Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Siapa Aku (Aku dalam Persepsimu dan yang Lain)   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam keseharian, tidak sedikit kita menemukan atau bahkan mengalami tentang perbedaan sebuah persepsi. Persepsi sangat sering seolah menjadi stigma atau legalisasi atas sebuah anggapan atau opini pribadi. Tidak salah dan sah-sah saja, toh persepsi tidak menuntut lahirnya sebuah konsekuensi materiil maupun moril bagi pemiliknya. Yang masalah, kerapkali pesepsi itu bila menyangkut pribadi sangat bisa dipastikan bersinggungan dengan ego atau keakuan demi sebuah aktualisasi.

Seperti dalam sebuah “diskusi hangat” yang saya temukan dalam sebuah media sosial. Dalam sebuah status, si pengumpan status secara satir mengungkapkan keraguannya akan reliabilitas sebuah buku yang baru terbit. Eksplisit meragukan hasil riset dan kurasi dari buku yang baru dibelinya. Bisa ditebak, dengan mahadaya power-nya sosial media. Status tersebut melahirkan beragam opini baik dari yang pro maupun kontra dengan pengumpan isu (status).

Bukan hal aneh, karena saya sendiri juga adakalanya nyaris terjebak sangat ingin meleburkan diri saya dalam diskusi-diskusi hangat tersebut, namun nyaris selalu saya abaikan dan cukup memilih menjadi pemerhati saja. Kenapa ? Ya karena selalu tidak tuntas dan dibiarkan menggantung, tidak ketahuan siapa pada akhirnya yang menang (mohon maaf, dalam dunia maya saya alergi kata “siapa benar dan siapa salah”) 🙂

Sebelum terlanjur menjadi gunjingan, berikut saya share saja rekoleksi pribadi saya berikut ini :

24831282_10211566176490266_168924270232676713_o

Nilai hidup(ku) dalam perspektif mereka tentang(ku) kita

Dalam sebuah perbincangan, seru tengah dan sedang dibahas tentang siapa layak dan sebagai tidak layak atau belum tepat waktu untuk saat ini.
Bukan serta merta, karena ada yang menjadi rujukan, dan repotnya rujukan literasi memulainya. Sebuah buku terbit… Ada rasa tercipta bermula karenanya. Hati pun menakar nakar nalar

Aku menyukai literary dan menghabiskan berpenggal penggalan usiaku untuk berliterasi, apakah berarti aku lebih seorang literer daripada mereka, sehingga namaku seharusnya tercatat dalam sebuah register, bukan mereka sebagaimana justeru terlisting? …

Literary dengan kegiatannya yaitu sebuah kerja batin, karena hatilah yang berkarya cipta. Lalu siapa berhak menilai kedalaman hati batin? Maka sehatilah kita bila sebagaimana orang lain memandang itulah jawabmu.

Penyair
tentang syair
Siapa penyair
Syair tentang rasaku
Ya rasaku bukan pula rasamu
Karena rasa dia atasku atau tentangmu mutlak miliknya entitas publik

Dengan catatanku ini, kutahu ada yang menakarku seorang pengamat atau komentator atau sebagai representasi golongan kaum penyinyir … Mungkin ada yang melewatkannya sama sekali … Akupun berhak penuh menilaiku sendiri sebagai apa.

Aku cuma mau katakan
Jauh sebelum aku masuk dan meleburkan jiwaku ke dalam keliterasian …
Sekali lagi hakiki bahwa setiap hati berhak dan boleh memiliki perpektifnya tentang aku

Di kedalaman sudut perspeksi pandangnya yang di matanya aku sebagai Widi jauh hari sebelum metamorfosaku menjadi Ben Sadhana, Akulah Penyair Handal menurutnya.

Lantas benarkah aku seorang penyair?
Adakah dalilku atau dalilmu dan dalil mereka menolaknya?

Cukuplah bagiku mengaminkan
secarik kecil kertas mengandung nilaiku di matanya … Amin, dariku.
Dan aminku untuk penilaian dan perspeksi lain dari mereka yang lain tentangku.

Siapakah aku?
Akulah aku.
Untukku, cukuplah itu …

 

Salam bentoelisan,

Ben Sadhana

Iklan

Posted Desember 7, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal, Sastra, Uncategorized

Tagged with , , , ,

HIKAYAT KORUPSI   Leave a comment

Dear,

Maraknya kasus OTT dan perseteruan antara DPR dengan KPK, menyeret kenangan saya kepada catatan saya pada Februari 2010. Sebuah renungan ringan yang masih relevan menjadi bahan rekoleksi bersama saat ini. Beberapa nama dan kasus pada catatan disesuaikan kondisi terkini. Mari …


Sebagaimana yang sudah-sudah pasca kerja bakti, minggu siang ini Pak RT mendapat kehormatan menyediakan teras dan halaman rumahnya yang asri menjadi balai istirahat para warganya melepas lelah. Meski harus menyisihkan dana untuk jamuan, bagi Pak RT pelayanannya ini merupakan suatu kehormatan. Dia tidak merasakan rugi sedikit pun, justeru sebaliknya dia merasa diuntungkan. Dengan pelayanannya yang tanpa pamrih itu berbuah baik, yaitu warganya menjadi taat aturan dan sungkan untuk bertindak di luar norma. Dalam kepemimpinan Pak RT Kusno, lingkungannya telah berkali-kali meraih prestasi di tingkat kelurahan. Di antaranya lingkungan RT dengan tingkat buta aksara 0, prestasi pendidikan anak-anak terbaik, lingkungan dengan tingkat partisipasi kegiatan terbaik, juara gerak jalan ibu-ibu PKK dan anak-anak se-kelurahan. Bukti paling nyata berkat kepemimpinan Pak Kusno yang bersahaja adalah tidak adanya warga yang alpa dalam setiap kegiatan kerja bakti.udah menjadi agenda di lingkungan RT Mas Ben tinggal, setiap hari Minggu pertama setiap bulannya pasti diadakan kerja bakti. Tidak muluk-muluk, setiap warga hanya diimbau untuk melakukan pembersihan di lingkungan sekitar rumahnya masing-masing. Namun demikian program rancangan Pak RT ini cukup tokcer untuk menjadikan lingkungan yang dipimpinnya senantiasa tampak bersih gilar-gilar. Hal lain yang juga penting adalah dengan kegiatan rutin bulanan ini, berdampak kepada hubungan sosial antar warga menjadi semakin erat dan akrab.

“Wah Mbah Samto anteng banget.” Celetuk Mas Kasturi yang melihat Mbah Samto asyik dengan selembar koran di tangannya.

“Ada berita yang menarik po Mbah ?” Si Jiyo menimpali.

“Ah paling ya masih itu-itu saja beritanya, tentang kriminal dan Pansus hak angket.” Balas Kang Darno.

“Iya, itu berita Pansus belum selesai-selesai ya ?” Lik Promo melirik Mbah Samto yang masih tetap dengan keseriusannya membaca koran, mengeja kata larik demi larik.

“Mbah Samto ki piye to, diajak ngomong dari tadi koq diam saja nggak nggubris babar blas.” Kata Mas Ben gemas.

“Ini lho Mas Ben, berita tentang OTT. Kalau berita tentang Bang Kasturi aku sudah bosen.” Jawab Mbah Samto.

“Mbah Samto ki ncen ngefans banget sama aku kok.” protes Mas Kasturi yang merasa diledek, disambut gelak tawa oleh Bapak-Bapak termasuk Pak RT.

“Sudah-sudah, kasihan Mas Kasturi wajahnya sampe merah seperti kepiting rebus.” bela Pak RT yang tidak tega melihat Mas Kasturi yang mulai dilanda krisis pede itu.

Tampak Bu RT dan puterinya, Mbak Ranti keluar dari ruang tengah.

“Wah ini yang ditunggu-tunggu muncul. Ayo Bapak-Bapak, seadanya saja ya, silakan dicicipi nogosari buatan Bu RT.” Penawaran pak RT yang langsung disambut hangat oleh mereka yang ada. Tidak perlu waktu lama, nogosari sejumlah enam piring berubah wujud menjadi onggokan daun pisang.

“Korupsi dan penyuapan, koq seperti tidak ada habisnya to di negeri kita ya ?” Ujar Kang Darno. “Apa sudah takdirnya negeri kita, penuh dengan koruptor dan penyuap.” Lanjutnya.

“Lho koq trus mutung begitu to Kang Darno, jangan pesimis ah.” Goda Mas Ben.

“Lho lho lho, jadi anget to gara-gara korupsi.” Ucap Pak RT sembari tersenyum.

“Lha memang kenyataannya para penegak hukum kita itu selalu kecolongan je sama para koruptor itu. Bagaimana Pak RT ?” Sela Mbah Samto – “Belum lama Walikota Tegal, Walikota Malang, Walikota Batu, Walikota Cilegon … malah paling spektakuler petinggi DPR terbelit kasus e-KTP yang melahirkan paranoia para anggota dewan yang merasa mulia itu, hingga memaksakan hak angket … – eee sekarang Bupati Kukar yang ayu kinyis-kinyis seperti ini ikut-ikutan ketangkap.” Mbah Samto geleng-geleng kepala.

“Sebenarnya masalah korupsi dan penyuapan ini sudah lama ada. Sejak jaman kerajaan dengan budaya upeti berupa hasil bumi yang diwajibkan untuk rakyat kepada junjungannya. Bahkan pada jaman putera-puteri Nabi Adam pun praktek korupsi telah ada, dilakukan oleh Kabil yang mengurangi persembahan kepada Tuhan. Dia memberikan persembahan bukan hasil ternak terbaiknya. Beda dengan Habil saudaranya yang memberikan hasil panen terbaiknya kepada Tuhan.” Pak RT berhenti sejenak. meraih segelas teh panas, menyesapnya – “Di masa sekarang pun entah sengaja atau tidak, kita pun sering lho melakukan korupsi lho.” Penjelasan Pak RT yang disambut ekspresi melongo dan saling pandang warganya.

“Begini maksudnya,” lanjut Pak RT yang melihat banyak warganya menjadi bingung. – “Mungkin kita pernah menyimpang dari amanah. Ketika dipasrahkan sejumlah uang kepada kita untuk pembelian konsumsi sebuah acara misalnya, kita tidak belanjakan semua. Contoh lain, bila di kantor kita kebetulan mendapat tugas berbelanja, kita menerima keuntungan dari selisih harga pembayaran dengan nilai yang tertulis di kuitansi.”

“Padahal yang jelek-jelek itu bikin ketagihan dan jadi kebiasaan ya Pak RT, kalau tidak ketahuan.” tukas Mbah Samto.

“Betul.” Jawab Pak RT. – “Untuk kasus-kasus korupsi dan penyuapan besar seperti sekarang ini, sebenarnya bukan masalah yang tidak bisa terpecahkan. Kenyataannya di negara lain pun tindakan tercela ini juga terjadi, namun bisa diminimalisasi menuju terhapus. Kuncinya hanya terletak pada ketegasan penegak hukum dari pengadil untuk memberikan efek jera, sehingga tidak terulang dan menular perbuatan korupsi dan penyuapan itu.”

Pak RT melirik Mas Ben, “Ayo Mas Ben, biasanya banyak ide. Bagaimana Mas biar budaya korupsi dan menyuap bisa dihilangkan di negeri kita ?”

Mas Ben yang tengah asyik mengudap nogosari dan the manisnya tergagap mendapat operan pertanyaan dadakan dari Pak RT.

“Eh … ya, anu … begini. Sependapat dengan Pak RT. – Sebenarnya tergantung niatnya saja koq. Andaikan saja para penegak hukum dan pengadil itu mampu bersikap adil dan tegas pasti praktek korupsi dan penyuapan itu akan bisa diatasi.”

“Lha caranya bagaimana Mas Ben ? Potong Pak RT.

“Kita kan pernah mengetahui terhukum Jaksa Oerip divonis duapuluh tahun kurungan, sementara sangat banyak terhukum lainnya yang cukup divonis dua tahun kurungan saja. Mengapa tidak disamaratakan saja masa hukumannya, ya to ?”

“Atau dihukum mati saja seperti di China ya Mas Ben ?” kata si Jiyo.

“Tidak harus dihukum mati. Mematikan orang itu hak mutlaknya Tuhan lewat malaikat pencabut nyawaNya. Lagipula hukuman mati bisa menambah dosa, bila hukuman itu batal dilaksanakan. Bayangkan, vonis mati sudah dijatuhkan, namun karena Tuhan belum menggariskan batas ajalnya, belakangan si terhukum mendapat pengampunan remisi karena ada bukti baru yang mementahkan dakwaan kepadanya. Sementara orang di kita itu paling mudah digiring opininya, pasti langsung mencap buruk kepada seseorang karena opini publik, ditambah kekuatan media yang powerfull memberikan asumsi bersalah walau belum terbukti. Hukuman mati batal, sementara rasa dendam dan kebencian masih mengendap di dalam hati, belum bisa memaafkan dan menerima kenyataan. Kan dosa to itu namanya ?”

Tampaknya Mas Ben mampu menyihir warga yang berkumpul di rumah Pak RT dengan “khotbahnya” itu.

“Jadi, ndak usah memaksakan pemberlakukan hukum mati kepada para pelaku korupsi dan penyuapan, hukum saja dengan hukuman moral. Misalnya, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan jajarannya menerapkan kesetaraan hukum dengan membuat tabel bobot hukuman. Tidak ada hukuman maksimum, semua disamakan. Bila ada yang berani memvonis 20 tahun, ya jadikan itu sebagai patokan hukuman, tidak peduli besar-kecilnya uang yang dikorupsi.”

Mas Ben berhenti sejenak berkata-kata. Diraihnya gelasnya dan direguknya teh yang tersisa di dalamnya.

“Tidak cukup itu saja. Bila sudah berpangkat terdakwa, data kependudukannya langsung diperbarui, diberikan catatan keterangan koruptor. Dengan begitu apa mereka yang mau nyoba-nyoba korupsi atau kepingin ketagihan, masih berani korupsi ? Siapa yang mau namanya masuk daftar hitam negara, dan diberi stempel koruptor di KTP-nya ? Sudah ndak bisa berkutik seumur hidup to ?” – “Bukan hanya kepada pelaku korupsi saja hukuman “pemberangusan nama” ini diberlakukan.

“Wah wah wah, berlean juga ya idenya Mas Ben.” Mbak Samto tertawa riang.

Tidak sadar diskusi akrab para warga ini sudah masuk ke waktu lohor. Seiring kumandang azan, “Maaf saudara-saudara, tetapi ngomong – ngomong sudah siang nih Pak RT. Kerja baktinya sudah selesai to, ndak ada yang mau dilanjutkan lagi ?” Sergah Pak Mardi.

Pak RT melirik jam di atas pintu ruang tengahnya yang jarumnya sudah menunjuk ke angka 12.15, “Wah iya, tidak terasa yang Bapak-Bapak. Baiklah Bapak-Bapak yang masih ada keperluan boleh kalau mau pulang duluan. Yang masih betah juga boleh tinggal dulu menemani saya ngobrol.”

Para warga saling berpamitan, meninggalkan Mas Ben, Lik Promo dan Pak RT.

Demikianlah obrolan bergaya pinggiran warga itu diakhiri di sini.

 


Salam

Ben Sadhana 

Posted September 27, 2017 by Ben Sadhana in Sastra, Uncategorized

Tagged with , ,

Agustus 2017   Leave a comment

Dear,

Belum pudar dari ingatan tentang beragam peristiwa yang hilir mudik di media baik cetak, online maupun elektronik ya. Dan biasanya makin mantab nyamleng berkat bumbu – bumbu tambahan bila sudah masuk ke pelataran WA dan sejenisnya, betul ya 🙂 Mulai dari kasus plagiatisme oleh salah seorang rekan yang awalnya sempat merasakan nikmatnya pujian, kemudian pansus (atau apalah namanya) KPK yang sekarang mulai menguap seiring suapan nasi goreng dua jenderal akhir pekan lalu. Kemudian ada kasus maraknya kebakaran sekolahan di Kalimantan Tengah, plus terakhir kelangkaan garam di negara maritim. Yang masalah Pilkada DKI dan demo – demo berjilid berikutnya sengaja tidak saya sebut di sini, kuatir ada yang ngangetin lagi hehe.

Masalah demi masalah nasional seolah menjadi menu harian keluarga Indonesia (bukan lagi mie instan sebagaimana pesan niaga) 🙂 . Dan entah suka atau tidak, mau tidak mau ya mesti ditelan, wong semua stasiun tivi berlomba mawartakannya dengan adonan bumbu jurnalistiknya masing – masing. Kalaupun ada tivi yang tidak menyiarkan karena jauh dari kepentingan politik pemiliknya, itupun cuma tivi yang siarannya sudah mapan nyaman dengan sajian drama tentang mahkamah pengadilan akhir hayat orang – orang galak yang jahat sejak proses kematian hingga prosesi pemakaman digambarkan dengan gamblangnya. Jadi ya akhirnya nunggu warta berita saja 🙂 demi menjaga sehatnya akal.

Terlepas dari 2019 menjelang, rasanya kok kalau boleh milih biarkan semua masalah yang jauh dari rasional itu jangan pernah ada. Bayangkan, kasus sekolahan di Palangkaraya (konon dari warta terkini sudah mulai merembet ke provinsi sebelah, di Kualakapuas) yang mendadak gilirian terbakar. Semua sekolah yang rata – rata SD Negeri itu terbakar dengan begitu saja. Meskipun saat ini sedang dalam penyidikan, namun semua kejadian selain sangat minimnya saksi sebelum api terlanjur besar, juga tidak didahului dengan adanya indikasi penguat penyebabnya yang terdeteksi sebelumnya, mulai dari adanya gangguan arus listrik, maupun adanya modus dari pelaku (bila memang kebakaran ini disengaja) semisal sehari sebelumnya ada orang yang telihat mondar – mandir di sekitar sekolah. Sekali lagi masalah kontrol dan kewaspadaan yang lagi – lagi dibebankan kepada penjaga sekolahan plus keluarganya yang harus ikhlas menerima beban kasus ini. Dengan tidak bermaksud menyalahkan pemerintah dalam hal ini aparat pemerintah kota / daerah, ada baiknya di setiap titik (di manapun wilayah administratifnya) dimana ada objek penting seperti kantor pemerintah, unit layanan masyarakat, tempat ibadah dan sarananya serta lembaga pendidikan perlu adanya CCTC terpasang. Hal ini penting untuk cek dan antisipasi kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Juga penting adanya upaya pelatihan pemadaman api kepada para petugas keamanannya, termasuk bila memungkinkan adanya hidran terpasang di setiap atau sekitar bangunan vital.

Terakhir yang tidak kalah ngerinya, masalah kelangkaan garam di negeri maritim. Indonesia, negeri kita yang sebagaian besar wilayahnya adalah lautan mengalami kenyataan pasokan stok garam lokalnya yang minim dan langka, sehingga harganya membubung, kalah murah dengan garam kiriman dari negara benua tetangga. Kemana coba perginya garam – garam kita. Faktanya kalau kita sisir pantai utara pulau Jawa (Jaw Tengah saja deh), kita akan dihadapkan pada pemandangan tambak garam yang terhampar luas di sepanjang pantainya. Ironi dan nyata memang. Karenanya tidak heran beredar meme “Kemana garam kita ? Lha gudangnya garam saja isinya rokok.” Pengin ketawa tapi gak tega, bener.

Ok, hari ini 2 Agustus 2017, 15 hari menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia, negara kita. Semoga segala hingar bingar masalah politik ekonomi sosial dan budaya segera mampu dihilangkan. Sehingga Indonesia mampu menjadi negara yang mandiri didukung oleh warga negaranya yang dewasa, menjunjung tinggi ideologi kebangsaan NKRI, bersatu padu menjunjung tinggi Pancasila lambang negara kita dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Sedikit nyentil pesan patriotisme Panglima Besar TKR Jendral Soedirman, bahwa tidak ada sedikitpun tempat untuk militer dalam politik, demikian juga sebaliknya.

Selamat hari Kemerdekaan, Dirgahayu Indonesia.


Salam

Ben Sadhana

Posted Agustus 1, 2017 by Ben Sadhana in Jurnal, Uncategorized

Halo Bentoeliser   1 comment

Halo Bentoeliser,

Selamat datang di Bentoelisan ladang baru 🙂

Salam bentoelisan

Mas Ben

Posted April 19, 2010 by Ben Sadhana in Uncategorized

Tagged with , ,

%d blogger menyukai ini: