Archive for the ‘Adven’ Tag

BECAKKU MALANG ANAKKU SAYANG   Leave a comment

Dear Pembaca,

 

Saya pandangi becak saya. Ada rasa haru ketika bisa membawanya kembali pulang. Saat becak saya gadaikan, hampir setengah tahun saya beralih profesi pemulung, hingga akhirnya saya berhasil mengumpulkan cukup uang untuk bisa menebusnya. Rupanya beban hidup saya menular kepada becak saya, selama masa tergadai, becak saya disewakan untuk mengangkut bongkaran rumah, ya kaso, ya balok, ya tegel, dan genteng. Alhasil becak saya mengkis-mengkis menunaikan tugas berat itu. Bukan sekedar jog-nya yang nggembos dan terkoyak di beberapa bagian, kayuhannya pun jadi terasa tidak nyaman, karena peleg-nya yang agak mleot. Akhirnya saya mesti menebus dosa dengan membawanya ke bengkel becak ternama di kota.

Ya, saya masih tetap tukang becak, asli wong ndeso yang bangga nderek Gusti Yesus. Saya pun bahagia sempat menjadi pemulung, gara-gara becak saya gadaikan demi menebus biaya perawatan penumpang saya, di rumah sakit. Saya percaya berkah Gusti tidak pernah kendat, karena Gusti Yesus tidak pernah sare. Seperti siang ini, ketika saya bisa makan siang dari sangu yang dibekalkan oleh istri saya – jadi ngirit, tidak seperti dulu yang perlu keluar uang buat jajan, atau bila sedang tidak punya uang harus rela berpuasa.

Kebahagiaan dan rasa syukur saya membuncah ketika setiap sore sesampai di rumah selalu mendapat sambutan mesra dari istri terkasih dan putra mungil saya yang dengan celoteh riangnya. Benar-benar lelah sehari mbecak seketika pupus melihat tawa ceria putra kami yang baru berusia empat bulan ini menggeliat manja dalam gendongan saya. Oh ya, perkenalkan istri saya – dia perempuan yang pada menjelang natal tahun lalu saya antar ke dukun untuk menggugurkan kandungannya. Puji syukur, berkat kasih Gusti, perbuatan dosa kami tidak terlaksana. Si Ibu berhasil diselamatkan, demikian pun dengan bayinya berhasil melalui proses persalinannya dengan lancar dan lahir sehat – kini menjadi anak saya. Hari ini saya pulang cepat, karena mau bersiap-siap dandan ngganteng malam nanti mau berangkat misa malam natal, bersama istri dan anak lanang terkasih. Berkah Dalem.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Iklan

Posted Desember 31, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , , ,

BECAKKU SAYANG BECAKKU MALANG   Leave a comment

Dear Pembaca,

 

Perkenalkan, saya seorang tukang becak. Bukan dari keluarga berada, karenanya kondisi kehidupan saya kini pun seadanya, apa adanya – maksudnya, apa yang kebetulan ada untuk hari ini, patut disyukuri. Pernah suatu hari sama sekali saya tidak beroleh pelanggan yang mau menggunakan jasa becak saya, bagaimanapun saya bersyukur – setidaknya becak ini tidak pernah rewel menambah beban untuk servis atau perbaikan. Jadi penarik becak itu harus sabar, terlebih di tengah semakin ketatnya persaingan, baik sesama tukang becak, tukang ojek, angkot, termasuk angkot dan ojek online. Puji syukur belum ada becak online menjadi kompetitor saya.

Hari ini, lewat tengah hari akhirnya saya mendapat penumpang seorang perempuan. Sampai tujuan, saya angkat tinggi roda belakang becak demi memudahkannya turun – mengingat dirinya sedang hamil. Dia menyerahkan selembar uang, meminta ditunggu saat saya mengaduk kantung tas yang melingkar di pinggang saya bermaksud hendak mencari kembalian. Belum lama saya menunggu, terdengar lengkingan jeritan kesakitan. Kembali terdengar jeritan kedua, ketiga. Pintu terkuak keras, perempuan penumpang saya terhuyung berlari ke arah saya, terlihat darah pekat berleleran di kedua kakinya membasahi dasternya. Serta merta saya songsong ia, saya bopong menaikkannya ke becak. Pingsan dia – saya panik.

Saya kayuh becak mencari rumah sakit terdekat. Tidak adanya selembarpun tanda pengenal identitas padanya membuat saya kebingungan. Di IGD, saat petugas menanyakan keluarganya, di dalam kekalutan saya jawab saya keluarganya. Ditanya lebih lanjut hubungan dengan pasien … spontan saya jawab kalau saya suaminya. Saya melongo saat menerima selembar kertas yang menampilkan deretan angka harga obat dan perlengkapan rawat inap yang saya terima dari petugas IGD yang semuanya harus ditebus di muka. Dalam bingung saya meminta izin petugas keluar sebentar mengambil uang. Saya benar-benar bingung, kemana saya bisa dapatkan uang dalam waktu cepat. Saya pandangi becak saya dalam-dalam dan lama. Saya elus dan saya ciumi becak saya sebelum akhirnya saya bawa ke juragan becak, menggadaikannya. Bergegas saya kembali ke rumah sakit. Dengan menumpang ojek, di perjalanan saya melewati gereja, terdengar lamat-lamat lagu Putri Sion, Nyanyilah : Putri Sion nyanyilah | soraklah Yerusalem. Mari sambut Rajamu … Dalam batin terdaraskan doa, mohon ampun tidak hadir misa kali ini – sekaligus di masa adven ini, saya panjatkan doa untuk keselamatan penumpang saya dan bayinya.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Pentigraf ini termasuk karya yang terdapat dalam buku “Semangkuk Sup di Malam Kudus”

Posted Desember 31, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , , ,

%d blogger menyukai ini: