Archive for the ‘Sumpah Pemuda’ Tag

Blogger dan Semangat Sumpah Pemuda   12 comments

Salam untuk Anda semua,

Blogger dan semangat sumpah pemuda. Pertanyaan mendasar perlu klarifikasi adalah mengapa harus blogger ? Mengapa bukan segenap warga negara Indonesia ? Toh sumpah pemuda adalah representasi dari hasrat para pemuda Indonesia untuk bersumpah setia menjunjung kerukunan bernegara.

Jawaban paling sederhana adalah karena adanya kedekatan antara tanggal 27 Oktober yang telah ditetapkan menjadi Hari Blogger Nasional, dan tanggal 28 Oktober yang diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Dan sebagai informasi, bahwa pada hari Sabtu tanggal 30 Oktober 2010 akan dilangsungkan sebuah pesta akbar para blogger Indonesia [mungkin ada tamu dari luar negeri ?]dan pelaku jejaring sosial, dunia maya bertopik “Pesta Blogger+ 2010 – Merayakan Keragaman”.

Pemilihan tema dan pengangkatan isu yang sangat cerdas,  menyentil kondisi dunia umumnya dan Indonesia khususnya yang ternyata  hingga setelah 82 tahun sumpah pemuda Indonesia dideklarasikan, masalah SARA masih menjadi polemik yang menghiasi perjalanan sejarah bangsa ini.

Mari kita tengok paling dekat saja kisah konflik jemaat HKBP dengan warga di Bekasi, masalah SKB 3 menteri tentang penyelenggaraan rumah ibadah yang masih dipertentangkan, marjinalisasi kaum Ahmadiyah, dan juga masalah-masalah bernuansa SARA lainnya, masih sering terjadi di Indonesia. Kejadian ini bukan hanya terjadi di area rakyat saja, namun juga sudah menjangkiti para elit politik yang duduk di pemerintahan / kabinet.

Masalah kebangsaan, masih banyak saudara sebangsa setanah air kita yang belum merasakan kesetaraan dan pemerataan dalam pembangunan dan kesejahteraan. Masih ada pergerakan-pergerakan yang berupaya merongrong kedaulatan negara, memberontak berkeinginan membentuk sebuah negara merdeka yang terpisah dari negara Republik Indonesia. Upaya makar yang bahkan telah digagas dan dirancang di luar negeri, sebagaimana dilakukan oleh RMS beberapa waktu lalu. Dari internal pun upaya menggoyang stabilitas negara tidak kurang banyak dengan kelompok-kelompok yang terus merongrong kewibawaan pemerintah melakukan teror demi tujuan mengganti ideologi negara Pancasila.

Masalah-masalah kewarganegaraan dan berbangsa masih disikapi dan ditanggapi beragam. Belum ada satu kata atau sikap dan upaya untuk penyelesaiannya. Yang marak terjadi justeru perseteruan opini tanpa aksi nyata untuk memperbaiki. Tidak jarang diperkeruh oleh pemberitaan media yang tidak proporsional dan cenderung memojokkan pemimpin negara.

Dalam masalah bahasa, kita masih sering menjumpai dalam berbagai kesempatan, bahasa Indonesia tidak digunakan sebagaimana kaidah yang semestinya. Sebagai contoh, taman bermain anak-anak atau lebaga pendidikan pre-sekolah cenderung memaksakan anak-anak harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Dampaknya mau tidak mau, para orang tua anak pun di rumah harus sering berkomunikasi menggunakan kata-kata bahasa Inggris demi metode belajar anak-anak mereka. Di luar rumah, begitu banyak nama toko, perumahan atau perkantoran memilih menggunakan istilah asing untuk penamaannya, demi alasan komersialitas.

Contoh lain paling jamak adalah dalam berbagai kesempatan talk show [temu wicara] atau wawancara di televisi, banyak narasumber sering menyisipkan kata, frasa atau kalimat dalam bahasa asing. Termasuk dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Bapak Presiden kita Soesilo Bambang Yudoyono yang pernah mendapat anugerah tokoh berbahasa Indonesia paling baik dan benar, pun sekarang sangat gemar menggunakan istilah-istilah asing dalam percakapan resmi maupun non-resmi beliau.

Sungguh disayangkan sekali bahwa semangat kebangsaan yang pada konggres pemuda di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928 dengan melahirkan janji persatuan Sumpah Pemuda yang megah yang sebelum pembacaannya didahului oleh diperdengarkannya lagu kebangsaan Indonesia Raya itu, justeru semakin pudar dari waktu ke waktu. Semangat sumpah pemuda nyaris luntur dari jiwa semua lapisan masyarakat negeri tercinta ini.

Seiring memudarnya semangat persatuan dan nilai tenggang rasa ini, setidaknya ada angin segar yang menyegarkan dengan lahirnya para blogger nasional yang giat mempropagandakan keberagaman melalui karya-karya tulis di blog mereka. Termasuk kegiatan-kegiatan amal yang mengatasnamakan blogger.

Penghargaan atas keberagaman itu terlukiskan jelas dalam bingkai kegiatan yang mereka adakan. Kegiatan yang mereka usung selalu lintas budaya dan etnis. Dan dipastikan dalam setiap acara yang diselenggarakan atas nama blogger dan pelaku jejaring sosial dunia maya selalu berakhir penuh kesan kebersamaan dan kerinduan untuk berulangnya.

Dalam tulisan-tulisan mereka, sekalipun banyak mengedepankan opini pribadi, toh tidak pernah terjadi atau terdengar kisah permusuhan atau pecahnya komunitas blogger kewilayahan disebabkan oleh perbedaan pendapat dan ideologi. Semua dikembalikan kepada narablog yang bersangkutan untuk mempertanggungjawabkan isi tulisannya, bila di kemudian hari ada dampak mengikuti hasil pemikirannya.

Demikian pun dalam ajang Pesta Blogger + 2010 “Merayakan Keragaman”, nafas dan semangat persaudaraan bangsa telah jauh hari ditampilkan melalui Blogshop Pesta Blogger+ 2010 di 10 kota Indonesia.

Bukti nyata bahwa deritamu adalah deritaku juga, telah dibuktikan banyak oleh kawan – kawan blogger dengan komunitasnya : ambillah contoh komunitas Bengawan dengan Solo Sinaunya, Blogger Bekasi dengan Sebuai-nya, Leonpia dengan kegiatan sosialnya, BHI dengan aksi buku dan pendidikan, dan masih banyak contoh kegiatan positif memupuk rasa solidaritas dan kemanusiaan lain oleh para blogger dengan komunitasnya, seperti baru-baru ini Pesta Blogger 2010+ Untuk #Mentawai dan Merapi#.

Kuncup persatuan telah bersemi kembali melalui persaudaraan para blogger dan komunitasnya. Persaudaraan yang lintas budaya, religi, dan etnik yang tanpa motif kepentingan.

Sebagai tanda sukacita atas kuncup baru ndonesia yang bersatu, marilah kita perbarui sumpah kita sebagai putra-putri Indonesia yang merindukan dan mengupayakan kembalinya persatauan sejati Indonesia :

SUMPAH PEMUDA

Pertama :
– KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
– KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
– KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA

 

 

Salam bentoelisan

Mas Ben

Iklan

Posted Oktober 27, 2010 by Ben Sadhana in Apresiasi, Jurnal

Tagged with , ,

%d blogger menyukai ini: