BENTOELISAN

Tegas – Lugas – Ringkas – Cerdas


30 Komentar

Cita-Citaku dan Cita-Citamu

Halo Bentoeliser,

Mas Ben sudah siap menggendong Gus Atya yang juga tidak kalah ngganteng dari bapaknya.

“Sudah dibawa kuncinya, Jeng ?” Tanya Mas Ben ke Jeng Arum, ketika isterinya itu menutupkan pintu. Ya, model handle pintu rumah Mas Ben adalah model tombol kunci dari dalam. Jadi sekali saja lupa membawa kunci saat meninggalkan rumah, pasti kojur ndak bisa masuk rumah.

Di pundak Jeng Arum sudah menggelayut tas berisi “amunisi” keperluan Gus Atya, popok kertas, empat botol susu dengan susu bubuk di dalamnya, baju kecil Atya dan selendang untuk antisipasi kalau Atya nanti minta digendong maminya. Tidak ketinggalan rantang dan termos air untuk cadangan makan siang.

Hari itu Mas Ben berniat menjalan-jalankan isteri dan putera mereka ke kebun binatang. Acara wisata edukasi untuk Gus Atya mengenal hewan ciptaan Tuhan dan flora yang ada di kebun binatang.

Perjalanan dimulai dengan naik becak, kemudian berganti bus [yang beruntung hari itu tidak padat penumpangnya], hingga tiba di tujuan dalam keadaan masih segar bugar tidak kekurangan oksigen selama perjalanan.

“Atya capek ya ? Tenang saja, besok Bapak ajak Atya lagi piknik naik mobil Bapak ya.” Kata Mas Ben, sambil menyeka keringat di kening dan mengenakan topi ke kepala Atya.

Sesaat berlalu, Si Atya sudah terlihat girang-gemirang melihat beraneka satwa yang menghuni kebun binatang. Telunjuknya berkali-kali mengarah ke binatang atau kandang binatang yang dilihatnya.

“Itu gajah, dipanggil ayo … gajah gajah.” Kata Jeng Arum sambil melemparkan roti yang disambut hangat oleh si gajah.

Di tempat lain Si Atya sangat asyik memperhatikan ikan. Sesekali mulutnya berceloteh sambil menunjuk-nunjukkan jemarinya, seolah ingin berkata kepada bapak-ibunya, Pak / Bu ikannya bagus-bagus ya.

Matahari mulai menjauh dari bumi mamancarkan sinarnya yang makin panas.

“Kita istirahat dulu Jeng.” Ajak Mas Ben.

Mereka pun memanjakan kaki dengan lesehan beralaskan tikar sewaan yang banyak dijajakan di lokasi.

“Mas, ati-ati lho menjanjikan anak. Nanti kalau tidak terwujud, kasihan anaknya juga lho.”

“Janji yang mana Jeng ?” Balik tanya Mas Ben.

“Itu tadi, di pintu masuk kebun binatang. Mas Ben kan sempat berjanji akan membeli mobil untuk kita.”

Mas Ben mengernyitkan dahinya, “Oo itu, ya ndak apa-apa to Jeng. Wong namanya cita-cita. Kan enak to kalau punya mobil, kita bisa jalan-jalan kapan saja tanpa tergantung pada kendaraan umum. Terus juga kita juga bisa memanjakan simbahnya Atya kalau pas pulang kampung, menjalan-jalankan beliau, disupiri oleh anaknya.” Mas Ben tersenyum sambil menyantap pisang rebus buatan isterinya.

“Iya, tapi mobil kan mahal Mas. Apalagi yang diimpikan Mas Ben kan bukan mobil rata-rata. Mending kita berpikir dulu menabung untuk biaya pendidikan putra kita.” jelas Jeng Arum.

“Lho, namanya juga cita-cita Jeng. Yang sekalian to, jangan nanggung-nanggung.” Kata Mas Ben menggoda isteriya.

“Justeru dengan cita-cita yang besar itulah, cara paling efektif untuk menjaga rasa syukur kita dan komunikasi kita kepada Gusti Allah.” Lanjut Mas Ben.

Mas Ben menghela nafas.

“Jeng, karena saya sayang sama isteri dan putera kita, makanya saya berani pasang cita-cita besar.”

“Nanti kalau ndak tercapai kecewa.” Potog Jeng Arum sambil menyuapkan serutan pisang kepada Atya.

“Lho, wah isteriku ini sudah mulai gojag-gajeg deh. Jangan pesimis gitu ah.” Mas Ben mencubit gemas pipi isterinya.

“Jeng sesungguhnya tidak ada cita-cita itu yang tidak bisa diwujudkan. Tuhan sudah berlaku adil, memberikan kita hasrat untuk memperbaiki hidup, untuk mendukungnya telah dibekalkanNYA kepada semua umat manusia akal budi dan sarana untuk menggenapi cita-cita mereka masing-masing.” Mas Ben mulai berkhotbah.

“Tapi kan semua tergantung kepada ridho Gusti Allah.” Kata Jeng Arum.

“Benar, kalau cita-cita itu tidak layak atau cara pengupayaannya tidak benar, ya pasti Tuhan tidak menridhoi atau menangguhkan pengabulannya hingga cara-caranya diperbaiki.” Jelas Mas Ben.

“Bila kita sudah berani menetapkan cita-cita apalagi di dalam doa, maka secara otomatis sudah termeteraikan kepada kita tugas untuk menggenapinya, karena itu berarti kita sudah membuat janji kepada Gusti Allah, Jeng. Karena Gusti Allah Mahapengabul.

“Jadi kalau saya tadi menyatakan cita-cita punya mobil bagus, itu berarti saya punya hutang bekerja lebih baik, menggunakan rejeki dari Gusti Allah dengan bijaksana sehingga kita bisa menyisihkannya juga untuk bakal mobil kita nanti. Memang cita-cita itu tidak berlaku sama pemenuhannya untuk setiap orang. Masing-masing sudah punya garis rejeki yang ditetapkan Gusti Allah dengan kadar kebahagiaan yang sama, namun hak untuk berharap berlaku sama bagi semua; semua orang berhak dan punya kesempatan sama punya rumah, punya mobil, bisa pinter. Yang tekun dan setia pada cita-cita baiknya, hanya masalah waktu saja koq pengejawantahannya.”

“Ayo Jeng kita lanjutkan jalan, ntar keburu sore.” Ajak Mas Ben.

Mas Ben membantu isterinya berbenah-benah. Selanjutnya membayarkan uang sewa tikar kepada pemiliknya yang setia menunggu tidak jauh.

Mereka bertiga melanjutkan ke panggung hewan yang mempertunjukkan atraksi ketangkasan hewan.

Mas Ben memilih tempat yang dekat dengan pintu keluar, biar tidak terlalu berdesak-desak saat pertunjukan selesai.

Si Atya terlihat antusias dan riang menyaksikan tingkah lucu beruang, monyet dan burung yang lincah mengikuti dan melaksanakan instruksi pawangnya dengan jenaka. Berkali-kali pekikan tawa riangnya terdengar dibarengi gerakan hendak menghentak.

Dan sang surya pun semakin menggulir ke tempat peraduannya. Berakhirlah kisah piknik edukasi Mas Ben dan keluarganya di kebun binatang hari itu.

Menjelang maghrib nereka tia kembali di rumah, dengan segenap rasa syukur atas penyertaan dan penyelenggaraan hari yang indah oleh Tuhan.

Si kecil Atya pun klipuk kelelahan. Setelah diseka dengan air hangat oleh ibunya, dan sebotol susu, akhirnya dia pun tertidur lelap.

Di meja makan.

“Mas.” Lembut suara Jeng Arum.

“Ya, Jeng.” Kata Mas Ben sambil menuangkah sayur ke piringnya.

“Terimakasih ya, sudah berkenan menjadi pelindung untuk saya dan dan Atya.” Kata Jeng Arum sambil menggamit lengan suaminya.

“Iya Jeng, sama-sama saya juga sayang sama Jeng Arum dan puera kita.” Jawab Mas Ben.

“Percaya kan sekarang tentang tidak ada cita-cita yang tidak terkabul. Masih ingat to bagaimana kita dulu memaksa Gusti Allah agar berkenan merestui hubungan cinta terlarang kita ? Karena kita tidak henti-hentinya memohon, dan menjaga kehormatan masing-masing dari kita selama masa pacaran yang lama itu. Makanya kita bisa merasakan anugerah cinta itu.” Goda Mas Ben ke isterinya.

“Ah, Mas Ben bikin saya jadi malu mengingat betapa bandelnya kita dulu.” Manja Jeng Arum sambil mendaratkan ciuman ke pipi suaminya yang berbalas tidak kalah lembutnya.

Demikianlah kisah perjalanan keluarga Mas Ben hari itu.

Salam bentoelisan,

Mas Ben