BENTOELISAN

Tegas – Lugas – Ringkas – Cerdas


Tinggalkan komentar

Ratu Pentas

Kusapukan pandangan ke arena luas di hadapanku. Akhirnya pentas ini menjadi milikku. Kuat kutahan genangan di pelupuk mata agar tak bergulir membasahi pipi merusak polesan riasan wajahku. Kuperhatikan ke arah tempat penonton, telah berkumpul laki-laki dan wanita dari berbagai golongan usia. Sesaat lagi, Gusti berikan kuat hambaMu ini.

Lampu pun menyala, tanda pentas harus kumulai, dan ini pentas pertamaku. Tandakku melenggak seirama nada menghentak gending pengiring. Sampurku berkelebatan ikut menari. Menari dan menari.

Tiada tepuk maupun sorak dari penonton. Begitu pun ketika aksiku berakhir. Wajah – wajah kaku nan dingin tetap tiada respon berarti tanda apresiasi, termasuk ketika saat satu persatu kuhampiri mereka sodorkan kantung berharap derma. Penontonku pun berhamburan meniggalkanku yang menepi di bawah traffic light menantikan saatku masuk pentas lagi.


Salam

Ben Sadhana


Tinggalkan komentar

Selamat Pagi Tuhan

Waktu menunjukkan pukul 07.00,  dan aku sudah rapih ngganteng rambut tersisir rapih ala Don Corleone di filem The Godfather, seingatku ini peristiwa mandi terpagi dalam sejarah hari Mingguku. Setelah berdoa kepada Bunda Maria, kuambil posisi nyaman di beranda kamar tempatku bermalam, kumanjakan mata ini oleh pemandangan pemukiman dengan sungai yang begitu tampak indahnya dari tempatku duduk, mengingatkanku kepada kampung kali code, pemukiman apik olah karya tangan dingin Almarhum Romo Mangun. Di tanganku sudah tergenggam buku baru souvenir yang kuperoleh dari kegiatan workshop hari pertama kemarin, seolah taksabar untuk segera kulahap setiap larik kata-katanya.  Entah, Roh baik mana yang telah membangun kesadaranku pagi ini.

“Bangun Mas,  sudah siang.  Jangan sampai rejeki kita dicolong setan.” – Alarm ragawi yang sama setiap pagi selalu dari isteriku,  terkadang ada aksi sergapan optimus dari putra kami. “Ya udah,  lanjutkan saja tidurmu,  biar dikeloni setan.”  Gerutu isteriku selalu seperti itu ketika setiap kali pula aku lebih memilih menikmati kemanjaan pagiku.

Yup,  selamat pagi Tuhan. Terimakasih berkatMu kepadaku sebab seorang isteri yang baik juga seorang anak yang cerdas dalam kenakalan kanak-kanaknya. Pagi ini memang tidak bisa kupeluk engkau wahai istri dan putraku sebagaimana biasa pagi-pagi kita,  tapi terimakasih telah tetap kaubangunkan aku dari kota sebelah, yang tetap kurasakan kasih sayang itu.

 


Ben Sadhana

[Malang, 9 Juli 2017]


Tinggalkan komentar

Kisah Kabel Laptopku

Aku punya kegemaran baru. Obsesi yang telah lama tenggelam, kini bangkit lagi ke permukaan. Menulis – ya, aku mulai suka lagi menulis, menjadi betah berlama-lama di depan gadgetku; baik laptop maupun ponselku. Keasyikan yang ketemukan kembali itu rupanya, berdampak nyata yang sangat dirasakan oleh isteriku – mulai dari diriku yang berubah menjadi “pendiam” yang jika ditanya karena sedang mencari ilham dan ide jawabanku yang telah menjadi template standar. Aku juga menjadi sok jaim kalau diajak bercanda anak, dan paling fatal adalah karena aku jadi suka alpa melaksanakan tugas nguras bak mandi, yang kemudian atas kesepakatan bilateral antara ibu dan anak, kini lebih sering anakku yang berperan sebagai pelaksana tugas mingguanku itu.

Aku ingat, betapa gundahnya hatiku tatkala dengan senyum kemenangannya, isteriku puas menyaksikan aku tidak lagi bisa menuangkan ideku dengan sempurna, karena kabel adaptor laptopku telah dalam penguasaan penuh istriku, tersembunyi di tempat yang sangat rahasia. Setiap aku merajuk menanyakan keberadaan kabel adaptor laptopku, selalu tersaji jawaban yang pasti sama dari isteriku, “yang terakhir pakai laptop siapa, kan bukan aku.”

Menghadapi situasi ini, benar – benar aku terpuruk dalam kemeranaan. Hingga akhirnya muncul ide brilianku – aku mulai gunakan kata – kata bermajas bernuansa sastrawi nan puitik tatkala kusapa dan bercakap dengan istri dan anakku, sebagai pelampiasan ide yang tidak bisa kutuangkan melalui layar laptopku. Istriku dan anakku yang semula tabah, akhirnya tumbang juga. Pada suatu sore yang cerah, ketika aku sedang berbagi kisah kepada istriku, dengan kata-kata sastrawi dan puitis, istriku pun beranjak dan sejenak kemudian telah kembali dengan tas kresek di tangannya seraya berucap, “Mending diam deh. Nih kabelnya, diketik saja kata-katamu itu.” – Sebuah instruksi yang tentu saja kusambut gembira, dan dengan suka cita kulaksanakan dengan riang ria. Kulihat istriku sudah larut dalam keasyikannya, nonton drama India di tivi.

 


Ben Sadhana

[Sambiarum, 21 Juli 2017]