Archive for the ‘Apresiasi’ Category

Siapa Aku (Aku dalam Persepsimu dan yang Lain)   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam keseharian, tidak sedikit kita menemukan atau bahkan mengalami tentang perbedaan sebuah persepsi. Persepsi sangat sering seolah menjadi stigma atau legalisasi atas sebuah anggapan atau opini pribadi. Tidak salah dan sah-sah saja, toh persepsi tidak menuntut lahirnya sebuah konsekuensi materiil maupun moril bagi pemiliknya. Yang masalah, kerapkali pesepsi itu bila menyangkut pribadi sangat bisa dipastikan bersinggungan dengan ego atau keakuan demi sebuah aktualisasi.

Seperti dalam sebuah “diskusi hangat” yang saya temukan dalam sebuah media sosial. Dalam sebuah status, si pengumpan status secara satir mengungkapkan keraguannya akan reliabilitas sebuah buku yang baru terbit. Eksplisit meragukan hasil riset dan kurasi dari buku yang baru dibelinya. Bisa ditebak, dengan mahadaya power-nya sosial media. Status tersebut melahirkan beragam opini baik dari yang pro maupun kontra dengan pengumpan isu (status).

Bukan hal aneh, karena saya sendiri juga adakalanya nyaris terjebak sangat ingin meleburkan diri saya dalam diskusi-diskusi hangat tersebut, namun nyaris selalu saya abaikan dan cukup memilih menjadi pemerhati saja. Kenapa ? Ya karena selalu tidak tuntas dan dibiarkan menggantung, tidak ketahuan siapa pada akhirnya yang menang (mohon maaf, dalam dunia maya saya alergi kata “siapa benar dan siapa salah”) 🙂

Sebelum terlanjur menjadi gunjingan, berikut saya share saja rekoleksi pribadi saya berikut ini :

24831282_10211566176490266_168924270232676713_o

Nilai hidup(ku) dalam perspektif mereka tentang(ku) kita

Dalam sebuah perbincangan, seru tengah dan sedang dibahas tentang siapa layak dan sebagai tidak layak atau belum tepat waktu untuk saat ini.
Bukan serta merta, karena ada yang menjadi rujukan, dan repotnya rujukan literasi memulainya. Sebuah buku terbit… Ada rasa tercipta bermula karenanya. Hati pun menakar nakar nalar

Aku menyukai literary dan menghabiskan berpenggal penggalan usiaku untuk berliterasi, apakah berarti aku lebih seorang literer daripada mereka, sehingga namaku seharusnya tercatat dalam sebuah register, bukan mereka sebagaimana justeru terlisting? …

Literary dengan kegiatannya yaitu sebuah kerja batin, karena hatilah yang berkarya cipta. Lalu siapa berhak menilai kedalaman hati batin? Maka sehatilah kita bila sebagaimana orang lain memandang itulah jawabmu.

Penyair
tentang syair
Siapa penyair
Syair tentang rasaku
Ya rasaku bukan pula rasamu
Karena rasa dia atasku atau tentangmu mutlak miliknya entitas publik

Dengan catatanku ini, kutahu ada yang menakarku seorang pengamat atau komentator atau sebagai representasi golongan kaum penyinyir … Mungkin ada yang melewatkannya sama sekali … Akupun berhak penuh menilaiku sendiri sebagai apa.

Aku cuma mau katakan
Jauh sebelum aku masuk dan meleburkan jiwaku ke dalam keliterasian …
Sekali lagi hakiki bahwa setiap hati berhak dan boleh memiliki perpektifnya tentang aku

Di kedalaman sudut perspeksi pandangnya yang di matanya aku sebagai Widi jauh hari sebelum metamorfosaku menjadi Ben Sadhana, Akulah Penyair Handal menurutnya.

Lantas benarkah aku seorang penyair?
Adakah dalilku atau dalilmu dan dalil mereka menolaknya?

Cukuplah bagiku mengaminkan
secarik kecil kertas mengandung nilaiku di matanya … Amin, dariku.
Dan aminku untuk penilaian dan perspeksi lain dari mereka yang lain tentangku.

Siapakah aku?
Akulah aku.
Untukku, cukuplah itu …

 

Salam bentoelisan,

Ben Sadhana

Iklan

Posted Desember 7, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal, Sastra, Uncategorized

Tagged with , , , ,

PADA DETIK TERAKHIR   Leave a comment

Dear,

PADA DETIK TERAKHIR, demikianlah tajuk buku Kumpulan Cerpen Duet yang akan diluncurkan di Semarang pada 11 Nopember 2017 yang akan datang ini.

Barangkali istilah cerita pendek (cerpen) sudah cukup jamak dikenal, namun bagaimana halnya dengan Cerita Pendek Duet ? Apa maksudnya ?

Ya, cerita pendek duet adalah sebuah cerita pendek yang dibangun dan dikerjakan oleh dua orang cerpenis (penulis). Kedua penulis, menuangkan imajinya secara liar — ya liar, karena keduanya sama sekali tidak sedang berada di tempat dan waktu yang sama. Kisah cerpen duet ini dikerjakan secara tandem bergantian paragraf per paragraf. Jadi melalui kalimat-kalimat yang tersaji pada paragraf pertama-lah cerita itu selanjutnya mengalir secara alamiah dan liar seturut imaji masing-masing penulisnya. Kedua penulis juga tidak saling menebak akan adanya tokoh-tokoh baru yang kemudian muncul di perjalanan kisah maupun yang dihilangkan dalam pertengahan kisah. Kedua penulis sama-sama tidak bisa menebak ending cerita yang sedang digarap berdua, maupun kelanjutan / kejutan-kejutan yang akan disajikan oleh penulis pasangannya di setiap poragrafnya.

Kunci keberhasilan cerpen duet ini yaitu terletak pada kekuatan paragraf pertama yang menjadi kunci tersajinya alur cerita yang apik dengan segala konflik yang terbangun di dalamnya, tentu juga didukung oleh kuatnya karakter para tokoh cerita yang diciptakan oleh kedua penulisnya — penulis yang dipertemukan dalam proyek cerpen duet, yang bahkan sebelumnya tidak pernah bertemu atau saling kenal satu dengan lainnya. Menarik bukan ?

22553189_10211221587995769_1960192612047709682_o

Buku Antologi Cerpen Duet “Pada Detik Terakhir”, menampilkan 40 kisah cerpen duet terpilih dari 34 penulis, yaitu : Tengsoe Tjahjono, Benedikt Agung Widyatmoko (Ben Sadhana), Julia Utama, Alfred B. Jogo Ena, Deny Ketip, BE Priyanti, Tantrini Aandang, Maria Lupiani, Yusup Priyasudiarja, Johny Barliyanta, Irene Roostini, Yosep Margono, Iskandar Noe, Caecilia Joel, Celly Kwok, Demitria Budiningrum, Robertus Sutartomo, Adrian Diarto, Megawati Lie, Agnes Kinasih, Emmelia Meitry, Eulalia Adventi Kesiyanti, Pak Kokok, Sri Widati, dkk.

Sebuah buku yang sangat layak dibaca dan menjadi koleksi, khususnya mereka para penikmat sastra.

Tunggu apa lagi ?

Buku apik dengan spesifikasi :

  • Harga Rp. 120.000,00 (seratus duapuluh ribu rupiah) + ongkos kirim
  • Ukuran : 14×21 cm
  • Jumlah halaman : 448
  • Penerbit : Bajawa Press

Telah bisa dipesan awal (Pre-order), langsung melalui Nomor WA/Telegram/Line : 081803107847.

Selamat menikmati 🙂

 

Salam Bentoelisan,

Ben Sadhana

Posted Oktober 19, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Sastra

Tagged with , , , ,

Semoga Buku Cetak Tidak Senasib Kaset Lagu   Leave a comment

Dear,

22104383_10211105364850263_4153426828818909142_o

Saya suka membaca, karenanya saya menyukai buku. Kesukaan saya pada buku melebihi daya kebertaklukan saya kepada hasrat jajan makanan. Meskipun saya suka makanan dan camilan, jika pada kesempatan yang sama ada buku sebagai opsi pilihan, maka dipastikan saya akan memilih buku — mengesampingkan makanan yang melambai-lambai menghiba meminta saya pilih.

Bersama dengan buku, bisa membuat saya berbetah berlama-lama terlarut dalam keasyikan baca. Asyik ? Ya, sangat mengasyikkan. Dengan membaca selain memanjakan mata dan batin saya saat meresapi nikmatnya menu literasi yang disajikannya, pada saat yang sama di kesempatan membaca saya pun bisa menggapai kenikmatan ragawi yang luar biasa. Saya bisa merasakan betapa nikmatnya menghirup aroma harum kertas buku, merasai halusnya bulu-bulu lembut kertas, menikmati ujung jemari saya mempermainkan sisi-sisi kertas buku yang masih tajam, membiarkan jemari saya mengusap-usap sudut-sudut kavernya demi mempertahankan menghindarkannya dari menjadi terbelah dan tumpul — benar-benar saya rasakan ekstase yang luar biasa dibuatnya.

Memang tidak dipungkiri, kehadiran buku-buku kertas — yang semakin hari semakin banyak ini — membutuhkan ruang yang cukup untuk menampungnya dengan layak agar selalu terjaga baik kondisi fisiknya. Lalu timbul pertanyaan, mengapa saya tidak mengalihkan saja minat membaca dan selera saya kepada buku-buku digital (e-book) ? Lebih ringkas dan efisien — lebih mobile, pastinya.

Sebagaimana telah saya sampaikan di awal tulisan, saya sangat menikmati bersentuhan dengan fisik buku kertas. Namun sesungguhnya ada hal lain yang tidak kalah penting, dan menurut saya ini prinsipil. Melalui buku kertas (printing), saya bisa merasakan secara pribadi kehadiran ruh dari penulisnya yang hadir, dan saya pun bisa merasakan mengalami keterlibatan saya dalam kisah buku yang sedang saya baca — merasa seperti berada di antara para tokohnya yang sedang berkonflik. Entah mungkin karena dengan buku cetak, saya bisa memilih spot dan posisi baca senyaman saya — beda dengan saat saya membaca buku digital, dimana mata dan tubuh saya yang harus menyesuaikan diri dengan perspeksi layar gawai pemuat buku digital — masuk akal bila saya merasa ditarik masuk ke dalam kisah buku.

Namun akhir-akhir ini saya sedikit terusik dengan munculnya pemberitaan tentang bergugurannya nama-nama besar media pewarta, yang harus ikhlas menggulung tikar usahanya yang telah berpuluh tahun berkiprah — disebabkan pergeseran selera menuju digital.

Atas fenomena tersebut, disamping kekuatiran akan semakin terkikis menuju punahnya buku-buku cetak sebagaimana kaset-kaset pita lagu yang keberadaannya kini tidak lagi terendus  berikut kemegahan toko-tokonya yang di masanya begitu gemerlap indah menghiasi sudut-sudut pusat perbelanjaan, saya juga kuatir kebanggaan dunia literasi akan turut punah. Tidak ada lagi bukti fisik kekayaan intelektual dari seorang penulis yang dengan segala kebanggaannya menjadi saksi buku-bukunya dicetak ulang oleh penerbit, membanjiri pasar sesuai segmennya.

Saya memiliki beberapa buku digital (e-book) yang tersimpan di flash  disk. Namun sungguh, saya tidak bisa merasakan kebanggaan menyimpannya. Dengan buku digital saya tidak bisa sekaligus menyimpan nilai sejarah dari buku tersebut. Saya tidak bisa merasakan bahwa buku itu benar-benar buku yang usianya sudah tua dan langka di pasaran. Semuanya terbenam dalam benda kecil yang namanya falsh disk.

Ide penulisan ini pun lahir tatkala saya sedang menikmati memandangi susunan buku yang tertata di rak utama buku saya, menempatkan koleksi buku baru ke dalamnya, dan menarik memindahkan lokasi simpan untuk buku-buku lama yang sudah selesai saya baca.

Sungguh indahnya rasa tatkala menikmati secara ragawi buku-buku.

 


 

Salam

Ben Sadhana 

 

Sumber gambar dari koleksi pribadi

 

Posted Oktober 6, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal

Tagged with , , , ,

Krakatau Award 2017   Leave a comment

Dear,

Pada tanggal 14 Agustus 2017, telah diumumkan susunan pemenang Lomba Cipta Puisi Nasional Krakatau Award 2017. Salah satu puisi nomine pemenang adalah puisi karya saya berjudul “Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai”. Puisi ini akan bersama 49 puisi lainnya akan diterbitkan dalam buku antologi puisi Krakatau Award 2017 bertajuk “Hikayat Secangkir Robusta

Selengkapnya puisi Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai, adalah sebagai berikut :

LAMPUNG SANG BUMI RUWA JURAI

 

Samudera Hindia dan Selat Sunda berandamu

Laut Jawa menyisimu, 210 km pantaimu hangat memelukmu

Krakatau, Pulau Pahawang, Teluk Kiluan, Air Terjun Putri Malu, Taman Nasional Way Kambas, terajut kekal kekayaan hayatimu

Kampung Tua di Sukau, Liwa, Kembahang, Batu Brak, Kenali, Ranau dan Krui,

Terjunjung tinggi warisan budayamu

 

Puluhan pulau tergugus dalam telukmu

Bukit Barisan dan gunung gemunung memilarimu

Pesagi, Tebak, Tanggamus dan Krakatau gagah pasak bumimu

Way Sekampung, Seputih, Mesuji panjang mengurati bumimu

Mengairi tanahmu

 

Sambam Iwa, beralas panas genteng

Gulai Karita semerbak kemangi

Sambol Recit Mandira membakar lidah penuh selera

Gulai Halom pedas manis kayu manis

Leluhur Ulun Lampung mewariskan

 

Geliat gemulai tubuh sarat pesona

Sigeh Pengunten, santun sambut tamu membuai mempelai

Cangget Agung, muda mudi meramu kehalusan budi, ketangkasan dan keindahan

Melinting, pepaduan kemurnian dan gerak maknawi simbol keagungan Ratu

 

Cucuk tapis membaluti

Anggun muda mudi serta tua mudamu

Priamu gagah oleh Sesapuran, Khikat, dan sarung tumpal

Jelita wanitamu berbalut selappai, bebe dan katu tapis bermahkota siger

 

Sang Bumi Ruwa Jurai

O takterkira nikmatnya

Bernaung dalam Nuwo Sesat

Di bumimu yang giat membangun rumah tangga yang agung

Dua kota tiga belas kabupaten, menyangga ekonomimu

 

 

—-

Surabaya, 18 Juli 2017

Benediktus Agung Widyatmoko

Tayub   Leave a comment

Tayubmu menggoyang

Meluweskan gemulai wiraga

Sampurmu liar terkibas

Mengalung ke pemujamu

Pilumu bermula

 

Tayubmu mengguncang

Pesonamu mengundang

Dalam balutan busana elok

Pendulum terguncang

Berahi bergolak

 

Tayubmu adiluhung

Pemuja sendra menyukai

Saksi elok sejarah peradaban

terbangun tak pula ternilai

Lebih sekedar berlembar sawer

 

Tayubmu melegenda

Nusantara bangga

Leluhur mewariskan

Pesona budaya tiada tara

Tayubmu prasasti abadi

 


Ben Sadhana

[Kendung, 26 Juli 2017]

Posted Juli 26, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Sastra

Tagged with , , , , , , , ,

In Your Eyes   3 comments

Halo Bentoelisers,

Sebuah cuplikan festival music jazz dalam tayangan televisi terekam tampilan apik dari seorang George Benson menembangkan In Your Eyes. yang walau hanya sepotong bait saja, namun lirik lagunya sudah cukup menghadirkan nuansa magis kekuatan bola mata.

In your eyes, i can see my dream’s reflections
In your eyes, found the answers to my questions
In your eyes, i can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
And i think i’ve finally learned to love you more

Ya, entah disadari atau tidak melalui bola matanya, seseorang menampilkan kekuatan, kecerdasan, atau kelemahannya. Dan harus diterima bahwa  kondisi ketangguhan dan ketegaran bisa dipengaruhi oleh suasana mata.

Sorang pesulap, dengan matanya yang tegas dan berbinar tajam ke arah wajah Anda, sangat cukup menimbulkan sugesti pada diri Anda untuk tehipnotis mengikuti anjurannya. “Perhatikan mata saya”, atau “Perhatikan layar televisi Anda”, Adakah Anda rasakan aliran kekuatan paksa kepada Anda untuk menuruti atau setidaknya sedikit saja adanya kehendak pada diri Anda untuk mengabaikan instruksinya itu ? Biasanya Anda akan terhanyut mengikutinya bukan ?

Anda pasti sependapat dengan saya, bahwa warga negara Amerika dengan segala kemoderenan dan kemajemukan kultur etnisnya, akan sulit menerima ras AfroAmerika dalam pemerintahan. Kenyataannya Barrack Obama dengan gemilangnya mampu merebut hati mayoritas rakyat Amerika untuk memilihnya sebagai pemimpin. Pun juga karena kemampuannya meyakinkan membawa perubahan untuk Amerika secara menyeluruh. Satu kata CHANGE yang semua orang akan dengan mudah mengucapkannya, namun melalui kekuatan mata seorang Obama, kata Change begitu menggelegar dan menjadi teramat menjanjikan perubahan besar.

Seorang petinju sebelum bertanding, dipastikan melakukan adu mata untuk mengintervensi nyali lawannya. Dan bisa ditebak petinju yangmenolak memandang mata lawannya setajam-tajamnya, pasti sangat sedikit kemungkinan menang, kecuali faktor luck turut campur 🙂

Di tempat lain, seorang korban gendam atau kejahatan hipnotis, bisa dipastikan bahwa pelaku telah mengamati dan memilih calon korbannya melalui kondisi psikis wajah yang terekam jelas karena suasana matanya.

Dan masih banyak contoh lain lagi dari kekuatan bola mata; bagaimana seorang pimpinan perusahaan dengan mudah menentukan menerima atau menolak kandidat karyawannya hanya sesaat setelah bertemu dalam sesi interview. Keputusan Anda untuk membeli sebuah produk dari wiraniaga A daripada Wiraniaga B sekalipun keduanya menawarkan jenis produk yang sama kepada Anda.

Kekuatan mata demikian dahsyatnya, adalah berlaku sama untuk semua mahluk Tuhan. Anda bisa mengenali hewan kesayangan Anda sedang mood atau bad mood pun bisa disimpulkan dari matanya.

Bukti kebesaran Tuhan melalui karunia mata, paling menyentuh adalah dalam tayangan Kick Andy pekan lalu, yang mana menampilkan narasumber berprestasi. Itu hal menjadi biasa bila narasumber yang dihadirkan dalam kondisi sempurna. Dan tayangan Kick Andy episode ini menjadi demikian hebatnya berkat tampilan para saudara kita yang penglihatannya sedang dipinjam oleh Tuhan itu dengan prestasinya yang mengagumkan.

Bukan prestasinya yang mengagumkan saya, namun kekuatan matanya yang mampu menghadirkan wajah – wajah penuh semangat dan kegigihan mengalahkan ketidaksempurnaan. Wajah-wajah ini penuh senyum karena matanya yang tidak mampu memberikan terang kepadanya, melalui pemandangannya yang gelap, mata mereka telah mampu menghadirkan kekaguman dan sujud syukur atas kebesaran Tuhan.

Mata Anda adalah spion dari suasana hati Anda. Dari mata Anda, orang dengan mudah mengetahui Anda orang lemah atau kuat, Mata Anda adalah potensi Anda, walau apapun keadaannya … baik dalam terang maupun gelap.

Untuk menutup tulisan ini, baiklah bila kita simak syair apik dari keseluruhan lagu In Your Eyes dari George Benson.

I think i finally know you
I can see beyond your smile
I think that i can show you
That what we have is still worthwhile
Don’t you know that love’s just like the thread
That keeps unravelling but then
It ties us back together in the end

(chorus)

In your eyes, i can see my dream’s reflections
In your eyes, found the answers to my questions
In your eyes, i can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
And i think i’ve finally learned to love you more

You warned me that life changes
That no one really knows
Whether time would make us strangers
Or whether time would make us grow
Even though the winds of time will change
In a world where nothing stays the same
Through it all our love will still remain

(chorus)
In your eyes, i can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
And i think i’ve finally learned to love you more

~~~~~

Salam Bentoelisan

Mas Ben

P.s. Please forgive me ya mans-temans Bentoelisers terkasih, bila  gaya pengisahan saya kali ini sedikit keluar dari pakem Bentoelisan hehhee.

Posted Maret 8, 2011 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal

Tagged with , ,

Antara Nasi Tempe, Jadah Bakar dan Karunia   3 comments

Halo Bentoelisers, “Kiri Mas.” “Turun di sini Pak ?” tanya sopir angkota sambil mengurangi kecepatan kendaraan dan menepi. “Iya Mas, di sini saja.” Jawab Mas Ben. Mas Ben langsung menuju ke sebuah warung makan yang cukup besar. “Beli makan, Mas.” Kata Mas Ben kepada seorang yang ada di dekat dapur warung.

Orang itu cuma tersenyum sebagai balasan dan dia menunjuk kepada seseorang yang sedang ada di meja kasir sedang melayani seseorang lain.

Dilihatnya orang di meja kasir itu. Tampak serius sekali dia melayani seorang perempuan yang mendiktekan nama-nama menu, yang ditindaklanjuti dengan menuliskannya ke dalam bon nota pembayaran.

“Iya Bang, makanannya aja yang ditulis, Nanti saya yang kasih angka-angkanya. Oh ya, jangan lupa sama stempelnya ya Bang.” Terdengar jelas oleh Mas Ben percakapan mereka, walau si perempuan berusaha berbicara pelan.

Sudah ada lebih 5 menit Mas Ben menunggu untuk dilayani atau sekedar menanti kata, maaf sebentar ya. Namun karena penantian itu tidak juga menunjukkan harapan baik, dan orang yang duduk-duduk di dekat dapur pun tidak menunjukkan insiatif peduli pelanggan, apalagi perhatian dari dia yang sedang melayani di perempuan. … Ya sudah, Mas Ben pun bangkit dari duduknya, dan keluar membatalkan niat makan siangnya di warung itu.

Menjelang keluar pintu warung, masih dilihatnya si perempuan menunjukkan jari ke buku bon dan memberikan instruksi, yang dengan nurutnya dipatuhi oleh pemilik warung.

Di seberang warung yang baru saja ditinggalkannya, Mas Ben melihat dengan jelas warung sederhana; tiada dinding yang melingkupinya, hanya selembar plastik terpal sebagai penutup dan kain putih penghalang debu menerpa punggung pembeli bertuliskan “warung nasi”.

“Mau beli apa Dik ?” kata sambutan Ibu pemilik warung kepada Mas Ben, yang membuat Mas Ben cukup happy menerima sapaan Dik, itu :)

“Eh ya, gado-gaado Bu. Pedesnya sedeng saja ya.” Kata Mas Ben sambil menempatkan diri di bangku kayu sederhana.

Dalam sekejab sepiring gado-gado itu sudah ada di hadapannya penuh penyerahan diri meminta untuk segera disantap.

“Es-nya ada Bu ? Kalau ada, tolong dibikinkan es teh manis ya.” Kata Mas Ben,

Dilihatnya si Ibu memberikan selembar uang seribuan kepada ibu-ibu lain yang ada di warung itu. Rupanya itu uang untuk memberli es batu.

Saat Mas Ben asyik menikmati makan siangnya, “Boleh minta air dingin, Bu ?” Terdengar kata santun penuh hormat.

Dilihatnya 3 orang anak muda berpakaian dekil. Mereka itu biasa dikenal sebagai anak punk. “Ada Dik. Mau diminum di sini atau diplastik ?” Tanya si Ibu Warung.

“Kalau boleh kami pinjam gelasnya Bu, sekalian minta ijin neduh sebentar.” Jawab salah satu dari mereka, tetap dengan kesopanannya.

“Gorengan berapaan Bu ?” tanya remaja pertama sambil membuka kain serbet penutup nampan wadah gorengan.

“Lima ratusan, Dik.” Jawaban yang langsung direspon oleh anak itu dengan mengambil satu bakwan, dipecah-pecahnya menjadi 3 bagian,  lalu bertiga mereka menikmati gorengan itu.

Ya, memang fenomena anak punk itu sudah bukan hal asing lagi saat ini. Di beberapa wilayah komunitas ini sudah ada. Memang ada yang kelihatan sangat dekil dan ada yang lebih mengutamakan pernak-pernik aksesoris penghias penampilan mereka.

Sambil makan Mas Ben melihat Ibu Warung memperhatikan ketiga anak itu dengan kelahapannya menikmati bakwan dan mereguk air.

“Mau nasi Dik ?” Tiba-tiba suara Ibu warung memecah kesunyian. “Maaf Bu, kami tidak bawa uang cukup. Belum dapat banyak hasil ngamen dari pagi.

Tanpa menghiraukan jawaban anak-anak itu, Mas Ben melihat si Ibu dengan cekatan meracikkan ke dalam 3 piring, nasi dengan menambahkan sepotong tempe dan tahu bacam di masing-masing piringnya.

“Maaf, cuma ada tempe dan tahu saja ya.” Kata si Ibu sambil menyerahkan piring-piring itu. Tampak terlihat keraguan pada masing-masing wajah muda itu. “Tapi Bu, kami tidak …”

“Tidak apa-apa, ini untuk Adik-Adik. Kebetulan sudah mau habis, jadi tidak apa-apa, dimakan saja. Tidak bayar.” Jawab si Ibu.

Adegan sesaat itu sangat cukup meluluhlantakkan hati Mas Ben, menciptakan keharuan. Menyaksikan ketulusan si Ibu penjual gado-gado, begitupun kelahapan ketiga anak muda itu menyantap rejeki yang mereka terima.

Sepanjang perjalanan pulang Mas Ben, masih terus saja terbayang jelas wajah Ibu warung itu. Penuh kesederhanaan dan jauh dari kecantikan fisik. Berbeda sekali dengan wanita di warung yang ditinggalkan Mas Ben.

Ada persamaan antara Ibu warung dengan 3 anak punk, dan pemilik warung makan  berdinding dengan perempuan necis yang sebelumnya ditemui Mas Ben. Pada mereka ada hal pemberian dan penerimaan, namun berbeda buahnya. Buah segar dan ranum berbalut perkenan Tuhan telah diteladankan oleh si ibu warung, yang dalam kesederhanaan bahkan kekurangan mungkin, rela memberikan dengan tulus. Sebaliknya si perempuan dengan kecukupan yang tertampilkan melalui penampilannya, masih berusaha menambahkan atas hak yang telah diberikan Tuhan kepadanya dengan kecurangan. Entah apapun motifnya, [kan bisa saja bon palsu itu dibuatnya untuk menutupi bon dia yang hilang atau rusak] tetap saja perbuatan membuat bon palsu itu kalah mulianya bila dibandingkan dengan pengakuan kepada pihak yang perlu laporan atau pertanggungjawabannya. Mungkin dia berisiko merugi senilai uang yang bonnya hilang atau rusak. Namun bila perbuatannya itu aman-aman saja, tidak menutup kemungkinan akan menjadi kebiasaan buruk yang bersinambung.

Tiba-tiba,

“Mas Ben, piye to koq nggleler tanpa sapa gitu. Wajah manyun bibir mecucu.” Suara Mbah Samto membuyarkan lamunan Mas Ben.

“Eh, Mbah Samto, maaf Mbah. Hatiku sedang gundah gulana hari ini.” Jawab Mas Ben sambil melambaikan tangannya.

“Hallah ennnyyyyaaaaakk, gaya banget kata-katamu. Eh, sini dulu to, mampir ke warungku. Buat pancingan pembeli lain, dari pagi tadi sepi ini warungku.” Wis pokoknya jadah bakar sama teh manis tak-gratiskan wis. Buat penglarisan.

“Yang bener Mbah ? Woo dengan senang hati Mbah, mana jadah dan teh manisnya ? Antusias Mas Ben menerima limpahan anugerah rejeki jadah bakar dan teh manis siang itu.

Ah, mengapa ketulusan dan sukacita lebih sering hadir dari dari mereka yang sederhana.

Terimakasih Sang Hidup yang telah menciptakan dan menghadirkan mereka yang sederhana itu di antara angkara murka dan kerakusan masa.

 

Salam bentoelisan

Mas Ben

Posted Februari 12, 2011 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal

%d blogger menyukai ini: