Archive for the ‘Cerita Pendek’ Tag

BECAKKU SAYANG BECAKKU MALANG   Leave a comment

Dear Pembaca,

 

Perkenalkan, saya seorang tukang becak. Bukan dari keluarga berada, karenanya kondisi kehidupan saya kini pun seadanya, apa adanya – maksudnya, apa yang kebetulan ada untuk hari ini, patut disyukuri. Pernah suatu hari sama sekali saya tidak beroleh pelanggan yang mau menggunakan jasa becak saya, bagaimanapun saya bersyukur – setidaknya becak ini tidak pernah rewel menambah beban untuk servis atau perbaikan. Jadi penarik becak itu harus sabar, terlebih di tengah semakin ketatnya persaingan, baik sesama tukang becak, tukang ojek, angkot, termasuk angkot dan ojek online. Puji syukur belum ada becak online menjadi kompetitor saya.

Hari ini, lewat tengah hari akhirnya saya mendapat penumpang seorang perempuan. Sampai tujuan, saya angkat tinggi roda belakang becak demi memudahkannya turun – mengingat dirinya sedang hamil. Dia menyerahkan selembar uang, meminta ditunggu saat saya mengaduk kantung tas yang melingkar di pinggang saya bermaksud hendak mencari kembalian. Belum lama saya menunggu, terdengar lengkingan jeritan kesakitan. Kembali terdengar jeritan kedua, ketiga. Pintu terkuak keras, perempuan penumpang saya terhuyung berlari ke arah saya, terlihat darah pekat berleleran di kedua kakinya membasahi dasternya. Serta merta saya songsong ia, saya bopong menaikkannya ke becak. Pingsan dia – saya panik.

Saya kayuh becak mencari rumah sakit terdekat. Tidak adanya selembarpun tanda pengenal identitas padanya membuat saya kebingungan. Di IGD, saat petugas menanyakan keluarganya, di dalam kekalutan saya jawab saya keluarganya. Ditanya lebih lanjut hubungan dengan pasien … spontan saya jawab kalau saya suaminya. Saya melongo saat menerima selembar kertas yang menampilkan deretan angka harga obat dan perlengkapan rawat inap yang saya terima dari petugas IGD yang semuanya harus ditebus di muka. Dalam bingung saya meminta izin petugas keluar sebentar mengambil uang. Saya benar-benar bingung, kemana saya bisa dapatkan uang dalam waktu cepat. Saya pandangi becak saya dalam-dalam dan lama. Saya elus dan saya ciumi becak saya sebelum akhirnya saya bawa ke juragan becak, menggadaikannya. Bergegas saya kembali ke rumah sakit. Dengan menumpang ojek, di perjalanan saya melewati gereja, terdengar lamat-lamat lagu Putri Sion, Nyanyilah : Putri Sion nyanyilah | soraklah Yerusalem. Mari sambut Rajamu … Dalam batin terdaraskan doa, mohon ampun tidak hadir misa kali ini – sekaligus di masa adven ini, saya panjatkan doa untuk keselamatan penumpang saya dan bayinya.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Pentigraf ini termasuk karya yang terdapat dalam buku “Semangkuk Sup di Malam Kudus”

Iklan

Posted Desember 31, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , , ,

[Pentigraf] NYANYIAN SEORANG IBU   Leave a comment

Dear Pembaca,

Dalam posting kali ini Mas Ben sajikan sebuah karya cerpen tiga paragraf (Pentigraf).

Selamat menikmati 🙂

 

NYANYIAN HATI SEORANG IBU

Ben Sadhana

 

Perempuan itu histeris di menara BTS, mengancam akan melompat. Wajah-wajah panik bersemu kengerian hilir mudik di bawah dan sekitar lokasi BTS. Terlihat dua orang menaiki menara berusaha membujuk agar perempuan itu mau turun. Kepanikan semakin menjadi ketika ia semakin naik. Bukan lagi menangis, melainkan tertawa-tawa keras, dan mulutnya meracau seperti melagukan nyanyian yang tidak jelas.

“Turun Nduk, eling”, teriakan seorang perempuan tua yang baru hadir. Ia datang tergopoh-gopoh ditemani dua orang pria. “Nyebut Nduk, eling anakmu masih kecil.” Kembali perempuan itu merajuk mengiba. Sejenak perempuan di atas menara menghentikan tawa dan nyanyiannya, memandang ke bawah – ke arah perempuan tua. “Anakku sudah mati, aku juga mau mati,” jeritnya. Kemudian terdengar tangisnya yang menyayat hati. “Ini anakmu, Nduk. Cepat turunlah,” kembali wanita tua mengiba memohon sambil mengunjukkan boneka yang terbungkus kain, memunculkan keheranan orang-orang yang ada.

Tiba-tiba angin berembus kencang, membuatnya kehilangan keseimbangan. Kini tubuhnya bergelantungan dengan satu tangan, satu tangannya lagi menggapai-gapai berusaha meraih pegangan, menambah dramatis suasana. “Raih tangan saya,” teriak petugas PMK yang didatangkan untuk menolongnya. Sedikit ragu – ragu perempuan itu memandang petugas, perlahan tangannya terulur … jarinya sudah menyentuh ujung jari petugas ketika seekor burung gagak melintas di antara keduanya. “Oh, Tuhan !” Spontan pekik petugas. Wajahnya dipalingkan, tidak kuasa menyaksikan tubuh perempuan itu melayang meluncur deras ke bawah. Hingga didengarnya pekik kelegaan orang-orang di bawah. Perempuan itu selamat. Tubuhnya jatuh tepat di atas jaring yang telah dibentangkan dengan enam orang memegangnya. Dari ketinggian dilihatnya perempuan itu kini dengan boneka dalam gendongannya, patuh ketika dua orang yang datang bersama perempuan tua itu membimbingnya menuju mobil putih yang akan membawanya kembali ke rumah sakit jiwa.[]

 

Salam Bentoelisan

Ben Sadhana

Posted November 17, 2017 by Ben Sadhana in Sastra

Tagged with , , , ,

%d blogger menyukai ini: