Archive for the ‘Cerpen Tiga Paragraf’ Tag

BECAKKU MALANG ANAKKU SAYANG   Leave a comment

Dear Pembaca,

 

Saya pandangi becak saya. Ada rasa haru ketika bisa membawanya kembali pulang. Saat becak saya gadaikan, hampir setengah tahun saya beralih profesi pemulung, hingga akhirnya saya berhasil mengumpulkan cukup uang untuk bisa menebusnya. Rupanya beban hidup saya menular kepada becak saya, selama masa tergadai, becak saya disewakan untuk mengangkut bongkaran rumah, ya kaso, ya balok, ya tegel, dan genteng. Alhasil becak saya mengkis-mengkis menunaikan tugas berat itu. Bukan sekedar jog-nya yang nggembos dan terkoyak di beberapa bagian, kayuhannya pun jadi terasa tidak nyaman, karena peleg-nya yang agak mleot. Akhirnya saya mesti menebus dosa dengan membawanya ke bengkel becak ternama di kota.

Ya, saya masih tetap tukang becak, asli wong ndeso yang bangga nderek Gusti Yesus. Saya pun bahagia sempat menjadi pemulung, gara-gara becak saya gadaikan demi menebus biaya perawatan penumpang saya, di rumah sakit. Saya percaya berkah Gusti tidak pernah kendat, karena Gusti Yesus tidak pernah sare. Seperti siang ini, ketika saya bisa makan siang dari sangu yang dibekalkan oleh istri saya – jadi ngirit, tidak seperti dulu yang perlu keluar uang buat jajan, atau bila sedang tidak punya uang harus rela berpuasa.

Kebahagiaan dan rasa syukur saya membuncah ketika setiap sore sesampai di rumah selalu mendapat sambutan mesra dari istri terkasih dan putra mungil saya yang dengan celoteh riangnya. Benar-benar lelah sehari mbecak seketika pupus melihat tawa ceria putra kami yang baru berusia empat bulan ini menggeliat manja dalam gendongan saya. Oh ya, perkenalkan istri saya – dia perempuan yang pada menjelang natal tahun lalu saya antar ke dukun untuk menggugurkan kandungannya. Puji syukur, berkat kasih Gusti, perbuatan dosa kami tidak terlaksana. Si Ibu berhasil diselamatkan, demikian pun dengan bayinya berhasil melalui proses persalinannya dengan lancar dan lahir sehat – kini menjadi anak saya. Hari ini saya pulang cepat, karena mau bersiap-siap dandan ngganteng malam nanti mau berangkat misa malam natal, bersama istri dan anak lanang terkasih. Berkah Dalem.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Iklan

Posted Desember 31, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , , ,

[Pentigraf] NYANYIAN SEORANG IBU   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam posting kali ini Mas Ben sajikan sebuah karya cerpen tiga paragraf (Pentigraf).

Selamat menikmati 🙂

 

NYANYIAN HATI SEORANG IBU

Ben Sadhana

 

Perempuan itu histeris di menara BTS, mengancam akan melompat. Wajah-wajah panik bersemu kengerian hilir mudik di bawah dan sekitar lokasi BTS. Terlihat dua orang menaiki menara berusaha membujuk agar perempuan itu mau turun. Kepanikan semakin menjadi ketika ia semakin naik. Bukan lagi menangis, melainkan tertawa-tawa keras, dan mulutnya meracau seperti melagukan nyanyian yang tidak jelas.

“Turun Nduk, eling”, teriakan seorang perempuan tua yang baru hadir. Ia datang tergopoh-gopoh ditemani dua orang pria. “Nyebut Nduk, eling anakmu masih kecil.” Kembali perempuan itu merajuk mengiba. Sejenak perempuan di atas menara menghentikan tawa dan nyanyiannya, memandang ke bawah – ke arah perempuan tua. “Anakku sudah mati, aku juga mau mati,” jeritnya. Kemudian terdengar tangisnya yang menyayat hati. “Ini anakmu, Nduk. Cepat turunlah,” kembali wanita tua mengiba memohon sambil mengunjukkan boneka yang terbungkus kain, memunculkan keheranan orang-orang yang ada.

Tiba-tiba angin berembus kencang, membuatnya kehilangan keseimbangan. Kini tubuhnya bergelantungan dengan satu tangan, satu tangannya lagi menggapai-gapai berusaha meraih pegangan, menambah dramatis suasana. “Raih tangan saya,” teriak petugas PMK yang didatangkan untuk menolongnya. Sedikit ragu – ragu perempuan itu memandang petugas, perlahan tangannya terulur … jarinya sudah menyentuh ujung jari petugas ketika seekor burung gagak melintas di antara keduanya. “Oh, Tuhan !” Spontan pekik petugas. Wajahnya dipalingkan, tidak kuasa menyaksikan tubuh perempuan itu melayang meluncur deras ke bawah. Hingga didengarnya pekik kelegaan orang-orang di bawah. Perempuan itu selamat. Tubuhnya jatuh tepat di atas jaring yang telah dibentangkan dengan enam orang memegangnya. Dari ketinggian dilihatnya perempuan itu kini dengan boneka dalam gendongannya, patuh ketika dua orang yang datang bersama perempuan tua itu membimbingnya menuju mobil putih yang akan membawanya kembali ke rumah sakit jiwa.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Posted November 17, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , ,

Denisa   Leave a comment

Denisa primadona keluarga kami. Bukan cuma aku, suami dan anak-anak kami, bahkan Rosidah pembantu rumah tangga kami, sangat sayang padanya, berkat penampilannya yang kalem, sikapnya yang penurut serta tidak neko-neko. Tidak cuma satu dan sekali saja, beberapa tamu kami pun melontarkan pujian. “Wah, beruntung lho Jeng, bisa adopsi anak yang imut manis menggemaskan gini” – demikian pujian selangit dari Bu Condro kepada Denisa saat acara arisan di rumah kami.

Kepanikan meliputi keluarga kami. Denisa menghilang dari rumah. Semua panik termasuk Rosidah yang tak kurang paniknya, sampai tugas pokok mengurus housekeeping rumah dan mengatur semua keperluan untuk keluarga kami ditinggalkannya, demi berkeliling ke setiap rumah di kompleks kami demi melacak keberadaan Denisa. “Sudah dua hari Denisa tidak pulang, bagaimana ini Bu”, – kesedihan mendalam terbaca jelas di wajahnya. “Apa kita lapor polisi saja Bu ?” – imbuhnya, yang segera kujawab jangan dulu. Upaya Eunike putri kami menyebar info hilangnya Denisa, termasuk menyebar fotonya ke media cetak, online bahkan termasuk memasangnya di pohon dan tiang listrik, juga belum membuahkan hasil.

“Ma, nanti ada orang dari PLN mau tebas ranting pohon kita, Rosidah suruh siapkan teh dan penganan untuk menjamu.” – Pesan suamiku, bersiap berangkat kerja. – “Jangan lupa kabari Papa, kalau ada perkembangan kabar tentang Denisa”, yang kuiyakan sambil kucium punggung tangannya. – Aku sedang di dapur memasukkan nasi dan lauk pauk ke lemari makan, ketika tiba – tiba kudengar suara Rosidah dari depan, “Alhamdullillah Bu, Denisa sudah ketemu”. Aku bergegas berlari ke depan. Dan benar, kulihat Rosidah di bawah pohon yang dipangkas dengan wajah semringah, dan sementara dari atas pohon, Petugas PLN hati – hati turun menapaki satu persatu anak tangga bambu sambil menggendong Denisa yang langsung disambut Rosidah, berpindah ke dalam pelukannya. Betapa girangnya keluarga kami, Denisa telah kembali. Ya, Denisa primadona keluarga kami, kucing betina yang kami adopsi dari keluarga Pakde Gondo empat bulan lalu.


Salam

Ben Sadhana

Posted Agustus 7, 2017 by Ben Sadhana in Jurnal, Sastra

Tagged with , ,

Ratu Pentas   Leave a comment

Kusapukan pandangan ke arena luas di hadapanku. Akhirnya pentas ini menjadi milikku. Kuat kutahan genangan di pelupuk mata agar tak bergulir membasahi pipi merusak polesan riasan wajahku. Kuperhatikan ke arah tempat penonton, telah berkumpul laki-laki dan wanita dari berbagai golongan usia. Sesaat lagi, Gusti berikan kuat hambaMu ini.

Lampu pun menyala, tanda pentas harus kumulai, dan ini pentas pertamaku. Tandakku melenggak seirama nada menghentak gending pengiring. Sampurku berkelebatan ikut menari. Menari dan menari.

Tiada tepuk maupun sorak dari penonton. Begitu pun ketika aksiku berakhir. Wajah – wajah kaku nan dingin tetap tiada respon berarti tanda apresiasi, termasuk ketika saat satu persatu kuhampiri mereka sodorkan kantung berharap derma. Penontonku pun berhamburan meniggalkanku yang menepi di bawah traffic light menantikan saatku masuk pentas lagi.


Salam

Ben Sadhana

Posted Agustus 7, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , ,

%d blogger menyukai ini: