Archive for the ‘Keluarga bahagia’ Tag

Atya Sudah Besar   7 comments

Halo Bentoelisers,

“Aku berangkat dulu Jeng.” Pamit Mas Ben kepada isterinya, sambil menggamit tas dan menyelempangkan ke bahunya.

Diciumnya pipi dan kening isterinya.

Jeng Arum merapihkan posisi baju bagian depan suaminya. “Perutnya udah mancung, bajunya jangan dimasukkan terlalu ketat, dikendorkan sedikit bagian depannya, biar rapih dilihatnya.”

“Ayo Atya salim sama Bapak.” Mas Ben mengulurkan tangannya kepada putranya yang tengah asyik dengan motor mininya.

“Ayo Atya, bocah bagus. Salim sama Bapak dong.” Kata Jeng Arum sambil meraih tangan si kecil Atya mengarahkannya ke tangan Mas Ben.

“Lho koq ndak mau, gimana to. Bagusnya kurang kalau begitu.”

“Ya sudah kalau ndak mau salim, berarti disun saja ya.” Mas Ben berjongkok dan mencium putranya yang semakin menggemaskan saja itu.

“Hati-hati Mas, jangan diajak pulang masalah dari pabrik.” Jeng Arum mengiringi Mas Ben hingga pintu pagar, sambil mendorong motor mini dengan Gus Atya di atasnya bergaya pembalap hebat.

“Da da Bapak.” Jeng Arum melambai-lambaikan tangan kecil Gus Atya.

“Daaaagggghh Atya, ndak boleh nakal di rumah ya.”

Membayangkan betapa suka dan asyiknya Gus Atya bermain dengan motor mininya, menghadirkan kesejukan hati Mas Ben dan Jeng Arum. Terungkap kesyukuran atas karunia rejeki atas keluarga mereka, terutama berkah besar atas hadirnya Gus Atya di antara mereka.

Terlukis di ruang benaknya, betapa riangnya Gus Atya ketika diajak ke sebuah pusat perbelanjaan. Dia berontak turun dari gendongan ibunya, berlari kesana-sini dengan kaki kecilnya diikuti ibunya yang tampak kepayahan tidak selincah putranya.

“Mas Ben, itu ada motor-motoran sedang diskon. Kita belikan Atya ya.” Ujar Jeng Arum yang dibalas dengan anggukan Mas Ben.

“Ayo Atya, mau motor-motoran yang mana ?” Jeng Arum menggandeng tangan putranya.

Gus Atya yang sedang asyik berlari-lari kecil tampak girang dalam gandengan ibunya, seolah mengetahui hendak beroleh hadiah mainan baru dari orang tuanya.

“Eh Atya, ndah boleh ditarik-tarik, nanti sobek plastiknya.” Mas Ben merangkul dan menggendong Atya, yang antusias meraih beberapa mainan. Tampak suka sekali dia.

Akhirnya terpilih sebuah motor mini berwarna hijau daun pisang muda.

Gus Atya langsung merebutnya dari genggaman bapaknya.

“Eh, nanti Atya. Dititipkan dulu ke Mbaknya ya, kita mau masuk dulu beli hadiah buat simbah.” Bujuk Jeng Arum sambil melepaskan tangan Atya dari motor-motoran barunya.

Mereka bertiga memasuki toko besar itu. Gus Atya sudah melupakan motor-motorannya. Dia kembali ke sana-kemari diantara bebajuan yang tergantung rapih. Kembali Jeng Arum dibuatnya kelabakan “menjinakkan” kelincahan putranya itu.

Memang Mas Ben dan jeng Arum berencana mencicil dari awal belanja untuk lebaran nanti, membelikan hadiah untuk orang tua mereka di kampung. Satu hal yang baru diketahui setelah menikah oleh Mas Ben [selama masa pacaran Mas Ben belum tahu], adalah kelihaian Jeng Arum dalam mengelola rejeki mereka. Jeng Arum selalu mampu menyisihkan sebagian dari gaji Mas Ben untuk estimasi kebutuhan jangka panjang. Mulai dari untuk keperluan diweselkan ke orang tua mereka, juga termasuk untuk anggaran selama libur lebaran dan segala keperluannya, hingga kepada keperluan untuk Tuhan yang akan diserahkan kepada rumah ibadah setiap tahunnya.

Mas Ben juga sempat dibuat kaget dan takjub ketika Jeng Arum menyampaikan rencana membeli sawah di kampung.

“Lho, apa kita punya tabungan cukup Jeng ? Kita juga harus punya cadangan untuk sekolah Atya, sekarang Atya sudah mulai besar lho.”

“Ya Mas, kata Bapak di kampung ada orang perlu uang. Dia mau jual sawahnya ke Bapak, dan Bapak menawarkan ke saya apa kita mau. Itu juga bukan kita semua yang beli kok Mas, uang kita cuma cukup buat sepetak saja. Jadi yang 2 petak itu Bapak yang beli.”

“Kalau Mas Ben kasih ijin, sawah itu nanti Bapak dan Ibu yang garap. Hasil dari bagian sawah kita disimpan untuk keperluan sekolah Atya.”

Mas Ben manggut-manggut.

“Ya sudah, boleh asal tidak menjadi kerepotan Jeng Arum menata rejeki kita.

Mas Ben benar-benar sukacita hatinya, atas berkah besar yang telah dipercayakan oleh Tuhan, yaitu sebuah cinta dalam keluarga.

Tiada kebahagiaan terbesar bagi seorang pria selain menjadi pendamping dari seorang isteri yang berbakti dan seorang putra yang manis.

Hanya satu pinta kami ya Tuhan, ijinkan kami untuk menjadi saksi pertumbuhan baik putra kami yang Kau titipkan pengasuhannya kepada kami, dan mengalami kesuksesannya dalam pelayanan kepadaMu dan keluarganya kelak dalam restu kami dan restuMu ya Tuhan. Amin.

Salam bentoelisan

Mas Ben

Iklan

Posted Juli 7, 2010 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal

Tagged with , , ,

%d blogger menyukai ini: