HIKAYAT KORUPSI   Leave a comment

Dear,

Maraknya kasus OTT dan perseteruan antara DPR dengan KPK, menyeret kenangan saya kepada catatan saya pada Februari 2010. Sebuah renungan ringan yang masih relevan menjadi bahan rekoleksi bersama saat ini. Beberapa nama dan kasus pada catatan disesuaikan kondisi terkini. Mari …


Sebagaimana yang sudah-sudah pasca kerja bakti, minggu siang ini Pak RT mendapat kehormatan menyediakan teras dan halaman rumahnya yang asri menjadi balai istirahat para warganya melepas lelah. Meski harus menyisihkan dana untuk jamuan, bagi Pak RT pelayanannya ini merupakan suatu kehormatan. Dia tidak merasakan rugi sedikit pun, justeru sebaliknya dia merasa diuntungkan. Dengan pelayanannya yang tanpa pamrih itu berbuah baik, yaitu warganya menjadi taat aturan dan sungkan untuk bertindak di luar norma. Dalam kepemimpinan Pak RT Kusno, lingkungannya telah berkali-kali meraih prestasi di tingkat kelurahan. Di antaranya lingkungan RT dengan tingkat buta aksara 0, prestasi pendidikan anak-anak terbaik, lingkungan dengan tingkat partisipasi kegiatan terbaik, juara gerak jalan ibu-ibu PKK dan anak-anak se-kelurahan. Bukti paling nyata berkat kepemimpinan Pak Kusno yang bersahaja adalah tidak adanya warga yang alpa dalam setiap kegiatan kerja bakti.udah menjadi agenda di lingkungan RT Mas Ben tinggal, setiap hari Minggu pertama setiap bulannya pasti diadakan kerja bakti. Tidak muluk-muluk, setiap warga hanya diimbau untuk melakukan pembersihan di lingkungan sekitar rumahnya masing-masing. Namun demikian program rancangan Pak RT ini cukup tokcer untuk menjadikan lingkungan yang dipimpinnya senantiasa tampak bersih gilar-gilar. Hal lain yang juga penting adalah dengan kegiatan rutin bulanan ini, berdampak kepada hubungan sosial antar warga menjadi semakin erat dan akrab.

“Wah Mbah Samto anteng banget.” Celetuk Mas Kasturi yang melihat Mbah Samto asyik dengan selembar koran di tangannya.

“Ada berita yang menarik po Mbah ?” Si Jiyo menimpali.

“Ah paling ya masih itu-itu saja beritanya, tentang kriminal dan Pansus hak angket.” Balas Kang Darno.

“Iya, itu berita Pansus belum selesai-selesai ya ?” Lik Promo melirik Mbah Samto yang masih tetap dengan keseriusannya membaca koran, mengeja kata larik demi larik.

“Mbah Samto ki piye to, diajak ngomong dari tadi koq diam saja nggak nggubris babar blas.” Kata Mas Ben gemas.

“Ini lho Mas Ben, berita tentang OTT. Kalau berita tentang Bang Kasturi aku sudah bosen.” Jawab Mbah Samto.

“Mbah Samto ki ncen ngefans banget sama aku kok.” protes Mas Kasturi yang merasa diledek, disambut gelak tawa oleh Bapak-Bapak termasuk Pak RT.

“Sudah-sudah, kasihan Mas Kasturi wajahnya sampe merah seperti kepiting rebus.” bela Pak RT yang tidak tega melihat Mas Kasturi yang mulai dilanda krisis pede itu.

Tampak Bu RT dan puterinya, Mbak Ranti keluar dari ruang tengah.

“Wah ini yang ditunggu-tunggu muncul. Ayo Bapak-Bapak, seadanya saja ya, silakan dicicipi nogosari buatan Bu RT.” Penawaran pak RT yang langsung disambut hangat oleh mereka yang ada. Tidak perlu waktu lama, nogosari sejumlah enam piring berubah wujud menjadi onggokan daun pisang.

“Korupsi dan penyuapan, koq seperti tidak ada habisnya to di negeri kita ya ?” Ujar Kang Darno. “Apa sudah takdirnya negeri kita, penuh dengan koruptor dan penyuap.” Lanjutnya.

“Lho koq trus mutung begitu to Kang Darno, jangan pesimis ah.” Goda Mas Ben.

“Lho lho lho, jadi anget to gara-gara korupsi.” Ucap Pak RT sembari tersenyum.

“Lha memang kenyataannya para penegak hukum kita itu selalu kecolongan je sama para koruptor itu. Bagaimana Pak RT ?” Sela Mbah Samto – “Belum lama Walikota Tegal, Walikota Malang, Walikota Batu, Walikota Cilegon … malah paling spektakuler petinggi DPR terbelit kasus e-KTP yang melahirkan paranoia para anggota dewan yang merasa mulia itu, hingga memaksakan hak angket … – eee sekarang Bupati Kukar yang ayu kinyis-kinyis seperti ini ikut-ikutan ketangkap.” Mbah Samto geleng-geleng kepala.

“Sebenarnya masalah korupsi dan penyuapan ini sudah lama ada. Sejak jaman kerajaan dengan budaya upeti berupa hasil bumi yang diwajibkan untuk rakyat kepada junjungannya. Bahkan pada jaman putera-puteri Nabi Adam pun praktek korupsi telah ada, dilakukan oleh Kabil yang mengurangi persembahan kepada Tuhan. Dia memberikan persembahan bukan hasil ternak terbaiknya. Beda dengan Habil saudaranya yang memberikan hasil panen terbaiknya kepada Tuhan.” Pak RT berhenti sejenak. meraih segelas teh panas, menyesapnya – “Di masa sekarang pun entah sengaja atau tidak, kita pun sering lho melakukan korupsi lho.” Penjelasan Pak RT yang disambut ekspresi melongo dan saling pandang warganya.

“Begini maksudnya,” lanjut Pak RT yang melihat banyak warganya menjadi bingung. – “Mungkin kita pernah menyimpang dari amanah. Ketika dipasrahkan sejumlah uang kepada kita untuk pembelian konsumsi sebuah acara misalnya, kita tidak belanjakan semua. Contoh lain, bila di kantor kita kebetulan mendapat tugas berbelanja, kita menerima keuntungan dari selisih harga pembayaran dengan nilai yang tertulis di kuitansi.”

“Padahal yang jelek-jelek itu bikin ketagihan dan jadi kebiasaan ya Pak RT, kalau tidak ketahuan.” tukas Mbah Samto.

“Betul.” Jawab Pak RT. – “Untuk kasus-kasus korupsi dan penyuapan besar seperti sekarang ini, sebenarnya bukan masalah yang tidak bisa terpecahkan. Kenyataannya di negara lain pun tindakan tercela ini juga terjadi, namun bisa diminimalisasi menuju terhapus. Kuncinya hanya terletak pada ketegasan penegak hukum dari pengadil untuk memberikan efek jera, sehingga tidak terulang dan menular perbuatan korupsi dan penyuapan itu.”

Pak RT melirik Mas Ben, “Ayo Mas Ben, biasanya banyak ide. Bagaimana Mas biar budaya korupsi dan menyuap bisa dihilangkan di negeri kita ?”

Mas Ben yang tengah asyik mengudap nogosari dan the manisnya tergagap mendapat operan pertanyaan dadakan dari Pak RT.

“Eh … ya, anu … begini. Sependapat dengan Pak RT. – Sebenarnya tergantung niatnya saja koq. Andaikan saja para penegak hukum dan pengadil itu mampu bersikap adil dan tegas pasti praktek korupsi dan penyuapan itu akan bisa diatasi.”

“Lha caranya bagaimana Mas Ben ? Potong Pak RT.

“Kita kan pernah mengetahui terhukum Jaksa Oerip divonis duapuluh tahun kurungan, sementara sangat banyak terhukum lainnya yang cukup divonis dua tahun kurungan saja. Mengapa tidak disamaratakan saja masa hukumannya, ya to ?”

“Atau dihukum mati saja seperti di China ya Mas Ben ?” kata si Jiyo.

“Tidak harus dihukum mati. Mematikan orang itu hak mutlaknya Tuhan lewat malaikat pencabut nyawaNya. Lagipula hukuman mati bisa menambah dosa, bila hukuman itu batal dilaksanakan. Bayangkan, vonis mati sudah dijatuhkan, namun karena Tuhan belum menggariskan batas ajalnya, belakangan si terhukum mendapat pengampunan remisi karena ada bukti baru yang mementahkan dakwaan kepadanya. Sementara orang di kita itu paling mudah digiring opininya, pasti langsung mencap buruk kepada seseorang karena opini publik, ditambah kekuatan media yang powerfull memberikan asumsi bersalah walau belum terbukti. Hukuman mati batal, sementara rasa dendam dan kebencian masih mengendap di dalam hati, belum bisa memaafkan dan menerima kenyataan. Kan dosa to itu namanya ?”

Tampaknya Mas Ben mampu menyihir warga yang berkumpul di rumah Pak RT dengan “khotbahnya” itu.

“Jadi, ndak usah memaksakan pemberlakukan hukum mati kepada para pelaku korupsi dan penyuapan, hukum saja dengan hukuman moral. Misalnya, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan jajarannya menerapkan kesetaraan hukum dengan membuat tabel bobot hukuman. Tidak ada hukuman maksimum, semua disamakan. Bila ada yang berani memvonis 20 tahun, ya jadikan itu sebagai patokan hukuman, tidak peduli besar-kecilnya uang yang dikorupsi.”

Mas Ben berhenti sejenak berkata-kata. Diraihnya gelasnya dan direguknya teh yang tersisa di dalamnya.

“Tidak cukup itu saja. Bila sudah berpangkat terdakwa, data kependudukannya langsung diperbarui, diberikan catatan keterangan koruptor. Dengan begitu apa mereka yang mau nyoba-nyoba korupsi atau kepingin ketagihan, masih berani korupsi ? Siapa yang mau namanya masuk daftar hitam negara, dan diberi stempel koruptor di KTP-nya ? Sudah ndak bisa berkutik seumur hidup to ?” – “Bukan hanya kepada pelaku korupsi saja hukuman “pemberangusan nama” ini diberlakukan.

“Wah wah wah, berlean juga ya idenya Mas Ben.” Mbak Samto tertawa riang.

Tidak sadar diskusi akrab para warga ini sudah masuk ke waktu lohor. Seiring kumandang azan, “Maaf saudara-saudara, tetapi ngomong – ngomong sudah siang nih Pak RT. Kerja baktinya sudah selesai to, ndak ada yang mau dilanjutkan lagi ?” Sergah Pak Mardi.

Pak RT melirik jam di atas pintu ruang tengahnya yang jarumnya sudah menunjuk ke angka 12.15, “Wah iya, tidak terasa yang Bapak-Bapak. Baiklah Bapak-Bapak yang masih ada keperluan boleh kalau mau pulang duluan. Yang masih betah juga boleh tinggal dulu menemani saya ngobrol.”

Para warga saling berpamitan, meninggalkan Mas Ben, Lik Promo dan Pak RT.

Demikianlah obrolan bergaya pinggiran warga itu diakhiri di sini.

 


Salam

Ben Sadhana 

Iklan

Posted September 27, 2017 by Ben Sadhana in Sastra, Uncategorized

Tagged with , ,

SANG KALA   Leave a comment

Dear,

SANG KALA

Pagi merekah menebar asa
Pasangan serindit mencericit riang
Janganlah pagi sempat berakhir
Tatkala hati mendung menyongsong siang

Siang panjang menguak tabir nasib
Janganlah lega melepas siang
Sebelum hati riang penuh syukur
Mereguk segala manis indah kala

Sebab senja bersiap menyambut dalam kelembutannya
Segala hati bagi tubuh berpeluh penat bermadahkan syair ilahi
Menghantarkannya kepada malam
Penuh kesyahduan

Bulan merayu diiringi tarian bintang-bintang
Membuai meninabobokan
Jiwapun lelap dalam pelukan malam yang syadu

Perlahan sang kala tunaikan bhakti memutar lagu kehidupan

 


Salam

Ben Sadhana

Posted September 15, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Krakatau Award 2017   Leave a comment

Dear,

Pada tanggal 14 Agustus 2017, telah diumumkan susunan pemenang Lomba Cipta Puisi Nasional Krakatau Award 2017. Salah satu puisi nomine pemenang adalah puisi karya saya berjudul “Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai”. Puisi ini akan bersama 49 puisi lainnya akan diterbitkan dalam buku antologi puisi Krakatau Award 2017 bertajuk “Hikayat Secangkir Robusta

Selengkapnya puisi Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai, adalah sebagai berikut :

LAMPUNG SANG BUMI RUWA JURAI

 

Samudera Hindia dan Selat Sunda berandamu

Laut Jawa menyisimu, 210 km pantaimu hangat memelukmu

Krakatau, Pulau Pahawang, Teluk Kiluan, Air Terjun Putri Malu, Taman Nasional Way Kambas, terajut kekal kekayaan hayatimu

Kampung Tua di Sukau, Liwa, Kembahang, Batu Brak, Kenali, Ranau dan Krui,

Terjunjung tinggi warisan budayamu

 

Puluhan pulau tergugus dalam telukmu

Bukit Barisan dan gunung gemunung memilarimu

Pesagi, Tebak, Tanggamus dan Krakatau gagah pasak bumimu

Way Sekampung, Seputih, Mesuji panjang mengurati bumimu

Mengairi tanahmu

 

Sambam Iwa, beralas panas genteng

Gulai Karita semerbak kemangi

Sambol Recit Mandira membakar lidah penuh selera

Gulai Halom pedas manis kayu manis

Leluhur Ulun Lampung mewariskan

 

Geliat gemulai tubuh sarat pesona

Sigeh Pengunten, santun sambut tamu membuai mempelai

Cangget Agung, muda mudi meramu kehalusan budi, ketangkasan dan keindahan

Melinting, pepaduan kemurnian dan gerak maknawi simbol keagungan Ratu

 

Cucuk tapis membaluti

Anggun muda mudi serta tua mudamu

Priamu gagah oleh Sesapuran, Khikat, dan sarung tumpal

Jelita wanitamu berbalut selappai, bebe dan katu tapis bermahkota siger

 

Sang Bumi Ruwa Jurai

O takterkira nikmatnya

Bernaung dalam Nuwo Sesat

Di bumimu yang giat membangun rumah tangga yang agung

Dua kota tiga belas kabupaten, menyangga ekonomimu

 

 

—-

Surabaya, 18 Juli 2017

Benediktus Agung Widyatmoko

Denisa   Leave a comment

Denisa primadona keluarga kami. Bukan cuma aku, suami dan anak-anak kami, bahkan Rosidah pembantu rumah tangga kami, sangat sayang padanya, berkat penampilannya yang kalem, sikapnya yang penurut serta tidak neko-neko. Tidak cuma satu dan sekali saja, beberapa tamu kami pun melontarkan pujian. “Wah, beruntung lho Jeng, bisa adopsi anak yang imut manis menggemaskan gini” – demikian pujian selangit dari Bu Condro kepada Denisa saat acara arisan di rumah kami.

Kepanikan meliputi keluarga kami. Denisa menghilang dari rumah. Semua panik termasuk Rosidah yang tak kurang paniknya, sampai tugas pokok mengurus housekeeping rumah dan mengatur semua keperluan untuk keluarga kami ditinggalkannya, demi berkeliling ke setiap rumah di kompleks kami demi melacak keberadaan Denisa. “Sudah dua hari Denisa tidak pulang, bagaimana ini Bu”, – kesedihan mendalam terbaca jelas di wajahnya. “Apa kita lapor polisi saja Bu ?” – imbuhnya, yang segera kujawab jangan dulu. Upaya Eunike putri kami menyebar info hilangnya Denisa, termasuk menyebar fotonya ke media cetak, online bahkan termasuk memasangnya di pohon dan tiang listrik, juga belum membuahkan hasil.

“Ma, nanti ada orang dari PLN mau tebas ranting pohon kita, Rosidah suruh siapkan teh dan penganan untuk menjamu.” – Pesan suamiku, bersiap berangkat kerja. – “Jangan lupa kabari Papa, kalau ada perkembangan kabar tentang Denisa”, yang kuiyakan sambil kucium punggung tangannya. – Aku sedang di dapur memasukkan nasi dan lauk pauk ke lemari makan, ketika tiba – tiba kudengar suara Rosidah dari depan, “Alhamdullillah Bu, Denisa sudah ketemu”. Aku bergegas berlari ke depan. Dan benar, kulihat Rosidah di bawah pohon yang dipangkas dengan wajah semringah, dan sementara dari atas pohon, Petugas PLN hati – hati turun menapaki satu persatu anak tangga bambu sambil menggendong Denisa yang langsung disambut Rosidah, berpindah ke dalam pelukannya. Betapa girangnya keluarga kami, Denisa telah kembali. Ya, Denisa primadona keluarga kami, kucing betina yang kami adopsi dari keluarga Pakde Gondo empat bulan lalu.


Salam

Ben Sadhana

Posted Agustus 7, 2017 by Ben Sadhana in Jurnal, Sastra

Tagged with , ,

Ratu Pentas   Leave a comment

Kusapukan pandangan ke arena luas di hadapanku. Akhirnya pentas ini menjadi milikku. Kuat kutahan genangan di pelupuk mata agar tak bergulir membasahi pipi merusak polesan riasan wajahku. Kuperhatikan ke arah tempat penonton, telah berkumpul laki-laki dan wanita dari berbagai golongan usia. Sesaat lagi, Gusti berikan kuat hambaMu ini.

Lampu pun menyala, tanda pentas harus kumulai, dan ini pentas pertamaku. Tandakku melenggak seirama nada menghentak gending pengiring. Sampurku berkelebatan ikut menari. Menari dan menari.

Tiada tepuk maupun sorak dari penonton. Begitu pun ketika aksiku berakhir. Wajah – wajah kaku nan dingin tetap tiada respon berarti tanda apresiasi, termasuk ketika saat satu persatu kuhampiri mereka sodorkan kantung berharap derma. Penontonku pun berhamburan meniggalkanku yang menepi di bawah traffic light menantikan saatku masuk pentas lagi.


Salam

Ben Sadhana

Posted Agustus 7, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , ,

Agustus 2017   Leave a comment

Dear,

Belum pudar dari ingatan tentang beragam peristiwa yang hilir mudik di media baik cetak, online maupun elektronik ya. Dan biasanya makin mantab nyamleng berkat bumbu – bumbu tambahan bila sudah masuk ke pelataran WA dan sejenisnya, betul ya 🙂 Mulai dari kasus plagiatisme oleh salah seorang rekan yang awalnya sempat merasakan nikmatnya pujian, kemudian pansus (atau apalah namanya) KPK yang sekarang mulai menguap seiring suapan nasi goreng dua jenderal akhir pekan lalu. Kemudian ada kasus maraknya kebakaran sekolahan di Kalimantan Tengah, plus terakhir kelangkaan garam di negara maritim. Yang masalah Pilkada DKI dan demo – demo berjilid berikutnya sengaja tidak saya sebut di sini, kuatir ada yang ngangetin lagi hehe.

Masalah demi masalah nasional seolah menjadi menu harian keluarga Indonesia (bukan lagi mie instan sebagaimana pesan niaga) 🙂 . Dan entah suka atau tidak, mau tidak mau ya mesti ditelan, wong semua stasiun tivi berlomba mawartakannya dengan adonan bumbu jurnalistiknya masing – masing. Kalaupun ada tivi yang tidak menyiarkan karena jauh dari kepentingan politik pemiliknya, itupun cuma tivi yang siarannya sudah mapan nyaman dengan sajian drama tentang mahkamah pengadilan akhir hayat orang – orang galak yang jahat sejak proses kematian hingga prosesi pemakaman digambarkan dengan gamblangnya. Jadi ya akhirnya nunggu warta berita saja 🙂 demi menjaga sehatnya akal.

Terlepas dari 2019 menjelang, rasanya kok kalau boleh milih biarkan semua masalah yang jauh dari rasional itu jangan pernah ada. Bayangkan, kasus sekolahan di Palangkaraya (konon dari warta terkini sudah mulai merembet ke provinsi sebelah, di Kualakapuas) yang mendadak gilirian terbakar. Semua sekolah yang rata – rata SD Negeri itu terbakar dengan begitu saja. Meskipun saat ini sedang dalam penyidikan, namun semua kejadian selain sangat minimnya saksi sebelum api terlanjur besar, juga tidak didahului dengan adanya indikasi penguat penyebabnya yang terdeteksi sebelumnya, mulai dari adanya gangguan arus listrik, maupun adanya modus dari pelaku (bila memang kebakaran ini disengaja) semisal sehari sebelumnya ada orang yang telihat mondar – mandir di sekitar sekolah. Sekali lagi masalah kontrol dan kewaspadaan yang lagi – lagi dibebankan kepada penjaga sekolahan plus keluarganya yang harus ikhlas menerima beban kasus ini. Dengan tidak bermaksud menyalahkan pemerintah dalam hal ini aparat pemerintah kota / daerah, ada baiknya di setiap titik (di manapun wilayah administratifnya) dimana ada objek penting seperti kantor pemerintah, unit layanan masyarakat, tempat ibadah dan sarananya serta lembaga pendidikan perlu adanya CCTC terpasang. Hal ini penting untuk cek dan antisipasi kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Juga penting adanya upaya pelatihan pemadaman api kepada para petugas keamanannya, termasuk bila memungkinkan adanya hidran terpasang di setiap atau sekitar bangunan vital.

Terakhir yang tidak kalah ngerinya, masalah kelangkaan garam di negeri maritim. Indonesia, negeri kita yang sebagaian besar wilayahnya adalah lautan mengalami kenyataan pasokan stok garam lokalnya yang minim dan langka, sehingga harganya membubung, kalah murah dengan garam kiriman dari negara benua tetangga. Kemana coba perginya garam – garam kita. Faktanya kalau kita sisir pantai utara pulau Jawa (Jaw Tengah saja deh), kita akan dihadapkan pada pemandangan tambak garam yang terhampar luas di sepanjang pantainya. Ironi dan nyata memang. Karenanya tidak heran beredar meme “Kemana garam kita ? Lha gudangnya garam saja isinya rokok.” Pengin ketawa tapi gak tega, bener.

Ok, hari ini 2 Agustus 2017, 15 hari menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia, negara kita. Semoga segala hingar bingar masalah politik ekonomi sosial dan budaya segera mampu dihilangkan. Sehingga Indonesia mampu menjadi negara yang mandiri didukung oleh warga negaranya yang dewasa, menjunjung tinggi ideologi kebangsaan NKRI, bersatu padu menjunjung tinggi Pancasila lambang negara kita dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Sedikit nyentil pesan patriotisme Panglima Besar TKR Jendral Soedirman, bahwa tidak ada sedikitpun tempat untuk militer dalam politik, demikian juga sebaliknya.

Selamat hari Kemerdekaan, Dirgahayu Indonesia.


Salam

Ben Sadhana

Posted Agustus 1, 2017 by Ben Sadhana in Jurnal, Uncategorized

Candi   Leave a comment

Kekar wujudmu menatap langit

Kokoh tiada gentar menantang zaman

Terukir pada tubuhmu ungkapan rasa

meleburnya cinta dan karsa pembuatmu

 

Teguh menjulang ke angkasa

Bukan jumawa, simbol kebesaran kau tampilkan

Saksi bisu sebuah peradaban masa lalu

Melambangkan keperkasaan persada

 

Batumu hitam kelam

Dahsyat alam menempamu tiada mampu menguncang

Kaubuktikan kedigdayaanmu wartakan kejayaan masa lampau

Guratan sejarah indah terukir di batumu

 

Candiku abadi sepanjang masa

Tiada sanggup alam mengikis

Beratus ribu tahun tanah menguburmu

Tak jua mampu merusak dan melenyapkanmu

 

Candiku warisan budaya

Segala bangsa memuji menghampiri

Potretmu tersebar ke pelosok dunia

Memoar abadi kejayaan negeriku pertiwi

 


 

Ben Sadhana

[Sambiarum, 28 Juli 2017]

 

 

 

 

Posted Juli 28, 2017 by Ben Sadhana in Jurnal, Sastra

Tagged with , , , ,

%d blogger menyukai ini: