BENTOELISAN

Tegas – Lugas – Ringkas – Cerdas


Tinggalkan komentar

Candi

Kekar wujudmu menatap langit

Kokoh tiada gentar menantang zaman

Terukir pada tubuhmu ungkapan rasa

meleburnya cinta dan karsa pembuatmu

 

Teguh menjulang ke angkasa

Bukan jumawa, simbol kebesaran kau tampilkan

Saksi bisu sebuah peradaban masa lalu

Melambangkan keperkasaan persada

 

Batumu hitam kelam

Dahsyat alam menempamu tiada mampu menguncang

Kaubuktikan kedigdayaanmu wartakan kejayaan masa lampau

Guratan sejarah indah terukir di batumu

 

Candiku abadi sepanjang masa

Tiada sanggup alam mengikis

Beratus ribu tahun tanah menguburmu

Tak jua mampu merusak dan melenyapkanmu

 

Candiku warisan budaya

Segala bangsa memuji menghampiri

Potretmu tersebar ke pelosok dunia

Memoar abadi kejayaan negeriku pertiwi

 


 

Ben Sadhana

[Sambiarum, 28 Juli 2017]

 

 

 

 


Tinggalkan komentar

Tayub

Tayubmu menggoyang

Meluweskan gemulai wiraga

Sampurmu liar terkibas

Mengalung ke pemujamu

Pilumu bermula

 

Tayubmu mengguncang

Pesonamu mengundang

Dalam balutan busana elok

Pendulum terguncang

Berahi bergolak

 

Tayubmu adiluhung

Pemuja sendra menyukai

Saksi elok sejarah peradaban

terbangun tak pula ternilai

Lebih sekedar berlembar sawer

 

Tayubmu melegenda

Nusantara bangga

Leluhur mewariskan

Pesona budaya tiada tara

Tayubmu prasasti abadi

 


Ben Sadhana

[Kendung, 26 Juli 2017]


Tinggalkan komentar

Kularung Rinduku

Kularung rinduku
Di luas dan dalam samudera
Muram durja Sang surya bersaksi
Seiring luruhnya ke peraduan
ditelan cakrawala

Kularung rinduku padamu di sini
Menghiba pada alam kan mengangkatnya
Serpihan rinduku menjelma mendung
Sewujud hujan wartakan kisahku
Yang dimabuk rindu kepada Dinda
Entah di mana

 


Ben Sadhana

[Kendung, 25 Juli 2017]


Tinggalkan komentar

Siapa Wahai

Wahai !

Siapakah engkau ?

Sang pagi – yang telah menghantarkan puisi cinta

Sang siang – yang telah menjaga hangat sanubari

Sang senja – yang telah mendendangkan indah serenade cinta

Sang malam – yang telah memintal cinta dalam nikmat pagutan setia

 

Wahai !

Siapakah engkau ?

Sang api – yang setia membakar membarakan api cinta

Sang angin – yang setia mengayun buai cinta menebar semerbak wangi

Sang air – yang setia menyiram mengairi subur cinta

Sang badai – yang setia menggoyang menguji menguatkan akar cinta

 

Wahai !

Dimana engkau, hendak kemana ?

Wahai sang cerah – yang telah menyaput luruh mendung kabut cinta,

menukarnya dengan pelangi warna warni

 

Wahai !

Kepadamu sang alam dan sang waktu

kutitipkan cinta, demi masa, Amboi !

 

———-

Ben Sadhana

[Sambiarum, 24 Juli 2017]