Archive for the ‘Puisi’ Tag

Kita Bicara Tentang Kepedulian   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam post kali ini, Mas Ben tampilkan tiga karya puisi Mas Ben, yang kebetulan juga dimuat dalam Litera Magazine pada 25 Oktober lalu.

Puisi-puisi yang tampil kali ini berjudul : Kita Bicara Tentang Kepedulian, Tua, dan Embun.

Selengkapnya sebagai berikut,

 

KITA BERBICARA TENTANG KEPEDULIAN

 

Aku sering dengar soal kepedulian terucapkan

Kepedulian yang entah asal mulanya

Sekejab menjelma kepedulian yang jamak

Ada kebanggan heroisme di dalamnya

 

Darimu, darinya, dari mereka, dariku sendiri

Belarasa, pendoktrinan, pemulihan, pembalasan

Nafsumu, nafsunya, nafsu mereka, nafsu kita

Menyatu dalam syahwat yang membias

 

Engkau punya kepedulian

Dia punya kepedulian

Mereka punya kepedulian

Aku punya kepedulian

 

Engkau menentangku

Dia menentangmu

Mereka menentang kita

Dan kita pun bertentangan

 

Kau peduli karena dia saudaramu

Dia peduli karena mereka sekongsi

Mereka peduli karena kita seperjuangan

Kita pun kembali terpecah

 

Kita berseberangan

Kita bersitegang

Kita bersekutu

Kita berselisih

 

Pernahkah sejenak kita berpikir

Untuk apa dan siapa kah sesungguhnya kepedulian itu

Mengapakah kepedulian itu menjadi sekuler dan sektarian

Mengapakah kepedulian itu tidak satu

 

Masih adakah kepedulian

Jika karenanya saudara kita tersakiti

Masihkah layak kepedulian

Jika karenanya kita mengabaikan yang tidak sedogma

 

Mengapakah kepedulian menjadi tidak adil

Ketika pekik kepedulian bukan juga untuk mereka

Meski mereka terima penindasan dan derita yang sama

Mengapa kepedulian menjadi tendensius dan tidak menerus

 

Kita hadir melalui jalan rahim yang berbeda

Namun Esa yang meniupkan ruh kepada kita

Kita hadir kini berkat adanya cinta kasih

Hukum tunggal yang semestinya engka maklumkan

 

Di manakah pedulimu bila ada rasa berhak memilih

Bisakah engkau jelaskan secara jernih

Aku bukan sedang ingin menghakimimu

Sebab kita sedang berbicara tentang kepedulian

 

 

Ben Sadhana

 

TUA

 

Tua itu identik dengan kusam,
Lihatlah kota tua di kotamu

Tua identik dengan jaman dulu,
lihatlah monumen monumen di kotamu

Tua itu aneh,
Lihatlah jika kau berkeliling kota dengan sepeda onthel,
dan busana komprang

Tua itu tinggal kenangan,
Lihatlah puing puing loji dan candi yang tidak terawat
rapuh tergerus waktu

Tua itu jelek,
Lihatlah bejana jiwa yang terbungkuk,
Tertatih dan lemah

Tua itu menyakitkan,
Lihatlah segala simbol kebesaran
itu perlahan menjauh

Tua itu sepi
Lihatlah keheningan itu
di bilik panti wredha

Membuatku takut
Ingin berlari namun kaki ini terkunci
Ingin berteriak namun mulut ini tercekik

Sekonyong konyong
Sayup sayup aku mendengar suara
merdu membelai telingaku
Melekat terasa meski aku
telah terjaga dari buaian nyenyakku

Tua itu indah, kekal
Keindahan tidak muncul dipandang
melainkan dirasakan
dinikmati

Tua sudah pasti datang
Tua hanya selembar kulit
Tua itu sebuah perubahan pasti
menuju peleburan dengan semesta
menuju keabadian

Lihatlah prasasti itu
Tua namun dikenang dan meneladan
Bagi bejana bejana muda
dalam perjalanan menuju ketuaannya
hingga menjadi indah pada akhirnya

Warisan abadi
tuk generasi berikutnya

Menuju tua itu bukan menuju akhir,
Menjadi tua itu permulaan baik
bagi anak anak kita
Menyambut musim panen
menuai benih yang telah kita tanam
di masa kita

Dan
Kita akan merasakan indahnya
pernah menjadi muda

 

Ben Sadhana

 

 EMBUN

 

Embun bening menyapa
kemilau membuai netra
mengalirkan sejuk sanubari, menyegarkan raga

Mengejawantahkan jejak jejak kontemplatif
Tanah semak daun menggelinjang
Dijejak kaki berpesta

Embun
bening
sejuk
segar
Bening di setiap wadahya
menyegarkan sekeliling
menyemburatkan kedamaian
di relung relung kehidupan

Oh embun
segala berkat keindahan
kerinduan mendayu tak tertahan
hingga hadirmu

Embun
bening
sejuk
segar
belailah jiwa ini
rengkuhlah
jadikankanlah
bening sejuk segar

Membeningkan
menyejukkan
dan menyegarkan

 

O Embun
bening
sejuk
segar

 

Ben Sadhana

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Iklan

Posted November 3, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , ,

PINDUL SUMBER INSPIRASI   Leave a comment

Dear,

Dalam kesempatan ini Mas Ben Sadhana menampilkan 5 (lima) karya puisinya tentang Gua Pindul di Wonosari – yang diikutkan dalam Lomba Cipta Puisi PINDUL BERSAJAK, sebagai berikut :

 

PINDUL  I

Pindul pesona alam Wonosari

Begitu mereka menyebutmu

Alam dan transenden melebur bersama

Pindulmu Pindulnya Pindul mereka dan Pindulku

Bebatuan bertalu

Stalagmit dan stalagtit berkilauan

Dalam bayuran beningnya tirta

Tampilkan mutiara surgawi

Pindulmu Pindulnya Pindul mereka dan Pindulku

Mata air inspirasi bagi segala makhluk

 

PINDUL II

Aku wartakan pada kalian

Aku hendak ajak kekasihku ke Pindul

Kukatakan Ingin aku meminangnya di sana

Ah, usahlah kautanyakan mengapa

Aku tahu tanpa perlu kau mengatakan

Romantisme macam apakah hendak kutawarkan

Ketika akan kuperhadapkan kepada kekasihku

Bebatuan dan air

Gelap dan pengap

dan ribuan kampret yang berhamburan terusik oleh kami ?

Wahai engkau Kekasihku,

Usahlah engkau hiraukan mereka, Kekasihku

Sebab kepadamu aku hendak tunjukkan

Betapa besar cintaku kepadamu

Biarlah pinangan cintaku ini kau terima

Dengan air dan bebatuan yang beriang ria menyaksikan

Serta paparan sinar surgawi sebagai peneguh cinta kita

Yang akan kita alami berdua saja

Hanya engkau dan aku saja

dan kehadiranNya merestui

di kedalaman garba Pindul

 

 PINDUL III

 Dari Bejiharjo Engkau hadir

Pindul namamu

Tentang pesonamu tlah banyak kudengar dari khalayak

Tentang legendamu

Tentang mitosmu

Tentang muasal namamu

Bahwa ada keindahan surgawi padamu

Kucanangkan asa dan waktu tuk kunjungimu

Kan kurasakan sejuk airmu

Kan kunikmati kilauan bebatuan mutiaramu

Kan kuhayati suaraku berpantulan bergaung-gaung memuji asmaNya

Kan kusaksikan satwa penghunimu berpesta

Hingga kan kualami keindahan surgawimu

Di garba pertiwiku

 

PINDUL IV

Pindul

Konon bermula dari kisah perjalanan duta

Dua sentana setia Mataram menjunjung dhawuh Sinuhun

Percintaan terlarang melatari

Buah cinta suci pun harus dikorbankan

Kehidupan tetap harus berlanjut

Dosa yang hendak tercipta terbasuh kesucian airmu

Ah, Pindul

Saksi setia kebesaran cinta kasih

 

PINDUL V

Pindul pipi kebendul

Benarkah ?

Ah, sudahlah

Kini Pindul masyur

Oleh kuat sihir pesonanya

Lestarilah elokmu

Wartakan inspirasi ke penjuru persada

 


 

Salam

Ben Sadhana

 

Posted September 30, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , , , , ,

Candi   Leave a comment

Kekar wujudmu menatap langit

Kokoh tiada gentar menantang zaman

Terukir pada tubuhmu ungkapan rasa

meleburnya cinta dan karsa pembuatmu

 

Teguh menjulang ke angkasa

Bukan jumawa, simbol kebesaran kau tampilkan

Saksi bisu sebuah peradaban masa lalu

Melambangkan keperkasaan persada

 

Batumu hitam kelam

Dahsyat alam menempamu tiada mampu menguncang

Kaubuktikan kedigdayaanmu wartakan kejayaan masa lampau

Guratan sejarah indah terukir di batumu

 

Candiku abadi sepanjang masa

Tiada sanggup alam mengikis

Beratus ribu tahun tanah menguburmu

Tak jua mampu merusak dan melenyapkanmu

 

Candiku warisan budaya

Segala bangsa memuji menghampiri

Potretmu tersebar ke pelosok dunia

Memoar abadi kejayaan negeriku pertiwi

 


 

Ben Sadhana

[Sambiarum, 28 Juli 2017]

 

 

 

 

Posted Juli 28, 2017 by Ben Sadhana in Jurnal, Sastra

Tagged with , , , ,

Tayub   Leave a comment

Tayubmu menggoyang

Meluweskan gemulai wiraga

Sampurmu liar terkibas

Mengalung ke pemujamu

Pilumu bermula

 

Tayubmu mengguncang

Pesonamu mengundang

Dalam balutan busana elok

Pendulum terguncang

Berahi bergolak

 

Tayubmu adiluhung

Pemuja sendra menyukai

Saksi elok sejarah peradaban

terbangun tak pula ternilai

Lebih sekedar berlembar sawer

 

Tayubmu melegenda

Nusantara bangga

Leluhur mewariskan

Pesona budaya tiada tara

Tayubmu prasasti abadi

 


Ben Sadhana

[Kendung, 26 Juli 2017]

Posted Juli 26, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Sastra

Tagged with , , , , , , , ,

Kularung Rinduku   Leave a comment

Kularung rinduku
Di luas dan dalam samudera
Muram durja Sang surya bersaksi
Seiring luruhnya ke peraduan
ditelan cakrawala

Kularung rinduku padamu di sini
Menghiba pada alam kan mengangkatnya
Serpihan rinduku menjelma mendung
Sewujud hujan wartakan kisahku
Yang dimabuk rindu kepada Dinda
Entah di mana

 


Ben Sadhana

[Kendung, 25 Juli 2017]

Posted Juli 25, 2017 by Ben Sadhana in Jurnal, Sastra

Tagged with , , , , , ,

Himne Rindu   Leave a comment

Rinduku meradang
Belum pula sempat kujolok wajahmu
Ketika angkasa telah menghapus
menggantinya dengan pelangi

Girangku bertalu talu menggenderang
Gerbang rindu tlah kujelang
Seketika himnekan lara
Tiada dinda kutemukan di balik gerbang

 


Ben Sadhana

[Kendung, 25 Juli 2017]

Posted Juli 25, 2017 by Ben Sadhana in Jurnal, Sastra

Tagged with , , , ,

Wajah di Ponsel   Leave a comment

Kupandangi diam-diam wajahmu di ponsel
Kau hadir tiba-tiba kagetkanku
Tiada tahan kerlingmu
Jiwaku menggelinjang
Mengerjap aku
Aahhhhh

 


Ben Sadhana

[Kendung, 25 Juli 2017]

Posted Juli 25, 2017 by Ben Sadhana in Jurnal, Sastra

Tagged with , , , ,

%d blogger menyukai ini: