Archive for the ‘Romo Mangun’ Tag

Kekagumanku   11 comments

Halo Bentoelisers,

… dari dalam buih-buih putih mendidih muncullah wajah, lalu sosok seorang gadis berkuncup-kuncup harapan; basah kuyup, rambut panjang sebagian terurai tak keruan dari ikatan; tertawa bahagia karena baru saja ter-kapyuk serombongan riak-riak nakal. Nyaris gadis itu jatuh tak mampu menahan dekapan kurang ajar ombak-ombak.

Si Duyung, begitu panggilan sayang orang-orang kampung untuk si dara itu. Dan memang, bila perahu pulang penuh bakul ikan-ikan perak yang mengilau di cahaya matahari pagi, dan orang-orang di darat melihat si perawan remaja itu gesit ikut mengayuh dalam kainnya yang serba basah, bahkan sering pucuk kain setengah lepas [dan nun kala itu, dada sehat masih dibiarkan merayakan kemerdekaan], kesan putri duyung harus diakui sungguh ada.

Gugusan kata-kata “nakal” namun kental makna sastrawi di atas mengalir lembut dari ruang batin seorang YB Mangunwijaya, yang terangkai apik mengawali novel triloginya – Rara Mendut.

Mas Ben menyelipkan karton penyekat penanda lembaran terakhir terbaca olehnya. Diletakkannya buku setebal 799 halaman yang baru dibacanya beberapa lembar itu di sebelahnya. Kedua tangannya bertangkup ditarik ke atas seiring kedua kakinya terdorong.

“Istirahat mbaca Mas ?” Tanya Jeng Arum, istrinya yang tiba-tiba sudah di sampingnya menyuguhkan teh hangat manis kesukaannya.

“Iya, sedang merenungkan makna kata-katanya. Berat ternyata.”

“Oalah Mas, baru selesai se-bab to ?”

Jeng Arum meraih buku itu dan melanjutkan pembacaannya yang sudah lebih setengahnya.

“Mau kemana Mas ? Wong ditemani, kok malah ninggal.” Kata Jeng Arum, melihat suaminya bangkit menuju kamar.

“Mau menuliskan kisah Romo Mangun, Jeng. Mumpung saya lagi mood dan terinspirasi tentang beliau.” Jawab Mas Ben menyibak kain gordin kamar, sambil sudah menjinjing notebooknya.

Jeng Arum dilihatnya sudah asyik dengan kegiatan bacanya.

Sudah sejak lama Mas Ben mengagumi Romo Mangun. Banyak hal dan talenta menyertai perjalanan hidup dan karya pelayanan Beliau yang menjadikan Mas Ben terobsesi untuk dapat setidaknya tertular sedikit dari kelebihan Romo Mangun.

Romo Mangun lahir di Ambarawa – Jawa Tengah pada tanggal 6 Mei 1929 dengan nama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dari orang tuanya Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.

Mengawali pendidikannya di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang (1936 – 1943). Lalu berturut-turut di STM Jetis, Yogyakarta (1943 – 1947), dan SMU-B Santo Albertus, Malang (1948 – 1951). Pendidikan seminari pada Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta, yang dilanjutkan ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang.

Karir karya pelayanan Beliau dimulai pada tahun 1959. Beliau ditahbiskan sebagai Imam oleh Uskup A Soegijapranata SJ, yang juga mentor beliau. Romo Mangun pertama kali bertemu Romo A Soegijapranata ketika menuntut ilmu di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru.

Namun demikian, cita-cita sejak lama untuk menjadi insinyur tidaklah hilang. Itulah sebabnya, setelah ditahbiskan, atas amanat dari gereja, Beliau melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur ITB, pada tahun 1959. Dari ITB, melanjutkan studi di universitas Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada 1960, yang diselesaikannya pada tahun 1966. Pendidikan arsitektur inilah yang kemudian memberinya landasan yang kuat untuk menghasilkan beragam karya arsitektural yang justru menghadirkan nuansa baru dalam arsitektur Indonesia. Tidak heran pula bila Romo Mangun kemudian dikenal sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Sebut saja kompleks peziarahan Sendangsono, Gedung Keuskupan Agung Semarang, Bentara Budaya Jakarta, termasuk beberapa gereja. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pun menganugerahkan kepada Beliau IAI Awards 1991 dan 1993 sebagai penghargaan atas beberapa karyanya.

Adapun karya arsitektural di Kali Code menjadi menjadi salah satu “monumen” Romo Mangun. Beliau membangun kawasan pemukiman warga pinggiran itu tidak sebatas pembangunan fisik, tapi sampai pada fase memanusiakan manusia. “Penataan lebih pada segi sosio-politis dan pengelolaan kemasyarakatan,” demikian tutur Romo Mangun, yang dikenal juga sebagai bapak dari masyarakat “Girli” (pinggir kali) mengenai “monumen”-nya tersebut. Penataan lingkungan di Kali Code itu pun membuahkan The Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992. Tiga tahun kemudian, karya yang sama ini membuahkan penghargaan dari Stockholm, Swedia, The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award untuk kategori arsitektur demi rakyat yang tak diperhatikan.

Aga Khan Award yang merupakan penghargaan tertinggi di bidang Arsitektur diraih untuk konsep penataan lingkungan di Kali Code, Yogyakarta. Pendidikan di bidang Humanistic Studies yang diselesaikan Romo Mangun pada tahun 1978 di Colorado nampaknya makin membuat Beliau menjadi seorang Humanis. Konsep penataan lingkungan ini merupakan proyek peremajaan lingkungan kumuh yang sangat manusiawi. Romo Mangun tidak hanya membuat konsep tersebut. “Rumah Mangun” juga didirikan di lingkungan tersebut, di samping kediaman para pemulung sampah, tukang becak, anak-anak penyemir sepatu dan “wong cilik” lainnya. Rumah panggung yang berdinding gedhek ini tidak pernah sepi dari pengunjung.

Romo Mangun memang mengalami berkat berlebih dari Tuhan, beliau terlahir sebagai seorang yang multi-talent; rohaniwan, arsitek, budayawan, sastrawan dan pendidik yang humanis sekaligus.

Sikap kritis dalam berbudaya, bukan hanya melulu bersumber pada budaya tradisional dan budaya masa lalu. Tetapi juga budaya kontemporer masa kini. Dalam hal ini, Romo Mangun memfokuskan pada sesuatu yang juga Beliau kenal dengan baik, budaya teknologi modern. Walau seorang insinyur, Romo Mangun tidak terhanyut dalam pemikiran dan spesifikasi teknis dari ketrampilannya tersebut, tetapi mencoba untuk merefleksikannya sebagai bagian dari gema budaya manusia. Tulisan-tulisan Beliau mengajak untuk melihat bagaimana budaya masa kini bisa menjadi hambatan dalam memanusiakan manusia, dan mengajak kita untuk bersikap kritis, bukan hanya sebagai penerima budaya teknik secara pasif, tetapi bersikap sebagai aktor dalam perjalanan budaya masa depan, seorang aktor dalam membentuk budaya yang semakin menghargai kemanusiaan.

Romo Mangun dikenal sangat dekat dengan semua golongan agama. Perbedaan agama bagi Beliau bukan suatu persoalan yang besar. “Bagi saya yang nomor satu bukan agama, melainkan iman dan takwa. Banyak orang yang beragama tapi tidak beriman,” ungkap Romo Mangun dalam berbagai kesempatan. Sikap toleransi ini dibuktikan nyata dengan pembelaan beliau Pada tahun 1986, ketika mendampingi warga Kedungombo yang kala itu memperjuangkan lahannya dari pembangunan waduk. Pembelaannya kepada nasib penduduk Kedungombo menyebabkan Beliau dituduh sedang melakukan kegiatan Kristenisasi. Meski demikian tidak menyurutkan semangat kemanusiaan Beliau. Hingga perjuangan keras itu berbuah manis ketika pada tanggal 5 Juli 1994, akhirnya Mahkamah Agung RI mengabulkan tuntutan kasasi 34 warga Kedungombo. Malahan warga memperoleh ganti rugi yang nilainya lebih besar daripada tuntutan semula.

Dalam bidang kesusastraan, buah tangannya tidak dimungkiri pula. Sebut saja “Burung-Burung Manyar” (1981) yang memperoleh penghargaan dari Ratu Thailand Sirikit lewat ajang The South East Asia Write Award 1983. Beliau juga menjadi orang Indonesia kedua setelah Goenawan Mohammad yang mendapat penghargaan The Professor Teeuw Award di Leiden, Belanda, untuk bidang susastra dan kepedulian terhadap masyarakat.

Dalam dunia sastra, novel-novel karya Romo Mangun banyak memberikan kepada pembacanya kesempatan untuk menikmati kompleksitas persoalan dan seni menuliskannya. Bukan hanya politik sebagai muatan sastra yang penting, tetapi juga sejarah, relijiusitas, ketegangan.

Melalui novel sebagai corong refleksi pemikiran dan perasaan, Romo Mangun mengajak semua orang untuk menaruh keprihatinan mengenai wujud masyarakat Indonesia; hubungan antar sesama manusia, hubungan dengan masyarakat dan bagaimana hidup yang bertolak dan berdasar pada nilai.

Karya tulis yang dihasilkan Romo Mangun bukanlah karya tulis sembarangan. Semua dihadirkan dengan alam pikir yang kompleks. Hal ini terwujud pula dari kalimatnya yang panjang-panjang, yang tak jarang sulit dipahami. Namun, Beliau berkata, “Tulisan saya realitas. Realitas itu kompleks, tidak sederhana, tidak satu dimensi, canggih, rumit, dan banyak segi. Kalimat mestinya begitu juga.

Tidak hanya dalam bidang arsitektur dan penulisan, Romo Mangun pun memiliki keprihatinan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Beliau mewujudkannya dengan mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Catherine Mills, yang menulis tesis mengenai Romo Mangun, mengutip perkataan Romo, “When I die, let me die as a primary school teacher (kalau saya meninggal, biarkan saya meninggal sebagai guru sekolah dasar).” Bagi Romo Mangun, pendidikan dasar jauh lebih penting daripada pendidikan tinggi. Itulah sebabnya, Beliau pun pernah berujar, “Biarlah pendidikan tinggi berengsek dan awut-awutan. Namun, kita tidak boleh menelantarkan pendidikan dasar.”

Tentang pendidikan dasar kepada anak-anak soal bagaimana mengamalkan rasa syukur, diteladankan dengan nyata oleh Beliau, ketika bersama anak-anak didiknya sedang merayakan ulang tahun salah seorang anak, Romo melihat bahwa anak-anak kecil tersebut tidak sanggup menghabiskan makanannya. Akhirnya, Romo mengumpulkan sisa makanan tersebut menjadi satu dan memakannya agar tidak ada yang terbuang.

Hingga bahwa tidak ada pengembaraan yang tidak bertemu pada akhirnya.

Pada tanggal 10 Februari 1999, Romo Mangun menghadiri Simposiom “Meningkatkan Buku Dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia”, yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia, di Hotel Le Meridien, Jakarta. Beliau juga berperan sebagai pembicara pada simposium tersebut, namun belum lama, badannya limbung, nyaris jatuh. Budayawan Mohamad Sobary langsung membaringkannya di lantai Ruang Puri. Dan tepat pukul 13:55 WIB, Romo Mangun dinyatakan meninggal karena serangan jantung.

Pemakaman Beliau dihadiri oleh ribuan pelayat. Hal ini menunjukkan betapa Romo Mangun merupakan pribadi yang sangat dikagumi sekaligus dihormati masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan rohaniawan dan penganut Katolik atau masyarakat Yogyakarta, berbagai lapisan masyarakat dan agama turut menghadiri.

Ya, Sang Pengembara bersahaja itu kini sudah berpulang ke Bapa-nya. Namun karya kasih dan karya nyata sosio-humanisnya akan selalu dikenang.

Tongkat estafet telah digulirkan, tinggal adakah kerelaan hati untuk melanjutkan karya kasih yang diteladankannya ?

Mas Ben menutup note-booknya. Diraihnya teh hangat manis yang sudah mulai dingin buatan isterinya, dan direguknya dengan lembut.

Salam bentoelisan

Mas Ben

[Disarikan dari : http://www.christianpost.co.id, http://www.sabda.org, http://www.socineer.com%5D

Iklan
%d blogger menyukai ini: