana kebesaran itu – jauh lebih daripada kesan panitia atau pun sesepuh di DNP, beliau semua justeru mengambil peran sebagai para orang tua yang rindu dan sangat bahagia menyambut putra-putrinya, dan sebagai anak yang menyambut orang tuanya serta sebagai sahabat yang penuh kesyukuran menyambut hangat para sahabat mereka.

Waktu siang terasa begitu cepat bergulir berkat sesi sharing tentang Sastra Itu Menyenangkan yang dipandu apik oleh Mas Kurnia Effendi dan Mbak Ni Made Purnama Sari, dan Pak Dr. Handrawan Nadesul dengan paparan “Penyair Sehat, Puisi Kuat”-nya yang kampiun itu. Kami sebenarnya belum mencapai klimaks karena masih sangat penasaran akan kejutan-kejutan slide-slide yang masih misteri, dan waktu juga sudah menunjukkan pukul 17.00, karena pemaparnya adalah seorang dokter yang tentunya menjunjung tinggi semboyan kesehatan dimulai dari kebersihan dan sanitasi diri, maka akhirnya dengan perasaan berat hati kami pun harus merelakan slide-slide yang masih tersisa itu (konon mencapai 150 slide) untuk tidak hinggap di mata kami, karena kami masih ada tugas dan kewajiban lain yang juga penting harus kami tunaikan –  yaitu mandi.

Sesi malam yang merupakan puncak Sehari di Negeri Poci yaitu peluncuran buku “Negeri Bahari” – buku fiksi (eh, puisi ding) yang tebalnya sangat spektakuler itu mengakibatkan hadirnya 2 pesta besar yang pecah di Tegal. Pantas dan selayaknya kami memohon maaf kepada masyarakat Tegal karena Pak Plt Walikota mereka kami “bajak” malam itu untuk turut serta mengguyup puisi bersama kami.

New Image

Puncak acara malam itu menjadi sedemikian megahnya berkat tatakelola panggung dan tata-cahaya yang begitu menawan, dipandegani oleh duo maut MC DNP yaitu Mas Joshua Igho dan Mbak Dhenok Kristianti (a.k.a Ay DhenKrist), plus terlantunkannya lagu Amazing Grace yang merdu dan demikian ekspresif dari vocal Mbak Shinta Miranda yang menghipnotis itu tak pelak menjadikan acara Sehari di Negeri Bahari menjadi genap spektakulernya dan emmeijing.

FB_IMG_15250150079655560

Semoga persaudaraan dan kemesraan ini janganlah cepat berakhir. Lagu Con Te Partiro bolehlah terus mendengung di dalam ruang batin kita masing-masing, menjadi kenangan-kenangan indah 28-04-2018 di Tegal, tapi Amigos Para Siempre biarlah terus terpateri di setiap hati kita. Mari kita syukuri oleh-oleh abadi yang kita bawa dari Tegal, silaturahmi keluarga DNP. Para founding ones telah menyediakan saluran komunikasi di facebook, dan kini sebagai oleh-oleh istimewa dari Sehari di Negeri Poci, telah ditambahkan sarana ukhuwah di WhatsApp teristimewa bagi kita semua yang hadir di Tegal akhir pekan lalu. Layak dan sepantasnyalah bersama-sama kita jaga dengan segenap semangat ketulusan persaudaraan.

Saya kok merasakan grup WA ini beda dan menjadi istimewa karena lahir justeru setelah pesta sukses dihelat, pada saat semua sama-sama berada di puncak kebahagiaannya untuk hal yang sama-sama dialaminya, saat semua berbagia menemukan saudaranya (saudara di dua alam = alam maya dan alam nyata). Faktanya sebelum peristiwa Tegal, saya di facebook paling hanya berani nimbrung atau nge-like pada postingan Pak KJ, Pak Adri dan beberapa kawan saja seperti Pak Bambang BEP, Pak Bambang Widiatmoko. Lha sekarang jadi banyak. Seeing is believing mungkin itulah yang sebenarnya terjadi di Sehari di Negeri Bahari ketika Sastra itu memang benar-benar menyenangkan dan menyehatkan.

Akhir kata, sekali lagi apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua saja yang telah bersusah payah berkat upaya besarnya sehingga menjadikan acara Sehari di Negeri Bahari – 28-04-2018 ngejawantah sukses berakhir bahagia dan berkesan manis untuk semua.

Tiada gading yang tak retak, namun biarlah kebahagiaan kami semua sebagai saksi hidup Sehari di Negeri Bahari, semoga lebih dari cukup bisa menutupi bagian-bagian yang retak itu sekiranya memang ada.

DNP one for all, all for one.

Salam poci, sampai jumpa di kenduri-kenduri DNP selanjutnya.

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Iklan

BECAKKU MALANG ANAKKU SAYANG   Leave a comment

Dear Pembaca,

 

Saya pandangi becak saya. Ada rasa haru ketika bisa membawanya kembali pulang. Saat becak saya gadaikan, hampir setengah tahun saya beralih profesi pemulung, hingga akhirnya saya berhasil mengumpulkan cukup uang untuk bisa menebusnya. Rupanya beban hidup saya menular kepada becak saya, selama masa tergadai, becak saya disewakan untuk mengangkut bongkaran rumah, ya kaso, ya balok, ya tegel, dan genteng. Alhasil becak saya mengkis-mengkis menunaikan tugas berat itu. Bukan sekedar jog-nya yang nggembos dan terkoyak di beberapa bagian, kayuhannya pun jadi terasa tidak nyaman, karena peleg-nya yang agak mleot. Akhirnya saya mesti menebus dosa dengan membawanya ke bengkel becak ternama di kota.

Ya, saya masih tetap tukang becak, asli wong ndeso yang bangga nderek Gusti Yesus. Saya pun bahagia sempat menjadi pemulung, gara-gara becak saya gadaikan demi menebus biaya perawatan penumpang saya, di rumah sakit. Saya percaya berkah Gusti tidak pernah kendat, karena Gusti Yesus tidak pernah sare. Seperti siang ini, ketika saya bisa makan siang dari sangu yang dibekalkan oleh istri saya – jadi ngirit, tidak seperti dulu yang perlu keluar uang buat jajan, atau bila sedang tidak punya uang harus rela berpuasa.

Kebahagiaan dan rasa syukur saya membuncah ketika setiap sore sesampai di rumah selalu mendapat sambutan mesra dari istri terkasih dan putra mungil saya yang dengan celoteh riangnya. Benar-benar lelah sehari mbecak seketika pupus melihat tawa ceria putra kami yang baru berusia empat bulan ini menggeliat manja dalam gendongan saya. Oh ya, perkenalkan istri saya – dia perempuan yang pada menjelang natal tahun lalu saya antar ke dukun untuk menggugurkan kandungannya. Puji syukur, berkat kasih Gusti, perbuatan dosa kami tidak terlaksana. Si Ibu berhasil diselamatkan, demikian pun dengan bayinya berhasil melalui proses persalinannya dengan lancar dan lahir sehat – kini menjadi anak saya. Hari ini saya pulang cepat, karena mau bersiap-siap dandan ngganteng malam nanti mau berangkat misa malam natal, bersama istri dan anak lanang terkasih. Berkah Dalem.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Posted Desember 31, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , , ,

BECAKKU SAYANG BECAKKU MALANG   Leave a comment

Dear Pembaca,

 

Perkenalkan, saya seorang tukang becak. Bukan dari keluarga berada, karenanya kondisi kehidupan saya kini pun seadanya, apa adanya – maksudnya, apa yang kebetulan ada untuk hari ini, patut disyukuri. Pernah suatu hari sama sekali saya tidak beroleh pelanggan yang mau menggunakan jasa becak saya, bagaimanapun saya bersyukur – setidaknya becak ini tidak pernah rewel menambah beban untuk servis atau perbaikan. Jadi penarik becak itu harus sabar, terlebih di tengah semakin ketatnya persaingan, baik sesama tukang becak, tukang ojek, angkot, termasuk angkot dan ojek online. Puji syukur belum ada becak online menjadi kompetitor saya.

Hari ini, lewat tengah hari akhirnya saya mendapat penumpang seorang perempuan. Sampai tujuan, saya angkat tinggi roda belakang becak demi memudahkannya turun – mengingat dirinya sedang hamil. Dia menyerahkan selembar uang, meminta ditunggu saat saya mengaduk kantung tas yang melingkar di pinggang saya bermaksud hendak mencari kembalian. Belum lama saya menunggu, terdengar lengkingan jeritan kesakitan. Kembali terdengar jeritan kedua, ketiga. Pintu terkuak keras, perempuan penumpang saya terhuyung berlari ke arah saya, terlihat darah pekat berleleran di kedua kakinya membasahi dasternya. Serta merta saya songsong ia, saya bopong menaikkannya ke becak. Pingsan dia – saya panik.

Saya kayuh becak mencari rumah sakit terdekat. Tidak adanya selembarpun tanda pengenal identitas padanya membuat saya kebingungan. Di IGD, saat petugas menanyakan keluarganya, di dalam kekalutan saya jawab saya keluarganya. Ditanya lebih lanjut hubungan dengan pasien … spontan saya jawab kalau saya suaminya. Saya melongo saat menerima selembar kertas yang menampilkan deretan angka harga obat dan perlengkapan rawat inap yang saya terima dari petugas IGD yang semuanya harus ditebus di muka. Dalam bingung saya meminta izin petugas keluar sebentar mengambil uang. Saya benar-benar bingung, kemana saya bisa dapatkan uang dalam waktu cepat. Saya pandangi becak saya dalam-dalam dan lama. Saya elus dan saya ciumi becak saya sebelum akhirnya saya bawa ke juragan becak, menggadaikannya. Bergegas saya kembali ke rumah sakit. Dengan menumpang ojek, di perjalanan saya melewati gereja, terdengar lamat-lamat lagu Putri Sion, Nyanyilah : Putri Sion nyanyilah | soraklah Yerusalem. Mari sambut Rajamu … Dalam batin terdaraskan doa, mohon ampun tidak hadir misa kali ini – sekaligus di masa adven ini, saya panjatkan doa untuk keselamatan penumpang saya dan bayinya.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Pentigraf ini termasuk karya yang terdapat dalam buku “Semangkuk Sup di Malam Kudus”

Posted Desember 31, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , , ,

Siapa Aku (Aku dalam Persepsimu dan yang Lain)   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam keseharian, tidak sedikit kita menemukan atau bahkan mengalami tentang perbedaan sebuah persepsi. Persepsi sangat sering seolah menjadi stigma atau legalisasi atas sebuah anggapan atau opini pribadi. Tidak salah dan sah-sah saja, toh persepsi tidak menuntut lahirnya sebuah konsekuensi materiil maupun moril bagi pemiliknya. Yang masalah, kerapkali pesepsi itu bila menyangkut pribadi sangat bisa dipastikan bersinggungan dengan ego atau keakuan demi sebuah aktualisasi.

Seperti dalam sebuah “diskusi hangat” yang saya temukan dalam sebuah media sosial. Dalam sebuah status, si pengumpan status secara satir mengungkapkan keraguannya akan reliabilitas sebuah buku yang baru terbit. Eksplisit meragukan hasil riset dan kurasi dari buku yang baru dibelinya. Bisa ditebak, dengan mahadaya power-nya sosial media. Status tersebut melahirkan beragam opini baik dari yang pro maupun kontra dengan pengumpan isu (status).

Bukan hal aneh, karena saya sendiri juga adakalanya nyaris terjebak sangat ingin meleburkan diri saya dalam diskusi-diskusi hangat tersebut, namun nyaris selalu saya abaikan dan cukup memilih menjadi pemerhati saja. Kenapa ? Ya karena selalu tidak tuntas dan dibiarkan menggantung, tidak ketahuan siapa pada akhirnya yang menang (mohon maaf, dalam dunia maya saya alergi kata “siapa benar dan siapa salah”) 🙂

Sebelum terlanjur menjadi gunjingan, berikut saya share saja rekoleksi pribadi saya berikut ini :

24831282_10211566176490266_168924270232676713_o

Nilai hidup(ku) dalam perspektif mereka tentang(ku) kita

Dalam sebuah perbincangan, seru tengah dan sedang dibahas tentang siapa layak dan sebagai tidak layak atau belum tepat waktu untuk saat ini.
Bukan serta merta, karena ada yang menjadi rujukan, dan repotnya rujukan literasi memulainya. Sebuah buku terbit… Ada rasa tercipta bermula karenanya. Hati pun menakar nakar nalar

Aku menyukai literary dan menghabiskan berpenggal penggalan usiaku untuk berliterasi, apakah berarti aku lebih seorang literer daripada mereka, sehingga namaku seharusnya tercatat dalam sebuah register, bukan mereka sebagaimana justeru terlisting? …

Literary dengan kegiatannya yaitu sebuah kerja batin, karena hatilah yang berkarya cipta. Lalu siapa berhak menilai kedalaman hati batin? Maka sehatilah kita bila sebagaimana orang lain memandang itulah jawabmu.

Penyair
tentang syair
Siapa penyair
Syair tentang rasaku
Ya rasaku bukan pula rasamu
Karena rasa dia atasku atau tentangmu mutlak miliknya entitas publik

Dengan catatanku ini, kutahu ada yang menakarku seorang pengamat atau komentator atau sebagai representasi golongan kaum penyinyir … Mungkin ada yang melewatkannya sama sekali … Akupun berhak penuh menilaiku sendiri sebagai apa.

Aku cuma mau katakan
Jauh sebelum aku masuk dan meleburkan jiwaku ke dalam keliterasian …
Sekali lagi hakiki bahwa setiap hati berhak dan boleh memiliki perpektifnya tentang aku

Di kedalaman sudut perspeksi pandangnya yang di matanya aku sebagai Widi jauh hari sebelum metamorfosaku menjadi Ben Sadhana, Akulah Penyair Handal menurutnya.

Lantas benarkah aku seorang penyair?
Adakah dalilku atau dalilmu dan dalil mereka menolaknya?

Cukuplah bagiku mengaminkan
secarik kecil kertas mengandung nilaiku di matanya … Amin, dariku.
Dan aminku untuk penilaian dan perspeksi lain dari mereka yang lain tentangku.

Siapakah aku?
Akulah aku.
Untukku, cukuplah itu …

 

Salam bentoelisan,

Ben Sadhana

[Pentigraf] NYANYIAN SEORANG IBU   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam posting kali ini Mas Ben sajikan sebuah karya cerpen tiga paragraf (Pentigraf).

Selamat menikmati 🙂

 

NYANYIAN HATI SEORANG IBU

Ben Sadhana

 

Perempuan itu histeris di menara BTS, mengancam akan melompat. Wajah-wajah panik bersemu kengerian hilir mudik di bawah dan sekitar lokasi BTS. Terlihat dua orang menaiki menara berusaha membujuk agar perempuan itu mau turun. Kepanikan semakin menjadi ketika ia semakin naik. Bukan lagi menangis, melainkan tertawa-tawa keras, dan mulutnya meracau seperti melagukan nyanyian yang tidak jelas.

“Turun Nduk, eling”, teriakan seorang perempuan tua yang baru hadir. Ia datang tergopoh-gopoh ditemani dua orang pria. “Nyebut Nduk, eling anakmu masih kecil.” Kembali perempuan itu merajuk mengiba. Sejenak perempuan di atas menara menghentikan tawa dan nyanyiannya, memandang ke bawah – ke arah perempuan tua. “Anakku sudah mati, aku juga mau mati,” jeritnya. Kemudian terdengar tangisnya yang menyayat hati. “Ini anakmu, Nduk. Cepat turunlah,” kembali wanita tua mengiba memohon sambil mengunjukkan boneka yang terbungkus kain, memunculkan keheranan orang-orang yang ada.

Tiba-tiba angin berembus kencang, membuatnya kehilangan keseimbangan. Kini tubuhnya bergelantungan dengan satu tangan, satu tangannya lagi menggapai-gapai berusaha meraih pegangan, menambah dramatis suasana. “Raih tangan saya,” teriak petugas PMK yang didatangkan untuk menolongnya. Sedikit ragu – ragu perempuan itu memandang petugas, perlahan tangannya terulur … jarinya sudah menyentuh ujung jari petugas ketika seekor burung gagak melintas di antara keduanya. “Oh, Tuhan !” Spontan pekik petugas. Wajahnya dipalingkan, tidak kuasa menyaksikan tubuh perempuan itu melayang meluncur deras ke bawah. Hingga didengarnya pekik kelegaan orang-orang di bawah. Perempuan itu selamat. Tubuhnya jatuh tepat di atas jaring yang telah dibentangkan dengan enam orang memegangnya. Dari ketinggian dilihatnya perempuan itu kini dengan boneka dalam gendongannya, patuh ketika dua orang yang datang bersama perempuan tua itu membimbingnya menuju mobil putih yang akan membawanya kembali ke rumah sakit jiwa.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Posted November 17, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , ,

[Buku] LELAKI YANG TUBUHNYA HABIS DIMAKAN IKAN-IKAN KECIL   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dengan rasa syukur, kembali Mas Ben infokan adanya buku baru yang di dalamnya ada karya pena Mas Ben. Kali ini bertajuk “Antologi 25 Cerpen Pesisir Nusantara”. Sebagaimana judulnya, buku ini berisi 25 cerita pendek dengan topik seputar kondisi sosial, ekonomi serta permasalahan yang ada di daerah pesisir.

Buku ini menjadi menarik, karena para penulisnya mengambil perspektif yang berbeda dalam bercerita, meski dengan sentral topik yang sama. Diperkuat dengan latar para penulisnya yang beragam; wartawan, esais, sastrawan, penyair dari tingkatan generasi yang berbeda. Karenanya bila disejajarkan dengan karya lukis, maka dalam buku ini, pembaca akan dipertemukan dengan karya yang beraliran realis hingga surealis.

Penasaran, silakan bagi yang berminat bisa menghubungi langsung Mas Ben. Kebetulan saat ini tersisa 5 (lima) eksemplar di Mas Ben, yang bisa dipesan oleh pembaca yang ingin menambah koleksi perpustakaan keluarganya 🙂 Monggo.

23550317_10211423089713186_4124708517857648789_o

Spesifikasi buku :

Judul : “Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil

Dimensi   : 13,5 x 20 cm
Halaman : xxi + 220
Penerbit   : Rumah Pustaka
ISBN         : 978-602-5557-08-8

 

Salam Literasi

Ben Sadhana

Kita Bicara Tentang Kepedulian   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam post kali ini, Mas Ben tampilkan tiga karya puisi Mas Ben, yang kebetulan juga dimuat dalam Litera Magazine pada 25 Oktober lalu.

Puisi-puisi yang tampil kali ini berjudul : Kita Bicara Tentang Kepedulian, Tua, dan Embun.

Selengkapnya sebagai berikut,

 

KITA BERBICARA TENTANG KEPEDULIAN

 

Aku sering dengar soal kepedulian terucapkan

Kepedulian yang entah asal mulanya

Sekejab menjelma kepedulian yang jamak

Ada kebanggan heroisme di dalamnya

 

Darimu, darinya, dari mereka, dariku sendiri

Belarasa, pendoktrinan, pemulihan, pembalasan

Nafsumu, nafsunya, nafsu mereka, nafsu kita

Menyatu dalam syahwat yang membias

 

Engkau punya kepedulian

Dia punya kepedulian

Mereka punya kepedulian

Aku punya kepedulian

 

Engkau menentangku

Dia menentangmu

Mereka menentang kita

Dan kita pun bertentangan

 

Kau peduli karena dia saudaramu

Dia peduli karena mereka sekongsi

Mereka peduli karena kita seperjuangan

Kita pun kembali terpecah

 

Kita berseberangan

Kita bersitegang

Kita bersekutu

Kita berselisih

 

Pernahkah sejenak kita berpikir

Untuk apa dan siapa kah sesungguhnya kepedulian itu

Mengapakah kepedulian itu menjadi sekuler dan sektarian

Mengapakah kepedulian itu tidak satu

 

Masih adakah kepedulian

Jika karenanya saudara kita tersakiti

Masihkah layak kepedulian

Jika karenanya kita mengabaikan yang tidak sedogma

 

Mengapakah kepedulian menjadi tidak adil

Ketika pekik kepedulian bukan juga untuk mereka

Meski mereka terima penindasan dan derita yang sama

Mengapa kepedulian menjadi tendensius dan tidak menerus

 

Kita hadir melalui jalan rahim yang berbeda

Namun Esa yang meniupkan ruh kepada kita

Kita hadir kini berkat adanya cinta kasih

Hukum tunggal yang semestinya engka maklumkan

 

Di manakah pedulimu bila ada rasa berhak memilih

Bisakah engkau jelaskan secara jernih

Aku bukan sedang ingin menghakimimu

Sebab kita sedang berbicara tentang kepedulian

 

 

Ben Sadhana

 

TUA

 

Tua itu identik dengan kusam,
Lihatlah kota tua di kotamu

Tua identik dengan jaman dulu,
lihatlah monumen monumen di kotamu

Tua itu aneh,
Lihatlah jika kau berkeliling kota dengan sepeda onthel,
dan busana komprang

Tua itu tinggal kenangan,
Lihatlah puing puing loji dan candi yang tidak terawat
rapuh tergerus waktu

Tua itu jelek,
Lihatlah bejana jiwa yang terbungkuk,
Tertatih dan lemah

Tua itu menyakitkan,
Lihatlah segala simbol kebesaran
itu perlahan menjauh

Tua itu sepi
Lihatlah keheningan itu
di bilik panti wredha

Membuatku takut
Ingin berlari namun kaki ini terkunci
Ingin berteriak namun mulut ini tercekik

Sekonyong konyong
Sayup sayup aku mendengar suara
merdu membelai telingaku
Melekat terasa meski aku
telah terjaga dari buaian nyenyakku

Tua itu indah, kekal
Keindahan tidak muncul dipandang
melainkan dirasakan
dinikmati

Tua sudah pasti datang
Tua hanya selembar kulit
Tua itu sebuah perubahan pasti
menuju peleburan dengan semesta
menuju keabadian

Lihatlah prasasti itu
Tua namun dikenang dan meneladan
Bagi bejana bejana muda
dalam perjalanan menuju ketuaannya
hingga menjadi indah pada akhirnya

Warisan abadi
tuk generasi berikutnya

Menuju tua itu bukan menuju akhir,
Menjadi tua itu permulaan baik
bagi anak anak kita
Menyambut musim panen
menuai benih yang telah kita tanam
di masa kita

Dan
Kita akan merasakan indahnya
pernah menjadi muda

 

Ben Sadhana

 

 EMBUN

 

Embun bening menyapa
kemilau membuai netra
mengalirkan sejuk sanubari, menyegarkan raga

Mengejawantahkan jejak jejak kontemplatif
Tanah semak daun menggelinjang
Dijejak kaki berpesta

Embun
bening
sejuk
segar
Bening di setiap wadahya
menyegarkan sekeliling
menyemburatkan kedamaian
di relung relung kehidupan

Oh embun
segala berkat keindahan
kerinduan mendayu tak tertahan
hingga hadirmu

Embun
bening
sejuk
segar
belailah jiwa ini
rengkuhlah
jadikankanlah
bening sejuk segar

Membeningkan
menyejukkan
dan menyegarkan

 

O Embun
bening
sejuk
segar

 

Ben Sadhana

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Posted November 3, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , ,

%d blogger menyukai ini: