Archive for the ‘2 mei’ Tag

Mei Satu dan Dua   15 comments

Halo Bentoeliser,

Hu ha he ha hup hap … nafas Mas Ben riuh rendah memburu layaknya mesin selep padi.

Dengan handuk kecil melilit ke tengkuknya Mas Ben berlari-lari kecil menghirup hawa yang biasanya masih centil menggoda Mas Ben untuk lebih mempererat pelukannya pada guling kesayangangannya.

“Tumben Mas, koq ndak nunggangi sepedanya.” Mas Ben menolehkan kepalanya.

“Eh iya, Mbah Samto. Sepeda saya gotrinya pecah, belum sempat saya bawa ke bengkel.” Jawab Mas Ben di sela-sela nafasnya yang semakin memburu.

“Istirahat dulu Mas Ben, belum biasa lari to ? Nanti semaput.” Ledek Mbah Samto.

Mas Ben menghentikan aktivitasnya, bersandar dengan sebelah tangan menempel ke pohon kelapa yang ada di pinggir jalan.

“Wah sepertinya mau masak besar nih Mbah ?” Mas Ben melirik ke tas pandan Mbah Samto yang berisi penuh daun lumbu.

“Iya, sudah lama aku ndak makan sayur lumbu, kangen.” Mbah Samto tersenyum memperlihatkan sisa geliginya yang masih tersisa.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmuEngkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Lamat – lamat terdengar lagu Hymne Guru dari dalam sebuah rumah.

“Wah tanggal 2 Mei sekarang ya, hari pendidikan nasional.” Kata Mbah Samto.

“Iya Mbah.” Jawab Mas Ben singkat, sambil ancang-ancang hendak melanjutkan lari paginya yang tidak biasanya.

“Mbah, aku lanjut dulu ya. Selamat masak sayur lumbu, jangan lupa saya dibagi ya” Kata Mas Ben berlari meninggalkan Mbah Samto.

“Ya, jangan terlalu ngoyo larinya, kasihan jantungmu belum terbiasa.” Balas Mbah Samto.

Mas Ben melambaikan tangannya sambil terus berlari.

—–

Tiba di rumah, Mas Ben langsung meraih koran di teras.

“Mbok bersih-bersih badan dulu, biar lebih seger.” Kata Jeng Arum sambil menggantungkan cucian ke gawang jemuran.

“Anak lanang, mana Jeng.” Tanya Mas Ben.

“Bobok lagi, barusan mandi dan mimik susunya.” Jawab Jeng Arum.

Mas Ben bangkit menuju kamar, menemukan betapa sejuknya paras putranya dalam lelapnya, memeluk guling kecil kesayangannya.

Mas Ben tersenyum, mendaratkan kecupan ke dahi putranya yang meresponnya dengan geliat kecil.

Mas Ben  sudah berganti pakaian kering, bersisir rapih keluar ke teras menemukan kembali korannya, yang sudah menjadi bertememankan segelas teh hangat dan beberapa potong wajik.

Sekejap dia sudah larut melahap berita yang tersajikan.

“Baaaapahk” … celoteh merdu Gus Atya, mengusik pembacaannya.

“Lho putra ganteng Bapak sudah bangun to, koq cepet boboknya ?” Kata Mas Ben sambil menyambut tubuh kecil putranya dari gendongan isterinya.

“Sudah Pak, Atya kan sudah sejam boboknya.” Kata Jeng Arum sambil mencubit lembut pipi putra mereka.

Mas Ben menghentikan bacanya, memangku Atya. Diraihnya teh hangat, dieguknya. Dan dilanjutkan menyantap wajik berbagi suap dengan putranya yang sudah mulai belajar makan.

“Jangan besar-besar, kasihan belum bisa mengunyah dia.” Jeng Arum mengingatkan.

Jeng Arum mengambil alih koran, “Masih ada demo hari buruh juga, saya kira tidak ada karena Sabtu kantor pemerintah libur.” gumam Jeng Arum.

“Masih saja ada mahasiswa terlibat di dalamnya dan tetap saja ada bentrokan dengan aparat. Mereka bersikap seolah menjadi lakon pembela.” Suara Jeng Arum bergetar tertahan.

“Ya, itulah kondisi yang ada Jeng. Buruh yang bentrok dengan kondisi perkembangan, merasa terabaikan. Dan mahasiswa yang sangat sadar diri mereka itu bagian dari kelompok intelektuas, sangat sering mengabaikan nilai-nilai budi pekerti luhur. Mereka begitu mudah terlibat dalam perlagaan emosi dan kekerasan. Banyak dari mahasiswa manjadi arogan, merasa berhak mengatur setiap kebijakan pemerintah, dan merasa suara mereka sepantasnya didengar. Jadi ya sorry to say, kalau saya bilang ada mahasiswa itu yang sangat adigang adigung. Kalau keinginannya tidak dipenuhi, ngrusak.” Mas Ben menghela nafas.

“Iya Mas, berita demo buruh banyak terjadi, di Makasar, Bojonegoro, Jogja para mahasiswa menolak wapres Boediono di UGM, di Jakarta, Bima, Surabaya dan daerah lain. Bahkan ada mahasiswa yang terpaksa dilebamkan oleh aparat.” Jeng Arum bergidik.

“Kenapa ya Mas, koq begitu mudahnya mereka itu dikalahkan oleh nafsu amarahnya ?” Jeng Arum menggigit bibirnya.

“Ya, buktinya seperti hari ini, hari pendidikan nasional kan sekarang sudah tidak terdengar gaungnya lagi Jeng. Ajaran baik Ki Hajar Dewantara Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani sudah banyak ditinggalkan. Karena penyadaran yang kurang dan cenderung ditinggalkan, ditambah pesatnya teknologi, menjadi alasan semua sifat mudah marah, sombong merajalela, dan makin parah karena banyak kepentingan yang bersembunyi di baliknya.” Kata Mas Ben menoleh ke isterinya.

Banyak manusia menyalahtafsirkan buah dari teknologi, mengaburkan antara kebutuhan dan keinginan. Lha keinginan itu sendiri kan cenderung memaksa to ?” Lanjut Mas Ben.

“Seringkali teknologi yang dibuat manusia untuk membantu manusia tidak lagi dikuasai oleh manusia tetapi sebaliknya manusia yang terkuasai oleh kemajuan teknologi. Manusia tidak lagi bebas menumbuhkembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan segala aspeknya. Keberadaan manusia pada zaman ini seringkali diukur dari “to have” (apa saja materi yang dimilikinya) dan “to do” (apa saja yang telah berhasil/tidak berhasil dilakukannya) daripada keberadaan pribadi yang bersangkutan (“to be” atau “being”nya). Dalam pendidikan perlu ditanamkan sejak dini bahwa keberadaan seorang pribadi, jauh lebih penting dan tentu tidak persis sama dengan apa yang menjadi miliknya dan apa yang telah dilakukannya. Sebab manusia tidak sekedar pemilik kekayaan dan juga menjalankan suatu fungsi tertentu. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand !”

Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Namun kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin. Sedangkan maksud pendirian Taman Siswa adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan pada aspek-aspek nasional. Landasan filosofisnya adalah nasionalistik dan universalistik. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam (natural law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan hara diri; setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain. Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand”.

Guru yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator); dalam hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah; dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait); segi administrasi sebagai guru; dan sikap profesionalitasnya. Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu: menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga performance/penampilan seorang profesional: secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. Singkatnya perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik.

Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian.”

Panjang lebar “orasi” Mas Ben kepada isterinya.

“Panjenengan koq jadi pinter banget berkata-kata to Mas. Nih mesti lagi emosi ya ?” Goda Jeng Arum sambil mencubit pinggang suaminya.

Gus Atya di pangkuan ayahnya, ndomblog memperhatikan persdiskusian seru antara kedua orang tuanya.

“Ya pinter, wong saya sudah baca tadi … lha ini beritanya http://www.bruderfic.or.id/h-59/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentang-pendidikan.html.” Telunjuk Mas Ben mengarah ke suatu judul berita.

“Saya kadang suka bingung dengan tuntutan perbaikan nasib buruh.” Kata Mas Ben.

“Maksudnya, Mas ? Kan Mas Ben bertitel buruh juga to ?” Tanya isterinya mengerling menggoda sekali.

“Benar. Untuk tuntutan perbaikan status tenaga kerja, seperti mengurangi sedikit demi sedikit praktek outsourching, menimbang kinerja karyawan secara adil hingga tidak ada titel karabkon [karyawan abadi kontrak], itu semua saya setuju.”

“Lha kalau memaksa minta peningkatan gaji secara membabi buta, itu kan juga bukan keadilan untuk pengusaha.”

“Pengusaha dituntut untuk terus setiap tahunnya mengevaluasi gaji karyawan dan kesejahterannya, diperkuat dengan UU. Perusahaan yang baik merasa wajib memberikan pakaian kerja yang layak kepada karyawannya, memberikan kesempatan piknik karyawannya bersama keluarga seperti perusahaan tempat saya bekerja, memberikan bonus tahunan.” Mas Ben berhenti sejenak. Sementara tidak ada peraturan atau UU yang mewajibkan setiap karyawan meningkatkan produktivitas dan loyalitasnya terhadap perusahaan tempatnya bekerja, paska UMK ditinjau.

“Kita juga tidak boleh menutup mata, tidak semua perusahaan memiliki tingkat laba dan kondisi keuangan yang sama. Banyak pekerja yang melihat kesejahteraan di suatu perusahaan yang mapan menjadi sebuah standarisasi.”

“Akan lebih baik sekiranya, pola pikir kita bukan hanya menuntut kepada orang lain. Kita harus menuntut kepada diri kita juga untuk adilnya. Bila kita menuntut perusahaan memberikan kesejahteraan yang baik, maka kita pun sebagai karyawan yang baik juga harus membuat target peningkatan produktivitas untuk sulih dari perbaikan kesejahteraan yang sudah kita terima dari perusahaan. Karena perusahaan punya hutang kewajiban untuk perbaikan gaji karyawannya, maka karyawannya pun juga berkewajiban memberikan produktivitas yang berlipat untuk perusahaan.

“Tahu tidak Jeng ?” Tanya Mas Ben.

Banyak kawan saya, yang dikejar-kejar debt collector, bukan untuk pelunasan hutang mereka atas pembelian bahan pokok dan untuk pemenuhan pebutuhan fisik / hidup minimum. Tapi mereka sibuk sembunyi dari tagihan atas barang-barang sekunder bahkan tertier yang mereka cicil.

Ya kalau demi itu kan gaji ditingkatkan berapa pun ndak akan pernah cukup, karena mereka mencampuradukkan antara kesejahteraan dengan kemakmuran. Padahal kesejahteraan itu diukur kualitasnya bukan kuantitasnya. Dan kemakmuran pun tidak ada batasnya.

Contohnya ya para mereka yang sedang menjadi lakonnya tivi dan koran, mereka digaji seberapa pun tetap saja merasa kurang … dan korupsi menjadi jalan pelampiasan nafsu mereka … kan keblinger.”

Keasyikan diskusi bipartid mereka terhentikan oleh kehadiran Jiyo yang sudah berada di depan pintu pagar dengan mangkok bertutup daun pisang di tangannya.

“Kulonuwun Mas  Ben. Ini saya mengantarkan titipan dari Mbah Samto untuk Mas Ben, katanya.”

“Sini-sini Yo, masuk saja. Tidak dikunci pagernya.” Kata Mas Ben.

“Wah Mbah Jiyo ki tenan koq, wong saya cuma bercanda koq diantar beneran sayur lumbunya.” Kata Mas Ben mengetahui apa yang dibawa Jiyo.

“Yo wis sini Dik Jiyo, sekalian kita nikmati bersama rejeki ini.” Ajak ramah Jeng Arum.

“Wah dengan senang hati.” Balas Jiyo.

Dan mereka pun bertiga bersantap riang dengan menu spesial sayur lumbu ala chef Mbah Samto.

Bukankah segala kesederhanaan akan berubah menjadi istimewa jika didukung dengan rasa syukur yang besar ?

Salam bentoelisan

Mas Ben

Iklan

Posted Mei 4, 2010 by Ben Sadhana in Jurnal

Tagged with , , , , ,

%d blogger menyukai ini: