Archive for the ‘21 April’ Tag

Door Duistermis tox Licht   7 comments

Halo Bentoeliser,

“Mas Ben, Bu Guru Retno cantik ya ? Lihatlah dia hari ini berkebaya.” suara Jeng Arum yang sedang dibonceng Mas Ben dengan sepeda.

“Mana Jeng ?” tanya Mas Ben sigap sambil tolah toleh.

“Halah Mas Ben, kalau denger ada orang ayu saja lho, lupa kalau sedang mboncengkan isterinya.” Jeng Arum mencubit pinggang suaminya yang kimplah-kimplah itu.

“E eh jeng, jangan njiwit gitu, kita bisa jatuh lho.” Mas Ben berusaha menguasai sepedanya yang oleng, berkat kaget dicubit isterinya.

“Ya, suami yang baik kan mesti jujur Jeng. Kalau nyatanya Bu Guru Retno itu ayu, ya moso mesti saya dustakan to.” Celoteh Mas Ben cuek.

“Oh jadi gitu, saya kurang cantik ya ? Jeng Arum merajuk manja mempererat pelukannya ke pinggang Mas Ben.

“Isteriku memang ndak cantik ….”

“Hayooo … ” Jeng Arum mencubit kembali suaminya.

“Aduh. Maksud saya Jeng Arum itu ndak cantik tapi cuantik, gitu.” Jelas Mas Ben menghentikan sepedanya sambil meringis mengelus pinggangnya.

Jeng Arum tersenyum, melihat roman wajah suaminya yang kesakitan karena cubitan mautnya.

“Ayo Mas, nanti keburu banyak antriannya lho.”

Mas Ben kembali mengayuh sepedanya, menuju kantor PLN.

Pemandangan yang sama di sekolah dasar dekat rumah Mas Ben, nuansa memeperingati hari Kartini pun tampak di kantor PLN. Para pegawai perempuannya mengenakan baju kurung dan bando bunga menghiasi kepala mereka.

“Koq senyam-senyum to Mas ?” tanya Jeng Arum.

“Eh iya, Jeng. Saya teringat ketika hari Kartini SD dulu. Saya dan adik saya didandani oleh ibu dengan baju surjan. Kami dan 3 orang kawan laki-laki lain menjadi aneh sendiri karena memakai baju daerah.” Mas Ben bercerita, matanya menerawang.

“Lho koq bisa ?” Tanya Jeng Arum.

“Iya, waktu itu kan yang dianjurkan memakai pakaian adat daerah itu murid perempuan. Jadi bila kami lima pria kecil waktu itu pakai jarik dan surjan, lainnya pakai seragam pramuka.” Mas ben terkekeh.

“Iya ya Mas, saya sunguh bangga dan bersyukur bahwa kita memiliki tokoh wanita yang perkasa dan berpikiran maju jauh melampaui kaumnya yang lain di masanya yang masih feodal. Apalagi beliau kan juga berasal dari kota kelahiran saya.” Jeng Arum mengerling genit.

“Iya, makanya saya pilih isteri dari kotanya RA Kartini.” balas Mas Ben sambil melipat koran di tangannya, mengembalikan ke gantungannya.

Antrian telah sampai pada mereka, berdua bangkit menuju loket pembayaran. Membayar tagihan dan bergegas pulang.

Mereka mampir ke rumah Lik Promo untuk mengambil Gus Atya, putera mereka yang dititipkan kepada keluarga baik itu.

Si kecil Atya yang melihat bapak ibunya datang, sigap turun dari pangkuan Yu Promo, tertatih dengan kaki kecilnya menyambut.

“Eeee bocah bagus, tidak nakal kan tadi ditinggal ?” Jeng Arum mengangkat tubuh kecil montok anaknya menggendongnya.

“Anak kecil kalau ndak nakal yo ndak pinter.” kata Lik Promo dan isterinya hampir bersamaan.

“Wah pengagum RA Kartini sejati to Lik ?” Kata Mas Ben seraya meraih buku RA Kartini di meja.

“Oh itu, buku adikmu si Retno. Dia mau tular pengetahuan untuk murid-muridnya.” Jawab Lik Promo.

“Anak yang lugu tapi rasa cintanya pada kisah perjalanan bangsanya gede sekali si Retno itu.” Tambah Yu Promo.

“Lha iya, kalau bukan kita siapa lagi yang mesti memberikan penghormatan kepada para pahlawan dan pejuang bangsa kita. Kan iya to ?” Lanjut Yu Promo.

Mas Ben sudah larut dalam pembacaan cerita kisah RA Kartini … :

Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.

Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.

Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.

Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.

Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama. Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa pembinaan.

[sumber : http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/k/kartini-ra/index.shtml%5D

“Eh, ada tamu … Gus Atya juga.” Suara Bu Guru Retno mengagetkan semua, termasuk Mas Ben yang penasaran oleh keayuan Bu Guru Retno berkebaya, langsung menghetikan keasyikan bacanya.

“Sudah pulang Nduk ?” Tanya Lik Promo.

“Sudah Pak, hari ini pulang cepat. Di sekolah cuma upacara dan lomba keluwesan busana oleh anak-anak.”

“Wah, jadi ingat masa kecil saya. Yang menang lomba siapa Bu ?” Celetuk Mas Ben.

“Dik Ningtias, puteranya Kang Darno, Mas Ben.”

“Wah kalau dia memang sudah bakat cantik.” giliran Jeng Ayu berkomentar … diiringi senyum tawa yang ada penuh keakraban.

Demikianlah kisah di Mas Ben dan Bentoelisan memperingati hari Kartini. selamat memperingati hari Kartini 🙂

Salam bentoelisan

Mas Ben

Iklan

Posted April 21, 2010 by Ben Sadhana in Jurnal

Tagged with , , , ,

%d blogger menyukai ini: