BENTOELISAN
Tegas – Lugas – Ringkas – Cerdas

Okt
19

Dear,

PADA DETIK TERAKHIR, demikianlah tajuk buku Kumpulan Cerpen Duet yang akan diluncurkan di Semarang pada 11 Nopember 2017 yang akan datang ini.

Barangkali istilah cerita pendek (cerpen) sudah cukup jamak dikenal, namun bagaimana halnya dengan Cerita Pendek Duet ? Apa maksudnya ?

Ya, cerita pendek duet adalah sebuah cerita pendek yang dibangun dan dikerjakan oleh dua orang cerpenis (penulis). Kedua penulis, menuangkan imajinya secara liar — ya liar, karena keduanya sama sekali tidak sedang berada di tempat dan waktu yang sama. Kisah cerpen duet ini dikerjakan secara tandem bergantian paragraf per paragraf. Jadi melalui kalimat-kalimat yang tersaji pada paragraf pertama-lah cerita itu selanjutnya mengalir secara alamiah dan liar seturut imaji masing-masing penulisnya. Kedua penulis juga tidak saling menebak akan adanya tokoh-tokoh baru yang kemudian muncul di perjalanan kisah maupun yang dihilangkan dalam pertengahan kisah. Kedua penulis sama-sama tidak bisa menebak ending cerita yang sedang digarap berdua, maupun kelanjutan / kejutan-kejutan yang akan disajikan oleh penulis pasangannya di setiap poragrafnya.

Kunci keberhasilan cerpen duet ini yaitu terletak pada kekuatan paragraf pertama yang menjadi kunci tersajinya alur cerita yang apik dengan segala konflik yang terbangun di dalamnya, tentu juga didukung oleh kuatnya karakter para tokoh cerita yang diciptakan oleh kedua penulisnya — penulis yang dipertemukan dalam proyek cerpen duet, yang bahkan sebelumnya tidak pernah bertemu atau saling kenal satu dengan lainnya. Menarik bukan ?

22553189_10211221587995769_1960192612047709682_o

Buku Antologi Cerpen Duet “Pada Detik Terakhir”, menampilkan 40 kisah cerpen duet terpilih dari 34 penulis, yaitu : Tengsoe Tjahjono, Benedikt Agung Widyatmoko (Ben Sadhana), Julia Utama, Alfred B. Jogo Ena, Deny Ketip, BE Priyanti, Tantrini Aandang, Maria Lupiani, Yusup Priyasudiarja, Johny Barliyanta, Irene Roostini, Yosep Margono, Iskandar Noe, Caecilia Joel, Celly Kwok, Demitria Budiningrum, Robertus Sutartomo, Adrian Diarto, Megawati Lie, Agnes Kinasih, Emmelia Meitry, Eulalia Adventi Kesiyanti, Pak Kokok, Sri Widati, dkk.

Sebuah buku yang sangat layak dibaca dan menjadi koleksi, khususnya mereka para penikmat sastra.

Tunggu apa lagi ?

Buku apik dengan spesifikasi :

  • Harga Rp. 120.000,00 (seratus duapuluh ribu rupiah) + ongkos kirim
  • Ukuran : 14×21 cm
  • Jumlah halaman : 448
  • Penerbit : Bajawa Press

Telah bisa dipesan awal (Pre-order), langsung melalui Nomor WA/Telegram/Line : 081803107847.

Selamat menikmati 🙂

 

Salam Bentoelisan,

Ben Sadhana

Iklan
Okt
06

Dear,

22104383_10211105364850263_4153426828818909142_o

Saya suka membaca, karenanya saya menyukai buku. Kesukaan saya pada buku melebihi daya kebertaklukan saya kepada hasrat jajan makanan. Meskipun saya suka makanan dan camilan, jika pada kesempatan yang sama ada buku sebagai opsi pilihan, maka dipastikan saya akan memilih buku — mengesampingkan makanan yang melambai-lambai menghiba meminta saya pilih.

Bersama dengan buku, bisa membuat saya berbetah berlama-lama terlarut dalam keasyikan baca. Asyik ? Ya, sangat mengasyikkan. Dengan membaca selain memanjakan mata dan batin saya saat meresapi nikmatnya menu literasi yang disajikannya, pada saat yang sama di kesempatan membaca saya pun bisa menggapai kenikmatan ragawi yang luar biasa. Saya bisa merasakan betapa nikmatnya menghirup aroma harum kertas buku, merasai halusnya bulu-bulu lembut kertas, menikmati ujung jemari saya mempermainkan sisi-sisi kertas buku yang masih tajam, membiarkan jemari saya mengusap-usap sudut-sudut kavernya demi mempertahankan menghindarkannya dari menjadi terbelah dan tumpul — benar-benar saya rasakan ekstase yang luar biasa dibuatnya.

Memang tidak dipungkiri, kehadiran buku-buku kertas — yang semakin hari semakin banyak ini — membutuhkan ruang yang cukup untuk menampungnya dengan layak agar selalu terjaga baik kondisi fisiknya. Lalu timbul pertanyaan, mengapa saya tidak mengalihkan saja minat membaca dan selera saya kepada buku-buku digital (e-book) ? Lebih ringkas dan efisien — lebih mobile, pastinya.

Sebagaimana telah saya sampaikan di awal tulisan, saya sangat menikmati bersentuhan dengan fisik buku kertas. Namun sesungguhnya ada hal lain yang tidak kalah penting, dan menurut saya ini prinsipil. Melalui buku kertas (printing), saya bisa merasakan secara pribadi kehadiran ruh dari penulisnya yang hadir, dan saya pun bisa merasakan mengalami keterlibatan saya dalam kisah buku yang sedang saya baca — merasa seperti berada di antara para tokohnya yang sedang berkonflik. Entah mungkin karena dengan buku cetak, saya bisa memilih spot dan posisi baca senyaman saya — beda dengan saat saya membaca buku digital, dimana mata dan tubuh saya yang harus menyesuaikan diri dengan perspeksi layar gawai pemuat buku digital — masuk akal bila saya merasa ditarik masuk ke dalam kisah buku.

Namun akhir-akhir ini saya sedikit terusik dengan munculnya pemberitaan tentang bergugurannya nama-nama besar media pewarta, yang harus ikhlas menggulung tikar usahanya yang telah berpuluh tahun berkiprah — disebabkan pergeseran selera menuju digital.

Atas fenomena tersebut, disamping kekuatiran akan semakin terkikis menuju punahnya buku-buku cetak sebagaimana kaset-kaset pita lagu yang keberadaannya kini tidak lagi terendus  berikut kemegahan toko-tokonya yang di masanya begitu gemerlap indah menghiasi sudut-sudut pusat perbelanjaan, saya juga kuatir kebanggaan dunia literasi akan turut punah. Tidak ada lagi bukti fisik kekayaan intelektual dari seorang penulis yang dengan segala kebanggaannya menjadi saksi buku-bukunya dicetak ulang oleh penerbit, membanjiri pasar sesuai segmennya.

Saya memiliki beberapa buku digital (e-book) yang tersimpan di flash  disk. Namun sungguh, saya tidak bisa merasakan kebanggaan menyimpannya. Dengan buku digital saya tidak bisa sekaligus menyimpan nilai sejarah dari buku tersebut. Saya tidak bisa merasakan bahwa buku itu benar-benar buku yang usianya sudah tua dan langka di pasaran. Semuanya terbenam dalam benda kecil yang namanya falsh disk.

Ide penulisan ini pun lahir tatkala saya sedang menikmati memandangi susunan buku yang tertata di rak utama buku saya, menempatkan koleksi buku baru ke dalamnya, dan menarik memindahkan lokasi simpan untuk buku-buku lama yang sudah selesai saya baca.

Sungguh indahnya rasa tatkala menikmati secara ragawi buku-buku.

 


 

Salam

Ben Sadhana 

 

Sumber gambar dari koleksi pribadi

 

Sep
30

Dear,

Dalam kesempatan ini Mas Ben Sadhana menampilkan 5 (lima) karya puisinya tentang Gua Pindul di Wonosari – yang diikutkan dalam Lomba Cipta Puisi PINDUL BERSAJAK, sebagai berikut :

 

PINDUL  I

Pindul pesona alam Wonosari

Begitu mereka menyebutmu

Alam dan transenden melebur bersama

Pindulmu Pindulnya Pindul mereka dan Pindulku

Bebatuan bertalu

Stalagmit dan stalagtit berkilauan

Dalam bayuran beningnya tirta

Tampilkan mutiara surgawi

Pindulmu Pindulnya Pindul mereka dan Pindulku

Mata air inspirasi bagi segala makhluk

 

PINDUL II

Aku wartakan pada kalian

Aku hendak ajak kekasihku ke Pindul

Kukatakan Ingin aku meminangnya di sana

Ah, usahlah kautanyakan mengapa

Aku tahu tanpa perlu kau mengatakan

Romantisme macam apakah hendak kutawarkan

Ketika akan kuperhadapkan kepada kekasihku

Bebatuan dan air

Gelap dan pengap

dan ribuan kampret yang berhamburan terusik oleh kami ?

Wahai engkau Kekasihku,

Usahlah engkau hiraukan mereka, Kekasihku

Sebab kepadamu aku hendak tunjukkan

Betapa besar cintaku kepadamu

Biarlah pinangan cintaku ini kau terima

Dengan air dan bebatuan yang beriang ria menyaksikan

Serta paparan sinar surgawi sebagai peneguh cinta kita

Yang akan kita alami berdua saja

Hanya engkau dan aku saja

dan kehadiranNya merestui

di kedalaman garba Pindul

 

 PINDUL III

 Dari Bejiharjo Engkau hadir

Pindul namamu

Tentang pesonamu tlah banyak kudengar dari khalayak

Tentang legendamu

Tentang mitosmu

Tentang muasal namamu

Bahwa ada keindahan surgawi padamu

Kucanangkan asa dan waktu tuk kunjungimu

Kan kurasakan sejuk airmu

Kan kunikmati kilauan bebatuan mutiaramu

Kan kuhayati suaraku berpantulan bergaung-gaung memuji asmaNya

Kan kusaksikan satwa penghunimu berpesta

Hingga kan kualami keindahan surgawimu

Di garba pertiwiku

 

PINDUL IV

Pindul

Konon bermula dari kisah perjalanan duta

Dua sentana setia Mataram menjunjung dhawuh Sinuhun

Percintaan terlarang melatari

Buah cinta suci pun harus dikorbankan

Kehidupan tetap harus berlanjut

Dosa yang hendak tercipta terbasuh kesucian airmu

Ah, Pindul

Saksi setia kebesaran cinta kasih

 

PINDUL V

Pindul pipi kebendul

Benarkah ?

Ah, sudahlah

Kini Pindul masyur

Oleh kuat sihir pesonanya

Lestarilah elokmu

Wartakan inspirasi ke penjuru persada

 


 

Salam

Ben Sadhana

 

Sep
27

Dear,

Maraknya kasus OTT dan perseteruan antara DPR dengan KPK, menyeret kenangan saya kepada catatan saya pada Februari 2010. Sebuah renungan ringan yang masih relevan menjadi bahan rekoleksi bersama saat ini. Beberapa nama dan kasus pada catatan disesuaikan kondisi terkini. Mari …


Sebagaimana yang sudah-sudah pasca kerja bakti, minggu siang ini Pak RT mendapat kehormatan menyediakan teras dan halaman rumahnya yang asri menjadi balai istirahat para warganya melepas lelah. Meski harus menyisihkan dana untuk jamuan, bagi Pak RT pelayanannya ini merupakan suatu kehormatan. Dia tidak merasakan rugi sedikit pun, justeru sebaliknya dia merasa diuntungkan. Dengan pelayanannya yang tanpa pamrih itu berbuah baik, yaitu warganya menjadi taat aturan dan sungkan untuk bertindak di luar norma. Dalam kepemimpinan Pak RT Kusno, lingkungannya telah berkali-kali meraih prestasi di tingkat kelurahan. Di antaranya lingkungan RT dengan tingkat buta aksara 0, prestasi pendidikan anak-anak terbaik, lingkungan dengan tingkat partisipasi kegiatan terbaik, juara gerak jalan ibu-ibu PKK dan anak-anak se-kelurahan. Bukti paling nyata berkat kepemimpinan Pak Kusno yang bersahaja adalah tidak adanya warga yang alpa dalam setiap kegiatan kerja bakti.udah menjadi agenda di lingkungan RT Mas Ben tinggal, setiap hari Minggu pertama setiap bulannya pasti diadakan kerja bakti. Tidak muluk-muluk, setiap warga hanya diimbau untuk melakukan pembersihan di lingkungan sekitar rumahnya masing-masing. Namun demikian program rancangan Pak RT ini cukup tokcer untuk menjadikan lingkungan yang dipimpinnya senantiasa tampak bersih gilar-gilar. Hal lain yang juga penting adalah dengan kegiatan rutin bulanan ini, berdampak kepada hubungan sosial antar warga menjadi semakin erat dan akrab.

“Wah Mbah Samto anteng banget.” Celetuk Mas Kasturi yang melihat Mbah Samto asyik dengan selembar koran di tangannya.

“Ada berita yang menarik po Mbah ?” Si Jiyo menimpali.

“Ah paling ya masih itu-itu saja beritanya, tentang kriminal dan Pansus hak angket.” Balas Kang Darno.

“Iya, itu berita Pansus belum selesai-selesai ya ?” Lik Promo melirik Mbah Samto yang masih tetap dengan keseriusannya membaca koran, mengeja kata larik demi larik.

“Mbah Samto ki piye to, diajak ngomong dari tadi koq diam saja nggak nggubris babar blas.” Kata Mas Ben gemas.

“Ini lho Mas Ben, berita tentang OTT. Kalau berita tentang Bang Kasturi aku sudah bosen.” Jawab Mbah Samto.

“Mbah Samto ki ncen ngefans banget sama aku kok.” protes Mas Kasturi yang merasa diledek, disambut gelak tawa oleh Bapak-Bapak termasuk Pak RT.

“Sudah-sudah, kasihan Mas Kasturi wajahnya sampe merah seperti kepiting rebus.” bela Pak RT yang tidak tega melihat Mas Kasturi yang mulai dilanda krisis pede itu.

Tampak Bu RT dan puterinya, Mbak Ranti keluar dari ruang tengah.

“Wah ini yang ditunggu-tunggu muncul. Ayo Bapak-Bapak, seadanya saja ya, silakan dicicipi nogosari buatan Bu RT.” Penawaran pak RT yang langsung disambut hangat oleh mereka yang ada. Tidak perlu waktu lama, nogosari sejumlah enam piring berubah wujud menjadi onggokan daun pisang.

“Korupsi dan penyuapan, koq seperti tidak ada habisnya to di negeri kita ya ?” Ujar Kang Darno. “Apa sudah takdirnya negeri kita, penuh dengan koruptor dan penyuap.” Lanjutnya.

“Lho koq trus mutung begitu to Kang Darno, jangan pesimis ah.” Goda Mas Ben.

“Lho lho lho, jadi anget to gara-gara korupsi.” Ucap Pak RT sembari tersenyum.

“Lha memang kenyataannya para penegak hukum kita itu selalu kecolongan je sama para koruptor itu. Bagaimana Pak RT ?” Sela Mbah Samto – “Belum lama Walikota Tegal, Walikota Malang, Walikota Batu, Walikota Cilegon … malah paling spektakuler petinggi DPR terbelit kasus e-KTP yang melahirkan paranoia para anggota dewan yang merasa mulia itu, hingga memaksakan hak angket … – eee sekarang Bupati Kukar yang ayu kinyis-kinyis seperti ini ikut-ikutan ketangkap.” Mbah Samto geleng-geleng kepala.

“Sebenarnya masalah korupsi dan penyuapan ini sudah lama ada. Sejak jaman kerajaan dengan budaya upeti berupa hasil bumi yang diwajibkan untuk rakyat kepada junjungannya. Bahkan pada jaman putera-puteri Nabi Adam pun praktek korupsi telah ada, dilakukan oleh Kabil yang mengurangi persembahan kepada Tuhan. Dia memberikan persembahan bukan hasil ternak terbaiknya. Beda dengan Habil saudaranya yang memberikan hasil panen terbaiknya kepada Tuhan.” Pak RT berhenti sejenak. meraih segelas teh panas, menyesapnya – “Di masa sekarang pun entah sengaja atau tidak, kita pun sering lho melakukan korupsi lho.” Penjelasan Pak RT yang disambut ekspresi melongo dan saling pandang warganya.

“Begini maksudnya,” lanjut Pak RT yang melihat banyak warganya menjadi bingung. – “Mungkin kita pernah menyimpang dari amanah. Ketika dipasrahkan sejumlah uang kepada kita untuk pembelian konsumsi sebuah acara misalnya, kita tidak belanjakan semua. Contoh lain, bila di kantor kita kebetulan mendapat tugas berbelanja, kita menerima keuntungan dari selisih harga pembayaran dengan nilai yang tertulis di kuitansi.”

“Padahal yang jelek-jelek itu bikin ketagihan dan jadi kebiasaan ya Pak RT, kalau tidak ketahuan.” tukas Mbah Samto.

“Betul.” Jawab Pak RT. – “Untuk kasus-kasus korupsi dan penyuapan besar seperti sekarang ini, sebenarnya bukan masalah yang tidak bisa terpecahkan. Kenyataannya di negara lain pun tindakan tercela ini juga terjadi, namun bisa diminimalisasi menuju terhapus. Kuncinya hanya terletak pada ketegasan penegak hukum dari pengadil untuk memberikan efek jera, sehingga tidak terulang dan menular perbuatan korupsi dan penyuapan itu.”

Pak RT melirik Mas Ben, “Ayo Mas Ben, biasanya banyak ide. Bagaimana Mas biar budaya korupsi dan menyuap bisa dihilangkan di negeri kita ?”

Mas Ben yang tengah asyik mengudap nogosari dan the manisnya tergagap mendapat operan pertanyaan dadakan dari Pak RT.

“Eh … ya, anu … begini. Sependapat dengan Pak RT. – Sebenarnya tergantung niatnya saja koq. Andaikan saja para penegak hukum dan pengadil itu mampu bersikap adil dan tegas pasti praktek korupsi dan penyuapan itu akan bisa diatasi.”

“Lha caranya bagaimana Mas Ben ? Potong Pak RT.

“Kita kan pernah mengetahui terhukum Jaksa Oerip divonis duapuluh tahun kurungan, sementara sangat banyak terhukum lainnya yang cukup divonis dua tahun kurungan saja. Mengapa tidak disamaratakan saja masa hukumannya, ya to ?”

“Atau dihukum mati saja seperti di China ya Mas Ben ?” kata si Jiyo.

“Tidak harus dihukum mati. Mematikan orang itu hak mutlaknya Tuhan lewat malaikat pencabut nyawaNya. Lagipula hukuman mati bisa menambah dosa, bila hukuman itu batal dilaksanakan. Bayangkan, vonis mati sudah dijatuhkan, namun karena Tuhan belum menggariskan batas ajalnya, belakangan si terhukum mendapat pengampunan remisi karena ada bukti baru yang mementahkan dakwaan kepadanya. Sementara orang di kita itu paling mudah digiring opininya, pasti langsung mencap buruk kepada seseorang karena opini publik, ditambah kekuatan media yang powerfull memberikan asumsi bersalah walau belum terbukti. Hukuman mati batal, sementara rasa dendam dan kebencian masih mengendap di dalam hati, belum bisa memaafkan dan menerima kenyataan. Kan dosa to itu namanya ?”

Tampaknya Mas Ben mampu menyihir warga yang berkumpul di rumah Pak RT dengan “khotbahnya” itu.

“Jadi, ndak usah memaksakan pemberlakukan hukum mati kepada para pelaku korupsi dan penyuapan, hukum saja dengan hukuman moral. Misalnya, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan jajarannya menerapkan kesetaraan hukum dengan membuat tabel bobot hukuman. Tidak ada hukuman maksimum, semua disamakan. Bila ada yang berani memvonis 20 tahun, ya jadikan itu sebagai patokan hukuman, tidak peduli besar-kecilnya uang yang dikorupsi.”

Mas Ben berhenti sejenak berkata-kata. Diraihnya gelasnya dan direguknya teh yang tersisa di dalamnya.

“Tidak cukup itu saja. Bila sudah berpangkat terdakwa, data kependudukannya langsung diperbarui, diberikan catatan keterangan koruptor. Dengan begitu apa mereka yang mau nyoba-nyoba korupsi atau kepingin ketagihan, masih berani korupsi ? Siapa yang mau namanya masuk daftar hitam negara, dan diberi stempel koruptor di KTP-nya ? Sudah ndak bisa berkutik seumur hidup to ?” – “Bukan hanya kepada pelaku korupsi saja hukuman “pemberangusan nama” ini diberlakukan.

“Wah wah wah, berlean juga ya idenya Mas Ben.” Mbak Samto tertawa riang.

Tidak sadar diskusi akrab para warga ini sudah masuk ke waktu lohor. Seiring kumandang azan, “Maaf saudara-saudara, tetapi ngomong – ngomong sudah siang nih Pak RT. Kerja baktinya sudah selesai to, ndak ada yang mau dilanjutkan lagi ?” Sergah Pak Mardi.

Pak RT melirik jam di atas pintu ruang tengahnya yang jarumnya sudah menunjuk ke angka 12.15, “Wah iya, tidak terasa yang Bapak-Bapak. Baiklah Bapak-Bapak yang masih ada keperluan boleh kalau mau pulang duluan. Yang masih betah juga boleh tinggal dulu menemani saya ngobrol.”

Para warga saling berpamitan, meninggalkan Mas Ben, Lik Promo dan Pak RT.

Demikianlah obrolan bergaya pinggiran warga itu diakhiri di sini.

 


Salam

Ben Sadhana 

Sep
15

Dear,

SANG KALA

Pagi merekah menebar asa
Pasangan serindit mencericit riang
Janganlah pagi sempat berakhir
Tatkala hati mendung menyongsong siang

Siang panjang menguak tabir nasib
Janganlah lega melepas siang
Sebelum hati riang penuh syukur
Mereguk segala manis indah kala

Sebab senja bersiap menyambut dalam kelembutannya
Segala hati bagi tubuh berpeluh penat bermadahkan syair ilahi
Menghantarkannya kepada malam
Penuh kesyahduan

Bulan merayu diiringi tarian bintang-bintang
Membuai meninabobokan
Jiwapun lelap dalam pelukan malam yang syadu

Perlahan sang kala tunaikan bhakti memutar lagu kehidupan

 


Salam

Ben Sadhana

%d blogger menyukai ini: