Archive for the ‘Sastra’ Category

Siapa Aku (Aku dalam Persepsimu dan yang Lain)   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam keseharian, tidak sedikit kita menemukan atau bahkan mengalami tentang perbedaan sebuah persepsi. Persepsi sangat sering seolah menjadi stigma atau legalisasi atas sebuah anggapan atau opini pribadi. Tidak salah dan sah-sah saja, toh persepsi tidak menuntut lahirnya sebuah konsekuensi materiil maupun moril bagi pemiliknya. Yang masalah, kerapkali pesepsi itu bila menyangkut pribadi sangat bisa dipastikan bersinggungan dengan ego atau keakuan demi sebuah aktualisasi.

Seperti dalam sebuah “diskusi hangat” yang saya temukan dalam sebuah media sosial. Dalam sebuah status, si pengumpan status secara satir mengungkapkan keraguannya akan reliabilitas sebuah buku yang baru terbit. Eksplisit meragukan hasil riset dan kurasi dari buku yang baru dibelinya. Bisa ditebak, dengan mahadaya power-nya sosial media. Status tersebut melahirkan beragam opini baik dari yang pro maupun kontra dengan pengumpan isu (status).

Bukan hal aneh, karena saya sendiri juga adakalanya nyaris terjebak sangat ingin meleburkan diri saya dalam diskusi-diskusi hangat tersebut, namun nyaris selalu saya abaikan dan cukup memilih menjadi pemerhati saja. Kenapa ? Ya karena selalu tidak tuntas dan dibiarkan menggantung, tidak ketahuan siapa pada akhirnya yang menang (mohon maaf, dalam dunia maya saya alergi kata “siapa benar dan siapa salah”) 🙂

Sebelum terlanjur menjadi gunjingan, berikut saya share saja rekoleksi pribadi saya berikut ini :

24831282_10211566176490266_168924270232676713_o

Nilai hidup(ku) dalam perspektif mereka tentang(ku) kita

Dalam sebuah perbincangan, seru tengah dan sedang dibahas tentang siapa layak dan sebagai tidak layak atau belum tepat waktu untuk saat ini.
Bukan serta merta, karena ada yang menjadi rujukan, dan repotnya rujukan literasi memulainya. Sebuah buku terbit… Ada rasa tercipta bermula karenanya. Hati pun menakar nakar nalar

Aku menyukai literary dan menghabiskan berpenggal penggalan usiaku untuk berliterasi, apakah berarti aku lebih seorang literer daripada mereka, sehingga namaku seharusnya tercatat dalam sebuah register, bukan mereka sebagaimana justeru terlisting? …

Literary dengan kegiatannya yaitu sebuah kerja batin, karena hatilah yang berkarya cipta. Lalu siapa berhak menilai kedalaman hati batin? Maka sehatilah kita bila sebagaimana orang lain memandang itulah jawabmu.

Penyair
tentang syair
Siapa penyair
Syair tentang rasaku
Ya rasaku bukan pula rasamu
Karena rasa dia atasku atau tentangmu mutlak miliknya entitas publik

Dengan catatanku ini, kutahu ada yang menakarku seorang pengamat atau komentator atau sebagai representasi golongan kaum penyinyir … Mungkin ada yang melewatkannya sama sekali … Akupun berhak penuh menilaiku sendiri sebagai apa.

Aku cuma mau katakan
Jauh sebelum aku masuk dan meleburkan jiwaku ke dalam keliterasian …
Sekali lagi hakiki bahwa setiap hati berhak dan boleh memiliki perpektifnya tentang aku

Di kedalaman sudut perspeksi pandangnya yang di matanya aku sebagai Widi jauh hari sebelum metamorfosaku menjadi Ben Sadhana, Akulah Penyair Handal menurutnya.

Lantas benarkah aku seorang penyair?
Adakah dalilku atau dalilmu dan dalil mereka menolaknya?

Cukuplah bagiku mengaminkan
secarik kecil kertas mengandung nilaiku di matanya … Amin, dariku.
Dan aminku untuk penilaian dan perspeksi lain dari mereka yang lain tentangku.

Siapakah aku?
Akulah aku.
Untukku, cukuplah itu …

 

Salam bentoelisan,

Ben Sadhana

Iklan

Posted Desember 7, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal, Sastra, Uncategorized

Tagged with , , , ,

[Pentigraf] NYANYIAN SEORANG IBU   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam posting kali ini Mas Ben sajikan sebuah karya cerpen tiga paragraf (Pentigraf).

Selamat menikmati 🙂

 

NYANYIAN HATI SEORANG IBU

Ben Sadhana

 

Perempuan itu histeris di menara BTS, mengancam akan melompat. Wajah-wajah panik bersemu kengerian hilir mudik di bawah dan sekitar lokasi BTS. Terlihat dua orang menaiki menara berusaha membujuk agar perempuan itu mau turun. Kepanikan semakin menjadi ketika ia semakin naik. Bukan lagi menangis, melainkan tertawa-tawa keras, dan mulutnya meracau seperti melagukan nyanyian yang tidak jelas.

“Turun Nduk, eling”, teriakan seorang perempuan tua yang baru hadir. Ia datang tergopoh-gopoh ditemani dua orang pria. “Nyebut Nduk, eling anakmu masih kecil.” Kembali perempuan itu merajuk mengiba. Sejenak perempuan di atas menara menghentikan tawa dan nyanyiannya, memandang ke bawah – ke arah perempuan tua. “Anakku sudah mati, aku juga mau mati,” jeritnya. Kemudian terdengar tangisnya yang menyayat hati. “Ini anakmu, Nduk. Cepat turunlah,” kembali wanita tua mengiba memohon sambil mengunjukkan boneka yang terbungkus kain, memunculkan keheranan orang-orang yang ada.

Tiba-tiba angin berembus kencang, membuatnya kehilangan keseimbangan. Kini tubuhnya bergelantungan dengan satu tangan, satu tangannya lagi menggapai-gapai berusaha meraih pegangan, menambah dramatis suasana. “Raih tangan saya,” teriak petugas PMK yang didatangkan untuk menolongnya. Sedikit ragu – ragu perempuan itu memandang petugas, perlahan tangannya terulur … jarinya sudah menyentuh ujung jari petugas ketika seekor burung gagak melintas di antara keduanya. “Oh, Tuhan !” Spontan pekik petugas. Wajahnya dipalingkan, tidak kuasa menyaksikan tubuh perempuan itu melayang meluncur deras ke bawah. Hingga didengarnya pekik kelegaan orang-orang di bawah. Perempuan itu selamat. Tubuhnya jatuh tepat di atas jaring yang telah dibentangkan dengan enam orang memegangnya. Dari ketinggian dilihatnya perempuan itu kini dengan boneka dalam gendongannya, patuh ketika dua orang yang datang bersama perempuan tua itu membimbingnya menuju mobil putih yang akan membawanya kembali ke rumah sakit jiwa.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Posted November 17, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , ,

[Buku] LELAKI YANG TUBUHNYA HABIS DIMAKAN IKAN-IKAN KECIL   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dengan rasa syukur, kembali Mas Ben infokan adanya buku baru yang di dalamnya ada karya pena Mas Ben. Kali ini bertajuk “Antologi 25 Cerpen Pesisir Nusantara”. Sebagaimana judulnya, buku ini berisi 25 cerita pendek dengan topik seputar kondisi sosial, ekonomi serta permasalahan yang ada di daerah pesisir.

Buku ini menjadi menarik, karena para penulisnya mengambil perspektif yang berbeda dalam bercerita, meski dengan sentral topik yang sama. Diperkuat dengan latar para penulisnya yang beragam; wartawan, esais, sastrawan, penyair dari tingkatan generasi yang berbeda. Karenanya bila disejajarkan dengan karya lukis, maka dalam buku ini, pembaca akan dipertemukan dengan karya yang beraliran realis hingga surealis.

Penasaran, silakan bagi yang berminat bisa menghubungi langsung Mas Ben. Kebetulan saat ini tersisa 5 (lima) eksemplar di Mas Ben, yang bisa dipesan oleh pembaca yang ingin menambah koleksi perpustakaan keluarganya 🙂 Monggo.

23550317_10211423089713186_4124708517857648789_o

Spesifikasi buku :

Judul : “Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil

Dimensi   : 13,5 x 20 cm
Halaman : xxi + 220
Penerbit   : Rumah Pustaka
ISBN         : 978-602-5557-08-8

 

Salam Literasi

Ben Sadhana

Kita Bicara Tentang Kepedulian   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam post kali ini, Mas Ben tampilkan tiga karya puisi Mas Ben, yang kebetulan juga dimuat dalam Litera Magazine pada 25 Oktober lalu.

Puisi-puisi yang tampil kali ini berjudul : Kita Bicara Tentang Kepedulian, Tua, dan Embun.

Selengkapnya sebagai berikut,

 

KITA BERBICARA TENTANG KEPEDULIAN

 

Aku sering dengar soal kepedulian terucapkan

Kepedulian yang entah asal mulanya

Sekejab menjelma kepedulian yang jamak

Ada kebanggan heroisme di dalamnya

 

Darimu, darinya, dari mereka, dariku sendiri

Belarasa, pendoktrinan, pemulihan, pembalasan

Nafsumu, nafsunya, nafsu mereka, nafsu kita

Menyatu dalam syahwat yang membias

 

Engkau punya kepedulian

Dia punya kepedulian

Mereka punya kepedulian

Aku punya kepedulian

 

Engkau menentangku

Dia menentangmu

Mereka menentang kita

Dan kita pun bertentangan

 

Kau peduli karena dia saudaramu

Dia peduli karena mereka sekongsi

Mereka peduli karena kita seperjuangan

Kita pun kembali terpecah

 

Kita berseberangan

Kita bersitegang

Kita bersekutu

Kita berselisih

 

Pernahkah sejenak kita berpikir

Untuk apa dan siapa kah sesungguhnya kepedulian itu

Mengapakah kepedulian itu menjadi sekuler dan sektarian

Mengapakah kepedulian itu tidak satu

 

Masih adakah kepedulian

Jika karenanya saudara kita tersakiti

Masihkah layak kepedulian

Jika karenanya kita mengabaikan yang tidak sedogma

 

Mengapakah kepedulian menjadi tidak adil

Ketika pekik kepedulian bukan juga untuk mereka

Meski mereka terima penindasan dan derita yang sama

Mengapa kepedulian menjadi tendensius dan tidak menerus

 

Kita hadir melalui jalan rahim yang berbeda

Namun Esa yang meniupkan ruh kepada kita

Kita hadir kini berkat adanya cinta kasih

Hukum tunggal yang semestinya engka maklumkan

 

Di manakah pedulimu bila ada rasa berhak memilih

Bisakah engkau jelaskan secara jernih

Aku bukan sedang ingin menghakimimu

Sebab kita sedang berbicara tentang kepedulian

 

 

Ben Sadhana

 

TUA

 

Tua itu identik dengan kusam,
Lihatlah kota tua di kotamu

Tua identik dengan jaman dulu,
lihatlah monumen monumen di kotamu

Tua itu aneh,
Lihatlah jika kau berkeliling kota dengan sepeda onthel,
dan busana komprang

Tua itu tinggal kenangan,
Lihatlah puing puing loji dan candi yang tidak terawat
rapuh tergerus waktu

Tua itu jelek,
Lihatlah bejana jiwa yang terbungkuk,
Tertatih dan lemah

Tua itu menyakitkan,
Lihatlah segala simbol kebesaran
itu perlahan menjauh

Tua itu sepi
Lihatlah keheningan itu
di bilik panti wredha

Membuatku takut
Ingin berlari namun kaki ini terkunci
Ingin berteriak namun mulut ini tercekik

Sekonyong konyong
Sayup sayup aku mendengar suara
merdu membelai telingaku
Melekat terasa meski aku
telah terjaga dari buaian nyenyakku

Tua itu indah, kekal
Keindahan tidak muncul dipandang
melainkan dirasakan
dinikmati

Tua sudah pasti datang
Tua hanya selembar kulit
Tua itu sebuah perubahan pasti
menuju peleburan dengan semesta
menuju keabadian

Lihatlah prasasti itu
Tua namun dikenang dan meneladan
Bagi bejana bejana muda
dalam perjalanan menuju ketuaannya
hingga menjadi indah pada akhirnya

Warisan abadi
tuk generasi berikutnya

Menuju tua itu bukan menuju akhir,
Menjadi tua itu permulaan baik
bagi anak anak kita
Menyambut musim panen
menuai benih yang telah kita tanam
di masa kita

Dan
Kita akan merasakan indahnya
pernah menjadi muda

 

Ben Sadhana

 

 EMBUN

 

Embun bening menyapa
kemilau membuai netra
mengalirkan sejuk sanubari, menyegarkan raga

Mengejawantahkan jejak jejak kontemplatif
Tanah semak daun menggelinjang
Dijejak kaki berpesta

Embun
bening
sejuk
segar
Bening di setiap wadahya
menyegarkan sekeliling
menyemburatkan kedamaian
di relung relung kehidupan

Oh embun
segala berkat keindahan
kerinduan mendayu tak tertahan
hingga hadirmu

Embun
bening
sejuk
segar
belailah jiwa ini
rengkuhlah
jadikankanlah
bening sejuk segar

Membeningkan
menyejukkan
dan menyegarkan

 

O Embun
bening
sejuk
segar

 

Ben Sadhana

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Posted November 3, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , ,

PADA DETIK TERAKHIR   Leave a comment

Dear,

PADA DETIK TERAKHIR, demikianlah tajuk buku Kumpulan Cerpen Duet yang akan diluncurkan di Semarang pada 11 Nopember 2017 yang akan datang ini.

Barangkali istilah cerita pendek (cerpen) sudah cukup jamak dikenal, namun bagaimana halnya dengan Cerita Pendek Duet ? Apa maksudnya ?

Ya, cerita pendek duet adalah sebuah cerita pendek yang dibangun dan dikerjakan oleh dua orang cerpenis (penulis). Kedua penulis, menuangkan imajinya secara liar — ya liar, karena keduanya sama sekali tidak sedang berada di tempat dan waktu yang sama. Kisah cerpen duet ini dikerjakan secara tandem bergantian paragraf per paragraf. Jadi melalui kalimat-kalimat yang tersaji pada paragraf pertama-lah cerita itu selanjutnya mengalir secara alamiah dan liar seturut imaji masing-masing penulisnya. Kedua penulis juga tidak saling menebak akan adanya tokoh-tokoh baru yang kemudian muncul di perjalanan kisah maupun yang dihilangkan dalam pertengahan kisah. Kedua penulis sama-sama tidak bisa menebak ending cerita yang sedang digarap berdua, maupun kelanjutan / kejutan-kejutan yang akan disajikan oleh penulis pasangannya di setiap poragrafnya.

Kunci keberhasilan cerpen duet ini yaitu terletak pada kekuatan paragraf pertama yang menjadi kunci tersajinya alur cerita yang apik dengan segala konflik yang terbangun di dalamnya, tentu juga didukung oleh kuatnya karakter para tokoh cerita yang diciptakan oleh kedua penulisnya — penulis yang dipertemukan dalam proyek cerpen duet, yang bahkan sebelumnya tidak pernah bertemu atau saling kenal satu dengan lainnya. Menarik bukan ?

