Archive for the ‘Apresiasi’ Category

KISAH SEHARI DI NEGERI BAHARI   Leave a comment

Dear Bentoeliser

Melanjutkan posting (tulisan) Refreshment saya di Rumah Sadhana, tanggal 22 April 2018 lalu, berikut saya sampaikan catatan Sehari di Negeri Bahari itu.

Sebagai apresiasi saya kepada semua saja yang telah berjasa mengupayakan, terlibat dan berpartisipasi di dalamnya sehingga helatan “Sehari Di Negeri Bahari” bisa terealisasi baik membahagiakan semua yang hadir saat itu di Tegal, 28 April 2018. Maka inilah catatanku untuk kita sekalian …

Setiap pertemuan bergulir kepada perpisahan adalah hukum alam yang tak bisa dielakkan. Siapapun selalu merindukan kehadiran. Namun akhir, ya meskipun biasa tidak dikehendaki, namun sebuah moment ending atau perpisahan itu adakalanya justeru menjadi suatu awal hadirnya keindahan sebagai dampak dari pertemuan.

Kisah Sehari di Negeri Bahari sebagaimana judulnya yang memang dirancang hanya untuk selesai sehari, namun menjadi satu dari sedikit kisah dimana bagian ending pada Sehari di Negeri Bahari ini justeru istimewa karena menjadi kunci pembuka simpul akhir yang menjadikannya pintu pertemuan-pertemuan (silaturahmi) baru dan selanjutnya – betapa sangat blur antara pertemuan dan perpisahan oleh karenanya. Saya percaya semua yang hadir di Tegal baik yang hadir sejak hari Jumat maupun Sabtu, merasakan hal yang sama dengan saya, bahwa kami tidak merasakan aura perasaan menjadi yang terdahulu dan yang kemudian, semua hadirin adalah sama – sama-sama hadir di saat dan peristiwa yang sama, sama-sama tamu kota Tegal tanpa ada gap di antaranya.

Sehari di Negeri Bahari sukses menciptakan nuansa kerinduan seorang saudara menyongsong kehadiran saudaranya yang lain. Sambutan hangat dari para saudara kepada saudaranya yang lain yang hadir kemudian, terjadi dan terjaga begitu indahnya dengan tanpa mengurangi kadar kekhusyukan acara yang sedang berlangsung. Justeru sebaliknya. Acara itu sendirilah yang seolah memang telah sengaja dipersiapkan sebagai pesta besar menyambut saudara yang lama terpisah oleh region dan waktu. Kami bisa merasakan kebahagiaan itu.

IMG-20180430-WA0001

Nyaris tidak terasa acara seremonial resmi yang saya alami di kesempatan Sehari di Negeri Bahari – sepanjang hari Sabtu 28-04-2018 sedari pagi hingga lewat tengah malam saat saya meninggalkan Hotel Alexander menuju Stasiun Tegal yang senantiasa benderang itu, untuk kemudian melakukan perjalanan pulang ke Surabaya. Pagi hari ketika saya bermaksud untuk registrasi ulang kepada “panitia”, yang istimewa adalah saya justeru diminta bergabung menggaulkan diri saya kepada kawan-kawan yang sudah hadir terlebih dahulu yang tengah berkumpul di lantai 2 Hotel Alexander. Sangat tampak rona keletihan pada raut Pak Kurniawan Junaedhie, Pak Adri Darmadji Woko, juga Bu Evi Manalu karena upaya besar beliau demi pertemuan ini mengejawantah – sungguh apresiasi besar dan takzim kami kepada beliau semua, yang dengan kerendahan hati yang sedemikian anggunnya telah rela menanggalkan busana kebesaran itu – jauh lebih daripada kesan panitia atau pun sesepuh di DNP, beliau semua justeru mengambil peran sebagai para orang tua yang rindu dan sangat bahagia menyambut putra-putrinya, dan sebagai anak yang menyambut orang tuanya serta sebagai sahabat yang penuh kesyukuran menyambut hangat para sahabat mereka.

Waktu siang terasa begitu cepat bergulir berkat sesi sharing tentang Sastra Itu Menyenangkan yang dipandu apik oleh Mas Kurnia Effendi dan Mbak Ni Made Purnama Sari, dan Pak Dr. Handrawan Nadesul dengan paparan “Penyair Sehat, Puisi Kuat”-nya yang kampiun itu. Kami sebenarnya belum mencapai klimaks karena masih sangat penasaran akan kejutan-kejutan slide-slide yang masih misteri, dan waktu juga sudah menunjukkan pukul 17.00, karena pemaparnya adalah seorang dokter yang tentunya menjunjung tinggi semboyan kesehatan dimulai dari kebersihan dan sanitasi diri, maka akhirnya dengan perasaan berat hati kami pun harus merelakan slide-slide yang masih tersisa itu (konon mencapai 150 slide) untuk tidak hinggap di mata kami, karena kami masih ada tugas dan kewajiban lain yang juga penting harus kami tunaikan –  yaitu mandi.

Sesi malam yang merupakan puncak Sehari di Negeri Poci yaitu peluncuran buku “Negeri Bahari” – buku fiksi (eh, puisi ding) yang tebalnya sangat spektakuler itu mengakibatkan hadirnya 2 pesta besar yang pecah di Tegal. Pantas dan selayaknya kami memohon maaf kepada masyarakat Tegal karena Pak Plt Walikota mereka kami “bajak” malam itu untuk turut serta mengguyup puisi bersama kami.

New Image

Puncak acara malam itu menjadi sedemikian megahnya berkat tatakelola panggung dan tata-cahaya yang begitu menawan, dipandegani oleh duo maut MC DNP yaitu Mas Joshua Igho dan Mbak Dhenok Kristianti (a.k.a Ay DhenKrist), plus terlantunkannya lagu Amazing Grace yang merdu dan demikian ekspresif dari vocal Mbak Shinta Miranda yang menghipnotis itu tak pelak menjadikan acara Sehari di Negeri Bahari menjadi genap spektakulernya dan emmeijing.

FB_IMG_15250150079655560

Semoga persaudaraan dan kemesraan ini janganlah cepat berakhir. Lagu Con Te Partiro bolehlah terus mendengung di dalam ruang batin kita masing-masing, menjadi kenangan-kenangan indah 28-04-2018 di Tegal, tapi Amigos Para Siempre biarlah terus terpateri di setiap hati kita. Mari kita syukuri oleh-oleh abadi yang kita bawa dari Tegal, silaturahmi keluarga DNP. Para founding ones telah menyediakan saluran komunikasi di facebook, dan kini sebagai oleh-oleh istimewa dari Sehari di Negeri Poci, telah ditambahkan sarana ukhuwah di WhatsApp teristimewa bagi kita semua yang hadir di Tegal akhir pekan lalu. Layak dan sepantasnyalah bersama-sama kita jaga dengan segenap semangat ketulusan persaudaraan.

Saya kok merasakan grup WA ini beda dan menjadi istimewa karena lahir justeru setelah pesta sukses dihelat, pada saat semua sama-sama berada di puncak kebahagiaannya untuk hal yang sama-sama dialaminya, saat semua berbagia menemukan saudaranya (saudara di dua alam = alam maya dan alam nyata). Faktanya sebelum peristiwa Tegal, saya di facebook paling hanya berani nimbrung atau nge-like pada postingan Pak KJ, Pak Adri dan beberapa kawan saja seperti Pak Bambang BEP, Pak Bambang Widiatmoko. Lha sekarang jadi banyak. Seeing is believing mungkin itulah yang sebenarnya terjadi di Sehari di Negeri Bahari ketika Sastra itu memang benar-benar menyenangkan dan menyehatkan.

Akhir kata, sekali lagi apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua saja yang telah bersusah payah berkat upaya besarnya sehingga menjadikan acara Sehari di Negeri Bahari – 28-04-2018 ngejawantah sukses berakhir bahagia dan berkesan manis untuk semua.

Tiada gading yang tak retak, namun biarlah kebahagiaan kami semua sebagai saksi hidup Sehari di Negeri Bahari, semoga lebih dari cukup bisa menutupi bagian-bagian yang retak itu sekiranya memang ada.

DNP one for all, all for one.

Salam poci, sampai jumpa di kenduri-kenduri DNP selanjutnya.

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Iklan

Siapa Aku (Aku dalam Persepsimu dan yang Lain)   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam keseharian, tidak sedikit kita menemukan atau bahkan mengalami tentang perbedaan sebuah persepsi. Persepsi sangat sering seolah menjadi stigma atau legalisasi atas sebuah anggapan atau opini pribadi. Tidak salah dan sah-sah saja, toh persepsi tidak menuntut lahirnya sebuah konsekuensi materiil maupun moril bagi pemiliknya. Yang masalah, kerapkali pesepsi itu bila menyangkut pribadi sangat bisa dipastikan bersinggungan dengan ego atau keakuan demi sebuah aktualisasi.

Seperti dalam sebuah “diskusi hangat” yang saya temukan dalam sebuah media sosial. Dalam sebuah status, si pengumpan status secara satir mengungkapkan keraguannya akan reliabilitas sebuah buku yang baru terbit. Eksplisit meragukan hasil riset dan kurasi dari buku yang baru dibelinya. Bisa ditebak, dengan mahadaya power-nya sosial media. Status tersebut melahirkan beragam opini baik dari yang pro maupun kontra dengan pengumpan isu (status).

Bukan hal aneh, karena saya sendiri juga adakalanya nyaris terjebak sangat ingin meleburkan diri saya dalam diskusi-diskusi hangat tersebut, namun nyaris selalu saya abaikan dan cukup memilih menjadi pemerhati saja. Kenapa ? Ya karena selalu tidak tuntas dan dibiarkan menggantung, tidak ketahuan siapa pada akhirnya yang menang (mohon maaf, dalam dunia maya saya alergi kata “siapa benar dan siapa salah”) 🙂

Sebelum terlanjur menjadi gunjingan, berikut saya share saja rekoleksi pribadi saya berikut ini :

24831282_10211566176490266_168924270232676713_o

Nilai hidup(ku) dalam perspektif mereka tentang(ku) kita

Dalam sebuah perbincangan, seru tengah dan sedang dibahas tentang siapa layak dan sebagai tidak layak atau belum tepat waktu untuk saat ini.
Bukan serta merta, karena ada yang menjadi rujukan, dan repotnya rujukan literasi memulainya. Sebuah buku terbit… Ada rasa tercipta bermula karenanya. Hati pun menakar nakar nalar

Aku menyukai literary dan menghabiskan berpenggal penggalan usiaku untuk berliterasi, apakah berarti aku lebih seorang literer daripada mereka, sehingga namaku seharusnya tercatat dalam sebuah register, bukan mereka sebagaimana justeru terlisting? …

Literary dengan kegiatannya yaitu sebuah kerja batin, karena hatilah yang berkarya cipta. Lalu siapa berhak menilai kedalaman hati batin? Maka sehatilah kita bila sebagaimana orang lain memandang itulah jawabmu.

Penyair
tentang syair
Siapa penyair
Syair tentang rasaku
Ya rasaku bukan pula rasamu
Karena rasa dia atasku atau tentangmu mutlak miliknya entitas publik

Dengan catatanku ini, kutahu ada yang menakarku seorang pengamat atau komentator atau sebagai representasi golongan kaum penyinyir … Mungkin ada yang melewatkannya sama sekali … Akupun berhak penuh menilaiku sendiri sebagai apa.

Aku cuma mau katakan
Jauh sebelum aku masuk dan meleburkan jiwaku ke dalam keliterasian …
Sekali lagi hakiki bahwa setiap hati berhak dan boleh memiliki perpektifnya tentang aku

Di kedalaman sudut perspeksi pandangnya yang di matanya aku sebagai Widi jauh hari sebelum metamorfosaku menjadi Ben Sadhana, Akulah Penyair Handal menurutnya.

Lantas benarkah aku seorang penyair?
Adakah dalilku atau dalilmu dan dalil mereka menolaknya?

Cukuplah bagiku mengaminkan
secarik kecil kertas mengandung nilaiku di matanya … Amin, dariku.
Dan aminku untuk penilaian dan perspeksi lain dari mereka yang lain tentangku.

Siapakah aku?
Akulah aku.
Untukku, cukuplah itu …

 

Salam bentoelisan,

Ben Sadhana

Posted Desember 7, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal, Sastra, Uncategorized

Tagged with , , , ,

PADA DETIK TERAKHIR   Leave a comment

Dear,

PADA DETIK TERAKHIR, demikianlah tajuk buku Kumpulan Cerpen Duet yang akan diluncurkan di Semarang pada 11 Nopember 2017 yang akan datang ini.

Barangkali istilah cerita pendek (cerpen) sudah cukup jamak dikenal, namun bagaimana halnya dengan Cerita Pendek Duet ? Apa maksudnya ?

Ya, cerita pendek duet adalah sebuah cerita pendek yang dibangun dan dikerjakan oleh dua orang cerpenis (penulis). Kedua penulis, menuangkan imajinya secara liar — ya liar, karena keduanya sama sekali tidak sedang berada di tempat dan waktu yang sama. Kisah cerpen duet ini dikerjakan secara tandem bergantian paragraf per paragraf. Jadi melalui kalimat-kalimat yang tersaji pada paragraf pertama-lah cerita itu selanjutnya mengalir secara alamiah dan liar seturut imaji masing-masing penulisnya. Kedua penulis juga tidak saling menebak akan adanya tokoh-tokoh baru yang kemudian muncul di perjalanan kisah maupun yang dihilangkan dalam pertengahan kisah. Kedua penulis sama-sama tidak bisa menebak ending cerita yang sedang digarap berdua, maupun kelanjutan / kejutan-kejutan yang akan disajikan oleh penulis pasangannya di setiap poragrafnya.

Kunci keberhasilan cerpen duet ini yaitu terletak pada kekuatan paragraf pertama yang menjadi kunci tersajinya alur cerita yang apik dengan segala konflik yang terbangun di dalamnya, tentu juga didukung oleh kuatnya karakter para tokoh cerita yang diciptakan oleh kedua penulisnya — penulis yang dipertemukan dalam proyek cerpen duet, yang bahkan sebelumnya tidak pernah bertemu atau saling kenal satu dengan lainnya. Menarik bukan ?

22553189_10211221587995769_1960192612047709682_o

Buku Antologi Cerpen Duet “Pada Detik Terakhir”, menampilkan 40 kisah cerpen duet terpilih dari 34 penulis, yaitu : Tengsoe Tjahjono, Benedikt Agung Widyatmoko (Ben Sadhana), Julia Utama, Alfred B. Jogo Ena, Deny Ketip, BE Priyanti, Tantrini Aandang, Maria Lupiani, Yusup Priyasudiarja, Johny Barliyanta, Irene Roostini, Yosep Margono, Iskandar Noe, Caecilia Joel, Celly Kwok, Demitria Budiningrum, Robertus Sutartomo, Adrian Diarto, Megawati Lie, Agnes Kinasih, Emmelia Meitry, Eulalia Adventi Kesiyanti, Pak Kokok, Sri Widati, dkk.

Sebuah buku yang sangat layak dibaca dan menjadi koleksi, khususnya mereka para penikmat sastra.

Tunggu apa lagi ?

Buku apik dengan spesifikasi :

  • Harga Rp. 120.000,00 (seratus duapuluh ribu rupiah) + ongkos kirim
  • Ukuran : 14×21 cm
  • Jumlah halaman : 448
  • Penerbit : Bajawa Press

Telah bisa dipesan awal (Pre-order), langsung melalui Nomor WA/Telegram/Line : 081803107847.

Selamat menikmati 🙂

 

Salam Bentoelisan,

Ben Sadhana

Posted Oktober 19, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Sastra

Tagged with , , , ,

Semoga Buku Cetak Tidak Senasib Kaset Lagu   Leave a comment

Dear,

22104383_10211105364850263_4153426828818909142_o

Saya suka membaca, karenanya saya menyukai buku. Kesukaan saya pada buku melebihi daya kebertaklukan saya kepada hasrat jajan makanan. Meskipun saya suka makanan dan camilan, jika pada kesempatan yang sama ada buku sebagai opsi pilihan, maka dipastikan saya akan memilih buku — mengesampingkan makanan yang melambai-lambai menghiba meminta saya pilih.

Bersama dengan buku, bisa membuat saya berbetah berlama-lama terlarut dalam keasyikan baca. Asyik ? Ya, sangat mengasyikkan. Dengan membaca selain memanjakan mata dan batin saya saat meresapi nikmatnya menu literasi yang disajikannya, pada saat yang sama di kesempatan membaca saya pun bisa menggapai kenikmatan ragawi yang luar biasa. Saya bisa merasakan betapa nikmatnya menghirup aroma harum kertas buku, merasai halusnya bulu-bulu lembut kertas, menikmati ujung jemari saya mempermainkan sisi-sisi kertas buku yang masih tajam, membiarkan jemari saya mengusap-usap sudut-sudut kavernya demi mempertahankan menghindarkannya dari menjadi terbelah dan tumpul — benar-benar saya rasakan ekstase yang luar biasa dibuatnya.

Memang tidak dipungkiri, kehadiran buku-buku kertas — yang semakin hari semakin banyak ini — membutuhkan ruang yang cukup untuk menampungnya dengan layak agar selalu terjaga baik kondisi fisiknya. Lalu timbul pertanyaan, mengapa saya tidak mengalihkan saja minat membaca dan selera saya kepada buku-buku digital (e-book) ? Lebih ringkas dan efisien — lebih mobile, pastinya.

Sebagaimana telah saya sampaikan di awal tulisan, saya sangat menikmati bersentuhan dengan fisik buku kertas. Namun sesungguhnya ada hal lain yang tidak kalah penting, dan menurut saya ini prinsipil. Melalui buku kertas (printing), saya bisa merasakan secara pribadi kehadiran ruh dari penulisnya yang hadir, dan saya pun bisa merasakan mengalami keterlibatan saya dalam kisah buku yang sedang saya baca — merasa seperti berada di antara para tokohnya yang sedang berkonflik. Entah mungkin karena dengan buku cetak, saya bisa memilih spot dan posisi baca senyaman saya — beda dengan saat saya membaca buku digital, dimana mata dan tubuh saya yang harus menyesuaikan diri dengan perspeksi layar gawai pemuat buku digital — masuk akal bila saya merasa ditarik masuk ke dalam kisah buku.

Namun akhir-akhir ini saya sedikit terusik dengan munculnya pemberitaan tentang bergugurannya nama-nama besar media pewarta, yang harus ikhlas menggulung tikar usahanya yang telah berpuluh tahun berkiprah — disebabkan pergeseran selera menuju digital.

Atas fenomena tersebut, disamping kekuatiran akan semakin terkikis menuju punahnya buku-buku cetak sebagaimana kaset-kaset pita lagu yang keberadaannya kini tidak lagi terendus  berikut kemegahan toko-tokonya yang di masanya begitu gemerlap indah menghiasi sudut-sudut pusat perbelanjaan, saya juga kuatir kebanggaan dunia literasi akan turut punah. Tidak ada lagi bukti fisik kekayaan intelektual dari seorang penulis yang dengan segala kebanggaannya menjadi saksi buku-bukunya dicetak ulang oleh penerbit, membanjiri pasar sesuai segmennya.

Saya memiliki beberapa buku digital (e-book) yang tersimpan di flash  disk. Namun sungguh, saya tidak bisa merasakan kebanggaan menyimpannya. Dengan buku digital saya tidak bisa sekaligus menyimpan nilai sejarah dari buku tersebut. Saya tidak bisa merasakan bahwa buku itu benar-benar buku yang usianya sudah tua dan langka di pasaran. Semuanya terbenam dalam benda kecil yang namanya falsh disk.

Ide penulisan ini pun lahir tatkala saya sedang menikmati memandangi susunan buku yang tertata di rak utama buku saya, menempatkan koleksi buku baru ke dalamnya, dan menarik memindahkan lokasi simpan untuk buku-buku lama yang sudah selesai saya baca.

Sungguh indahnya rasa tatkala menikmati secara ragawi buku-buku.

 


 

Salam

Ben Sadhana 

 

Sumber gambar dari koleksi pribadi

 

Posted Oktober 6, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal

Tagged with , , , ,

Krakatau Award 2017   Leave a comment

Dear,

Pada tanggal 14 Agustus 2017, telah diumumkan susunan pemenang Lomba Cipta Puisi Nasional Krakatau Award 2017. Salah satu puisi nomine pemenang adalah puisi karya saya berjudul “Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai”. Puisi ini akan bersama 49 puisi lainnya akan diterbitkan dalam buku antologi puisi Krakatau Award 2017 bertajuk “Hikayat Secangkir Robusta

Selengkapnya puisi Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai, adalah sebagai berikut :

LAMPUNG SANG BUMI RUWA JURAI

 

Samudera Hindia dan Selat Sunda berandamu

Laut Jawa menyisimu, 210 km pantaimu hangat memelukmu

Krakatau, Pulau Pahawang, Teluk Kiluan, Air Terjun Putri Malu, Taman Nasional Way Kambas, terajut kekal kekayaan hayatimu

Kampung Tua di Sukau, Liwa, Kembahang, Batu Brak, Kenali, Ranau dan Krui,

Terjunjung tinggi warisan budayamu

 

Puluhan pulau tergugus dalam telukmu

Bukit Barisan dan gunung gemunung memilarimu

Pesagi, Tebak, Tanggamus dan Krakatau gagah pasak bumimu

Way Sekampung, Seputih, Mesuji panjang mengurati bumimu

Mengairi tanahmu

 

Sambam Iwa, beralas panas genteng

Gulai Karita semerbak kemangi

Sambol Recit Mandira membakar lidah penuh selera

Gulai Halom pedas manis kayu manis

Leluhur Ulun Lampung mewariskan

 

Geliat gemulai tubuh sarat pesona

Sigeh Pengunten, santun sambut tamu membuai mempelai

Cangget Agung, muda mudi meramu kehalusan budi, ketangkasan dan keindahan

Melinting, pepaduan kemurnian dan gerak maknawi simbol keagungan Ratu

 

Cucuk tapis membaluti

Anggun muda mudi serta tua mudamu

Priamu gagah oleh Sesapuran, Khikat, dan sarung tumpal

Jelita wanitamu berbalut selappai, bebe dan katu tapis bermahkota siger

 

Sang Bumi Ruwa Jurai

O takterkira nikmatnya

Bernaung dalam Nuwo Sesat

Di bumimu yang giat membangun rumah tangga yang agung

Dua kota tiga belas kabupaten, menyangga ekonomimu

 

 

—-

Surabaya, 18 Juli 2017

Benediktus Agung Widyatmoko

Tayub   Leave a comment

Tayubmu menggoyang

Meluweskan gemulai wiraga

Sampurmu liar terkibas

Mengalung ke pemujamu

Pilumu bermula

 

Tayubmu mengguncang

Pesonamu mengundang

Dalam balutan busana elok

Pendulum terguncang

Berahi bergolak

 

Tayubmu adiluhung

Pemuja sendra menyukai

Saksi elok sejarah peradaban

terbangun tak pula ternilai

Lebih sekedar berlembar sawer

 

Tayubmu melegenda

Nusantara bangga

Leluhur mewariskan

Pesona budaya tiada tara

Tayubmu prasasti abadi

 


Ben Sadhana

[Kendung, 26 Juli 2017]

Posted Juli 26, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Sastra

Tagged with , , , , , , , ,

In Your Eyes   3 comments

Halo Bentoelisers,

Sebuah cuplikan festival music jazz dalam tayangan televisi terekam tampilan apik dari seorang George Benson menembangkan In Your Eyes. yang walau hanya sepotong bait saja, namun lirik lagunya sudah cukup menghadirkan nuansa magis kekuatan bola mata.

In your eyes, i can see my dream’s reflections
In your eyes, found the answers to my questions
In your eyes, i can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
And i think i’ve finally learned to love you more

Ya, entah disadari atau tidak melalui bola matanya, seseorang menampilkan kekuatan, kecerdasan, atau kelemahannya. Dan harus diterima bahwa  kondisi ketangguhan dan ketegaran bisa dipengaruhi oleh suasana mata.

Sorang pesulap, dengan matanya yang tegas dan berbinar tajam ke arah wajah Anda, sangat cukup menimbulkan sugesti pada diri Anda untuk tehipnotis mengikuti anjurannya. “Perhatikan mata saya”, atau “Perhatikan layar televisi Anda”, Adakah Anda rasakan aliran kekuatan paksa kepada Anda untuk menuruti atau setidaknya sedikit saja adanya kehendak pada diri Anda untuk mengabaikan instruksinya itu ? Biasanya Anda akan terhanyut mengikutinya bukan ?

Anda pasti sependapat dengan saya, bahwa warga negara Amerika dengan segala kemoderenan dan kemajemukan kultur etnisnya, akan sulit menerima ras AfroAmerika dalam pemerintahan. Kenyataannya Barrack Obama dengan gemilangnya mampu merebut hati mayoritas rakyat Amerika untuk memilihnya sebagai pemimpin. Pun juga karena kemampuannya meyakinkan membawa perubahan untuk Amerika secara menyeluruh. Satu kata CHANGE yang semua orang akan dengan mudah mengucapkannya, namun melalui kekuatan mata seorang Obama, kata Change begitu menggelegar dan menjadi teramat menjanjikan perubahan besar.

Seorang petinju sebelum bertanding, dipastikan melakukan adu mata untuk mengintervensi nyali lawannya. Dan bisa ditebak petinju yangmenolak memandang mata lawannya setajam-tajamnya, pasti sangat sedikit kemungkinan menang, kecuali faktor luck turut campur 🙂

Di tempat lain, seorang korban gendam atau kejahatan hipnotis, bisa dipastikan bahwa pelaku telah mengamati dan memilih calon korbannya melalui kondisi psikis wajah yang terekam jelas karena suasana matanya.

Dan masih banyak contoh lain lagi dari kekuatan bola mata; bagaimana seorang pimpinan perusahaan dengan mudah menentukan menerima atau menolak kandidat karyawannya hanya sesaat setelah bertemu dalam sesi interview. Keputusan Anda untuk membeli sebuah produk dari wiraniaga A daripada Wiraniaga B sekalipun keduanya menawarkan jenis produk yang sama kepada Anda.

Kekuatan mata demikian dahsyatnya, adalah berlaku sama untuk semua mahluk Tuhan. Anda bisa mengenali hewan kesayangan Anda sedang mood atau bad mood pun bisa disimpulkan dari matanya.

Bukti kebesaran Tuhan melalui karunia mata, paling menyentuh adalah dalam tayangan Kick Andy pekan lalu, yang mana menampilkan narasumber berprestasi. Itu hal menjadi biasa bila narasumber yang dihadirkan dalam kondisi sempurna. Dan tayangan Kick Andy episode ini menjadi demikian hebatnya berkat tampilan para saudara kita yang penglihatannya sedang dipinjam oleh Tuhan itu dengan prestasinya yang mengagumkan.

Bukan prestasinya yang mengagumkan saya, namun kekuatan matanya yang mampu menghadirkan wajah – wajah penuh semangat dan kegigihan mengalahkan ketidaksempurnaan. Wajah-wajah ini penuh senyum karena matanya yang tidak mampu memberikan terang kepadanya, melalui pemandangannya yang gelap, mata mereka telah mampu menghadirkan kekaguman dan sujud syukur atas kebesaran Tuhan.

Mata Anda adalah spion dari suasana hati Anda. Dari mata Anda, orang dengan mudah mengetahui Anda orang lemah atau kuat, Mata Anda adalah potensi Anda, walau apapun keadaannya … baik dalam terang maupun gelap.

Untuk menutup tulisan ini, baiklah bila kita simak syair apik dari keseluruhan lagu In Your Eyes dari George Benson.

I think i finally know you
I can see beyond your smile
I think that i can show you
That what we have is still worthwhile
Don’t you know that love’s just like the thread
That keeps unravelling but then
It ties us back together in the end

(chorus)

In your eyes, i can see my dream’s reflections
In your eyes, found the answers to my questions
In your eyes, i can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
And i think i’ve finally learned to love you more

You warned me that life changes
That no one really knows
Whether time would make us strangers
Or whether time would make us grow
Even though the winds of time will change
In a world where nothing stays the same
Through it all our love will still remain

(chorus)
In your eyes, i can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
And i think i’ve finally learned to love you more

~~~~~

Salam Bentoelisan

Mas Ben

P.s. Please forgive me ya mans-temans Bentoelisers terkasih, bila  gaya pengisahan saya kali ini sedikit keluar dari pakem Bentoelisan hehhee.

Posted Maret 8, 2011 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal

Tagged with , ,

%d blogger menyukai ini: