BENTOELISAN

Tegas – Lugas – Ringkas – Cerdas

Antara Nasi Tempe, Jadah Bakar dan Karunia

3 Komentar


Halo Bentoelisers, “Kiri Mas.” “Turun di sini Pak ?” tanya sopir angkota sambil mengurangi kecepatan kendaraan dan menepi. “Iya Mas, di sini saja.” Jawab Mas Ben. Mas Ben langsung menuju ke sebuah warung makan yang cukup besar. “Beli makan, Mas.” Kata Mas Ben kepada seorang yang ada di dekat dapur warung.

Orang itu cuma tersenyum sebagai balasan dan dia menunjuk kepada seseorang yang sedang ada di meja kasir sedang melayani seseorang lain.

Dilihatnya orang di meja kasir itu. Tampak serius sekali dia melayani seorang perempuan yang mendiktekan nama-nama menu, yang ditindaklanjuti dengan menuliskannya ke dalam bon nota pembayaran.

“Iya Bang, makanannya aja yang ditulis, Nanti saya yang kasih angka-angkanya. Oh ya, jangan lupa sama stempelnya ya Bang.” Terdengar jelas oleh Mas Ben percakapan mereka, walau si perempuan berusaha berbicara pelan.

Sudah ada lebih 5 menit Mas Ben menunggu untuk dilayani atau sekedar menanti kata, maaf sebentar ya. Namun karena penantian itu tidak juga menunjukkan harapan baik, dan orang yang duduk-duduk di dekat dapur pun tidak menunjukkan insiatif peduli pelanggan, apalagi perhatian dari dia yang sedang melayani di perempuan. … Ya sudah, Mas Ben pun bangkit dari duduknya, dan keluar membatalkan niat makan siangnya di warung itu.

Menjelang keluar pintu warung, masih dilihatnya si perempuan menunjukkan jari ke buku bon dan memberikan instruksi, yang dengan nurutnya dipatuhi oleh pemilik warung.

Di seberang warung yang baru saja ditinggalkannya, Mas Ben melihat dengan jelas warung sederhana; tiada dinding yang melingkupinya, hanya selembar plastik terpal sebagai penutup dan kain putih penghalang debu menerpa punggung pembeli bertuliskan “warung nasi”.

“Mau beli apa Dik ?” kata sambutan Ibu pemilik warung kepada Mas Ben, yang membuat Mas Ben cukup happy menerima sapaan Dik, itu :)

“Eh ya, gado-gaado Bu. Pedesnya sedeng saja ya.” Kata Mas Ben sambil menempatkan diri di bangku kayu sederhana.

Dalam sekejab sepiring gado-gado itu sudah ada di hadapannya penuh penyerahan diri meminta untuk segera disantap.

“Es-nya ada Bu ? Kalau ada, tolong dibikinkan es teh manis ya.” Kata Mas Ben,

Dilihatnya si Ibu memberikan selembar uang seribuan kepada ibu-ibu lain yang ada di warung itu. Rupanya itu uang untuk memberli es batu.

Saat Mas Ben asyik menikmati makan siangnya, “Boleh minta air dingin, Bu ?” Terdengar kata santun penuh hormat.

Dilihatnya 3 orang anak muda berpakaian dekil. Mereka itu biasa dikenal sebagai anak punk. “Ada Dik. Mau diminum di sini atau diplastik ?” Tanya si Ibu Warung.

“Kalau boleh kami pinjam gelasnya Bu, sekalian minta ijin neduh sebentar.” Jawab salah satu dari mereka, tetap dengan kesopanannya.

“Gorengan berapaan Bu ?” tanya remaja pertama sambil membuka kain serbet penutup nampan wadah gorengan.

“Lima ratusan, Dik.” Jawaban yang langsung direspon oleh anak itu dengan mengambil satu bakwan, dipecah-pecahnya menjadi 3 bagian,  lalu bertiga mereka menikmati gorengan itu.

Ya, memang fenomena anak punk itu sudah bukan hal asing lagi saat ini. Di beberapa wilayah komunitas ini sudah ada. Memang ada yang kelihatan sangat dekil dan ada yang lebih mengutamakan pernak-pernik aksesoris penghias penampilan mereka.

Sambil makan Mas Ben melihat Ibu Warung memperhatikan ketiga anak itu dengan kelahapannya menikmati bakwan dan mereguk air.

“Mau nasi Dik ?” Tiba-tiba suara Ibu warung memecah kesunyian. “Maaf Bu, kami tidak bawa uang cukup. Belum dapat banyak hasil ngamen dari pagi.

Tanpa menghiraukan jawaban anak-anak itu, Mas Ben melihat si Ibu dengan cekatan meracikkan ke dalam 3 piring, nasi dengan menambahkan sepotong tempe dan tahu bacam di masing-masing piringnya.

“Maaf, cuma ada tempe dan tahu saja ya.” Kata si Ibu sambil menyerahkan piring-piring itu. Tampak terlihat keraguan pada masing-masing wajah muda itu. “Tapi Bu, kami tidak …”

“Tidak apa-apa, ini untuk Adik-Adik. Kebetulan sudah mau habis, jadi tidak apa-apa, dimakan saja. Tidak bayar.” Jawab si Ibu.

Adegan sesaat itu sangat cukup meluluhlantakkan hati Mas Ben, menciptakan keharuan. Menyaksikan ketulusan si Ibu penjual gado-gado, begitupun kelahapan ketiga anak muda itu menyantap rejeki yang mereka terima.

Sepanjang perjalanan pulang Mas Ben, masih terus saja terbayang jelas wajah Ibu warung itu. Penuh kesederhanaan dan jauh dari kecantikan fisik. Berbeda sekali dengan wanita di warung yang ditinggalkan Mas Ben.

Ada persamaan antara Ibu warung dengan 3 anak punk, dan pemilik warung makan  berdinding dengan perempuan necis yang sebelumnya ditemui Mas Ben. Pada mereka ada hal pemberian dan penerimaan, namun berbeda buahnya. Buah segar dan ranum berbalut perkenan Tuhan telah diteladankan oleh si ibu warung, yang dalam kesederhanaan bahkan kekurangan mungkin, rela memberikan dengan tulus. Sebaliknya si perempuan dengan kecukupan yang tertampilkan melalui penampilannya, masih berusaha menambahkan atas hak yang telah diberikan Tuhan kepadanya dengan kecurangan. Entah apapun motifnya, [kan bisa saja bon palsu itu dibuatnya untuk menutupi bon dia yang hilang atau rusak] tetap saja perbuatan membuat bon palsu itu kalah mulianya bila dibandingkan dengan pengakuan kepada pihak yang perlu laporan atau pertanggungjawabannya. Mungkin dia berisiko merugi senilai uang yang bonnya hilang atau rusak. Namun bila perbuatannya itu aman-aman saja, tidak menutup kemungkinan akan menjadi kebiasaan buruk yang bersinambung.

Tiba-tiba,

“Mas Ben, piye to koq nggleler tanpa sapa gitu. Wajah manyun bibir mecucu.” Suara Mbah Samto membuyarkan lamunan Mas Ben.

“Eh, Mbah Samto, maaf Mbah. Hatiku sedang gundah gulana hari ini.” Jawab Mas Ben sambil melambaikan tangannya.

“Hallah ennnyyyyaaaaakk, gaya banget kata-katamu. Eh, sini dulu to, mampir ke warungku. Buat pancingan pembeli lain, dari pagi tadi sepi ini warungku.” Wis pokoknya jadah bakar sama teh manis tak-gratiskan wis. Buat penglarisan.

“Yang bener Mbah ? Woo dengan senang hati Mbah, mana jadah dan teh manisnya ? Antusias Mas Ben menerima limpahan anugerah rejeki jadah bakar dan teh manis siang itu.

Ah, mengapa ketulusan dan sukacita lebih sering hadir dari dari mereka yang sederhana.

Terimakasih Sang Hidup yang telah menciptakan dan menghadirkan mereka yang sederhana itu di antara angkara murka dan kerakusan masa.

 

Salam bentoelisan

Mas Ben

Iklan

3 thoughts on “Antara Nasi Tempe, Jadah Bakar dan Karunia

  1. kaki lima, selain bisa dinikmati tanpa ‘birokrasi’ yang merepotkan juga menjanjikan interaksi yang lebih gurih..

    nuwun, Om 😀

    Suka

    • @Sayur Asem : Wuih dapet komen dari Guru Kim Hong Do, sayanya hehehe. Selamat datang di Bentoelisan ya 🙂 Terimakasih atensinya.

      @Johar Manik : Lhah waktu pertama ke Jakarta, makan gado-gado juga ya hehehe. Selamat datang di Bentoelisan ya 🙂

      Salam bentoelisan
      Mas Ben

      Suka

  2. Ah…jadi ingat waktu pertama kali merantau ke Jakarta… .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s