22553189_10211221587995769_1960192612047709682_o

Buku Antologi Cerpen Duet “Pada Detik Terakhir”, menampilkan 40 kisah cerpen duet terpilih dari 34 penulis, yaitu : Tengsoe Tjahjono, Benedikt Agung Widyatmoko (Ben Sadhana), Julia Utama, Alfred B. Jogo Ena, Deny Ketip, BE Priyanti, Tantrini Aandang, Maria Lupiani, Yusup Priyasudiarja, Johny Barliyanta, Irene Roostini, Yosep Margono, Iskandar Noe, Caecilia Joel, Celly Kwok, Demitria Budiningrum, Robertus Sutartomo, Adrian Diarto, Megawati Lie, Agnes Kinasih, Emmelia Meitry, Eulalia Adventi Kesiyanti, Pak Kokok, Sri Widati, dkk.

Sebuah buku yang sangat layak dibaca dan menjadi koleksi, khususnya mereka para penikmat sastra.

Tunggu apa lagi ?

Buku apik dengan spesifikasi :

  • Harga Rp. 120.000,00 (seratus duapuluh ribu rupiah) + ongkos kirim
  • Ukuran : 14×21 cm
  • Jumlah halaman : 448
  • Penerbit : Bajawa Press

Telah bisa dipesan awal (Pre-order), langsung melalui Nomor WA/Telegram/Line : 081803107847.

Selamat menikmati 🙂

 

Salam Bentoelisan,

Ben Sadhana

Posted Oktober 19, 2017 by Ben Sadhana in Apresiasi, Sastra

Tagged with , , , ,

PINDUL SUMBER INSPIRASI   Leave a comment

Dear,

Dalam kesempatan ini Mas Ben Sadhana menampilkan 5 (lima) karya puisinya tentang Gua Pindul di Wonosari – yang diikutkan dalam Lomba Cipta Puisi PINDUL BERSAJAK, sebagai berikut :

 

PINDUL  I

Pindul pesona alam Wonosari

Begitu mereka menyebutmu

Alam dan transenden melebur bersama

Pindulmu Pindulnya Pindul mereka dan Pindulku

Bebatuan bertalu

Stalagmit dan stalagtit berkilauan

Dalam bayuran beningnya tirta

Tampilkan mutiara surgawi

Pindulmu Pindulnya Pindul mereka dan Pindulku

Mata air inspirasi bagi segala makhluk

 

PINDUL II

Aku wartakan pada kalian

Aku hendak ajak kekasihku ke Pindul

Kukatakan Ingin aku meminangnya di sana

Ah, usahlah kautanyakan mengapa

Aku tahu tanpa perlu kau mengatakan

Romantisme macam apakah hendak kutawarkan

Ketika akan kuperhadapkan kepada kekasihku

Bebatuan dan air

Gelap dan pengap

dan ribuan kampret yang berhamburan terusik oleh kami ?

Wahai engkau Kekasihku,

Usahlah engkau hiraukan mereka, Kekasihku

Sebab kepadamu aku hendak tunjukkan

Betapa besar cintaku kepadamu

Biarlah pinangan cintaku ini kau terima

Dengan air dan bebatuan yang beriang ria menyaksikan

Serta paparan sinar surgawi sebagai peneguh cinta kita

Yang akan kita alami berdua saja

Hanya engkau dan aku saja

dan kehadiranNya merestui

di kedalaman garba Pindul

 

 PINDUL III

 Dari Bejiharjo Engkau hadir

Pindul namamu

Tentang pesonamu tlah banyak kudengar dari khalayak

Tentang legendamu

Tentang mitosmu

Tentang muasal namamu

Bahwa ada keindahan surgawi padamu

Kucanangkan asa dan waktu tuk kunjungimu

Kan kurasakan sejuk airmu

Kan kunikmati kilauan bebatuan mutiaramu

Kan kuhayati suaraku berpantulan bergaung-gaung memuji asmaNya

Kan kusaksikan satwa penghunimu berpesta

Hingga kan kualami keindahan surgawimu

Di garba pertiwiku

 

PINDUL IV

Pindul

Konon bermula dari kisah perjalanan duta

Dua sentana setia Mataram menjunjung dhawuh Sinuhun

Percintaan terlarang melatari

Buah cinta suci pun harus dikorbankan

Kehidupan tetap harus berlanjut

Dosa yang hendak tercipta terbasuh kesucian airmu

Ah, Pindul

Saksi setia kebesaran cinta kasih

 

PINDUL V

Pindul pipi kebendul

Benarkah ?

Ah, sudahlah

Kini Pindul masyur

Oleh kuat sihir pesonanya

Lestarilah elokmu

Wartakan inspirasi ke penjuru persada

 


 

Salam

Ben Sadhana

 

Posted September 30, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , , , , ,

HIKAYAT KORUPSI   Leave a comment

Dear,

Maraknya kasus OTT dan perseteruan antara DPR dengan KPK, menyeret kenangan saya kepada catatan saya pada Februari 2010. Sebuah renungan ringan yang masih relevan menjadi bahan rekoleksi bersama saat ini. Beberapa nama dan kasus pada catatan disesuaikan kondisi terkini. Mari …


Sebagaimana yang sudah-sudah pasca kerja bakti, minggu siang ini Pak RT mendapat kehormatan menyediakan teras dan halaman rumahnya yang asri menjadi balai istirahat para warganya melepas lelah. Meski harus menyisihkan dana untuk jamuan, bagi Pak RT pelayanannya ini merupakan suatu kehormatan. Dia tidak merasakan rugi sedikit pun, justeru sebaliknya dia merasa diuntungkan. Dengan pelayanannya yang tanpa pamrih itu berbuah baik, yaitu warganya menjadi taat aturan dan sungkan untuk bertindak di luar norma. Dalam kepemimpinan Pak RT Kusno, lingkungannya telah berkali-kali meraih prestasi di tingkat kelurahan. Di antaranya lingkungan RT dengan tingkat buta aksara 0, prestasi pendidikan anak-anak terbaik, lingkungan dengan tingkat partisipasi kegiatan terbaik, juara gerak jalan ibu-ibu PKK dan anak-anak se-kelurahan. Bukti paling nyata berkat kepemimpinan Pak Kusno yang bersahaja adalah tidak adanya warga yang alpa dalam setiap kegiatan kerja bakti.udah menjadi agenda di lingkungan RT Mas Ben tinggal, setiap hari Minggu pertama setiap bulannya pasti diadakan kerja bakti. Tidak muluk-muluk, setiap warga hanya diimbau untuk melakukan pembersihan di lingkungan sekitar rumahnya masing-masing. Namun demikian program rancangan Pak RT ini cukup tokcer untuk menjadikan lingkungan yang dipimpinnya senantiasa tampak bersih gilar-gilar. Hal lain yang juga penting adalah dengan kegiatan rutin bulanan ini, berdampak kepada hubungan sosial antar warga menjadi semakin erat dan akrab.

“Wah Mbah Samto anteng banget.” Celetuk Mas Kasturi yang melihat Mbah Samto asyik dengan selembar koran di tangannya.

“Ada berita yang menarik po Mbah ?” Si Jiyo menimpali.

“Ah paling ya masih itu-itu saja beritanya, tentang kriminal dan Pansus hak angket.” Balas Kang Darno.

“Iya, itu berita Pansus belum selesai-selesai ya ?” Lik Promo melirik Mbah Samto yang masih tetap dengan keseriusannya membaca koran, mengeja kata larik demi larik.

“Mbah Samto ki piye to, diajak ngomong dari tadi koq diam saja nggak nggubris babar blas.” Kata Mas Ben gemas.

“Ini lho Mas Ben, berita tentang OTT. Kalau berita tentang Bang Kasturi aku sudah bosen.” Jawab Mbah Samto.

“Mbah Samto ki ncen ngefans banget sama aku kok.” protes Mas Kasturi yang merasa diledek, disambut gelak tawa oleh Bapak-Bapak termasuk Pak RT.

“Sudah-sudah, kasihan Mas Kasturi wajahnya sampe merah seperti kepiting rebus.” bela Pak RT yang tidak tega melihat Mas Kasturi yang mulai dilanda krisis pede itu.

Tampak Bu RT dan puterinya, Mbak Ranti keluar dari ruang tengah.

“Wah ini yang ditunggu-tunggu muncul. Ayo Bapak-Bapak, seadanya saja ya, silakan dicicipi nogosari buatan Bu RT.” Penawaran pak RT yang langsung disambut hangat oleh mereka yang ada. Tidak perlu waktu lama, nogosari sejumlah enam piring berubah wujud menjadi onggokan daun pisang.

“Korupsi dan penyuapan, koq seperti tidak ada habisnya to di negeri kita ya ?” Ujar Kang Darno. “Apa sudah takdirnya negeri kita, penuh dengan koruptor dan penyuap.” Lanjutnya.

“Lho koq trus mutung begitu to Kang Darno, jangan pesimis ah.” Goda Mas Ben.

“Lho lho lho, jadi anget to gara-gara korupsi.” Ucap Pak RT sembari tersenyum.

“Lha memang kenyataannya para penegak hukum kita itu selalu kecolongan je sama para koruptor itu. Bagaimana Pak RT ?” Sela Mbah Samto – “Belum lama Walikota Tegal, Walikota Malang, Walikota Batu, Walikota Cilegon … malah paling spektakuler petinggi DPR terbelit kasus e-KTP yang melahirkan paranoia para anggota dewan yang merasa mulia itu, hingga memaksakan hak angket … – eee sekarang Bupati Kukar yang ayu kinyis-kinyis seperti ini ikut-ikutan ketangkap.” Mbah Samto geleng-geleng kepala.

“Sebenarnya masalah korupsi dan penyuapan ini sudah lama ada. Sejak jaman kerajaan dengan budaya upeti berupa hasil bumi yang diwajibkan untuk rakyat kepada junjungannya. Bahkan pada jaman putera-puteri Nabi Adam pun praktek korupsi telah ada, dilakukan oleh Kabil yang mengurangi persembahan kepada Tuhan. Dia memberikan persembahan bukan hasil ternak terbaiknya. Beda dengan Habil saudaranya yang memberikan hasil panen terbaiknya kepada Tuhan.” Pak RT berhenti sejenak. meraih segelas teh panas, menyesapnya – “Di masa sekarang pun entah sengaja atau tidak, kita pun sering lho melakukan korupsi lho.” Penjelasan Pak RT yang disambut ekspresi melongo dan saling pandang warganya.

“Begini maksudnya,” lanjut Pak RT yang melihat banyak warganya menjadi bingung. – “Mungkin kita pernah menyimpang dari amanah. Ketika dipasrahkan sejumlah uang kepada kita untuk pembelian konsumsi sebuah acara misalnya, kita tidak belanjakan semua. Contoh lain, bila di kantor kita kebetulan mendapat tugas berbelanja, kita menerima keuntungan dari selisih harga pembayaran dengan nilai yang tertulis di kuitansi.”

“Padahal yang jelek-jelek itu bikin ketagihan dan jadi kebiasaan ya Pak RT, kalau tidak ketahuan.” tukas Mbah Samto.

“Betul.” Jawab Pak RT. – “Untuk kasus-kasus korupsi dan penyuapan besar seperti sekarang ini, sebenarnya bukan masalah yang tidak bisa terpecahkan. Kenyataannya di negara lain pun tindakan tercela ini juga terjadi, namun bisa diminimalisasi menuju terhapus. Kuncinya hanya terletak pada ketegasan penegak hukum dari pengadil untuk memberikan efek jera, sehingga tidak terulang dan menular perbuatan korupsi dan penyuapan itu.”

Pak RT melirik Mas Ben, “Ayo Mas Ben, biasanya banyak ide. Bagaimana Mas biar budaya korupsi dan menyuap bisa dihilangkan di negeri kita ?”

Mas Ben yang tengah asyik mengudap nogosari dan the manisnya tergagap mendapat operan pertanyaan dadakan dari Pak RT.

“Eh … ya, anu … begini. Sependapat dengan Pak RT. – Sebenarnya tergantung niatnya saja koq. Andaikan saja para penegak hukum dan pengadil itu mampu bersikap adil dan tegas pasti praktek korupsi dan penyuapan itu akan bisa diatasi.”

“Lha caranya bagaimana Mas Ben ? Potong Pak RT.

“Kita kan pernah mengetahui terhukum Jaksa Oerip divonis duapuluh tahun kurungan, sementara sangat banyak terhukum lainnya yang cukup divonis dua tahun kurungan saja. Mengapa tidak disamaratakan saja masa hukumannya, ya to ?”

“Atau dihukum mati saja seperti di China ya Mas Ben ?” kata si Jiyo.

“Tidak harus dihukum mati. Mematikan orang itu hak mutlaknya Tuhan lewat malaikat pencabut nyawaNya. Lagipula hukuman mati bisa menambah dosa, bila hukuman itu batal dilaksanakan. Bayangkan, vonis mati sudah dijatuhkan, namun karena Tuhan belum menggariskan batas ajalnya, belakangan si terhukum mendapat pengampunan remisi karena ada bukti baru yang mementahkan dakwaan kepadanya. Sementara orang di kita itu paling mudah digiring opininya, pasti langsung mencap buruk kepada seseorang karena opini publik, ditambah kekuatan media yang powerfull memberikan asumsi bersalah walau belum terbukti. Hukuman mati batal, sementara rasa dendam dan kebencian masih mengendap di dalam hati, belum bisa memaafkan dan menerima kenyataan. Kan dosa to itu namanya ?”

Tampaknya Mas Ben mampu menyihir warga yang berkumpul di rumah Pak RT dengan “khotbahnya” itu.

“Jadi, ndak usah memaksakan pemberlakukan hukum mati kepada para pelaku korupsi dan penyuapan, hukum saja dengan hukuman moral. Misalnya, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan jajarannya menerapkan kesetaraan hukum dengan membuat tabel bobot hukuman. Tidak ada hukuman maksimum, semua disamakan. Bila ada yang berani memvonis 20 tahun, ya jadikan itu sebagai patokan hukuman, tidak peduli besar-kecilnya uang yang dikorupsi.”

Mas Ben berhenti sejenak berkata-kata. Diraihnya gelasnya dan direguknya teh yang tersisa di dalamnya.

“Tidak cukup itu saja. Bila sudah berpangkat terdakwa, data kependudukannya langsung diperbarui, diberikan catatan keterangan koruptor. Dengan begitu apa mereka yang mau nyoba-nyoba korupsi atau kepingin ketagihan, masih berani korupsi ? Siapa yang mau namanya masuk daftar hitam negara, dan diberi stempel koruptor di KTP-nya ? Sudah ndak bisa berkutik seumur hidup to ?” – “Bukan hanya kepada pelaku korupsi saja hukuman “pemberangusan nama” ini diberlakukan.

“Wah wah wah, berlean juga ya idenya Mas Ben.” Mbak Samto tertawa riang.

Tidak sadar diskusi akrab para warga ini sudah masuk ke waktu lohor. Seiring kumandang azan, “Maaf saudara-saudara, tetapi ngomong – ngomong sudah siang nih Pak RT. Kerja baktinya sudah selesai to, ndak ada yang mau dilanjutkan lagi ?” Sergah Pak Mardi.

Pak RT melirik jam di atas pintu ruang tengahnya yang jarumnya sudah menunjuk ke angka 12.15, “Wah iya, tidak terasa yang Bapak-Bapak. Baiklah Bapak-Bapak yang masih ada keperluan boleh kalau mau pulang duluan. Yang masih betah juga boleh tinggal dulu menemani saya ngobrol.”

Para warga saling berpamitan, meninggalkan Mas Ben, Lik Promo dan Pak RT.

Demikianlah obrolan bergaya pinggiran warga itu diakhiri di sini.

 


Salam

Ben Sadhana 

Posted September 27, 2017 by Ben Sadhana in Sastra, Uncategorized

Tagged with , ,

%d blogger menyukai ini: