Durma   25 comments


Halo Bentoeliser,

Suasana malam itu hening dan dingin, cukup mendukung untuk memanjakan tubuh di pembaringan. Mas Ben yang juga kebagian jatah beronda malam itu, bersiap-siap dengan jaket dan senter.

“Ini Mas, teh hangatnya jangan lupa dibawa.” Pesan Jeng Arum sambil menyodorkan setermos teh hangat dan 4 gelas plastik untuk peneman sebelum keliling ronda dimulai.

“Aku keluar dulu Jeng.” Pamit Mas Ben dibarengi kecupan ke pipi dan kening isterinya.

Di gardu ronda, Kang Darno dan Kasturi tampak menikmati suasana dengan obrolan kecil dan beberapa pisang goreng mendampingi.

“Nah ini dia tehnya datang.” sambut Kang Darno.

“Wah sampeyan itu, koq bukan menanti saya to, malah tehnya yang disambut.” Kata Mas Ben mengambil posisi di pojok gardu.

“Lha iya to Mas Ben, kan malam ini agak dingin, lebih dingin dari biasanya. Jadi ya teh hangat ini sangat diperlukan untuk mendukung ronda kita.”  Ujar Kasturi sambil menuangkan teh ke dalam gelas plastik.

“Radionya mbok disetel, Kang. Nyetel klenengan atau apa buat ngusir ngantuk.” Kata Mas Ben.

“Ah ya,  siapa tahu ada perkembangan baru kasus Gayus. Nyetel RRI saja ya Mas Ben, sudah jam 10 malam ada berita.”  Kata Kang Darno sambil meraih radio, memutar tombol gelombangnya.

“Gayus terus, cari berita lain saja ah.” Suara Pak Mardi yang tiba-tiba datang mengagetkan mereka bertiga.

“Wah Pak Mardi itu, kalau dateng mbok yao uluk salam atau apa kek. Ngaget-ngageti saja.” Tegur Mas Ben.

“Wah pisang goreng plus teh angetnya kok kemepul menggoda.” Pak Mardi meraih sepotong pisang, mengabaikan teguran Mas Ben.

Kang Darno dan Kasturi melirik tersenyum, “Yo gitu itu kelakuan Pak Mardi.”

Sambil mengunyah pisang, Pak Mardi mangambil alih radio dan memutar tombol gelombang. Kepalanya gelang-geleng mengikuti irama ketika putarannya berhenti di lagu gending klenengan.

“Halah Pak Mardi itu lho, ndak ngetren banget ik seleranya. Ndak menghargai selera universal.” Protes Kasturi.

“Lho, justeru bangsa kita ini sudah saatnya menengok ke belakang lho. Menengok ajaran budaya lama yang sarat petuah kebajikan. Salah satunya ya melalui membudayakan kembali tembang mocopat seperti ini.” Pak Mardi berkelit disisipi filosofi.

“Ada betulnya juga lho kata Pak Mardi ini.” Kata Mas Ben.

“Negeri kita ini sedang berada dalam masa mengerikan sekali, kalau diibaratkan sedang boroken parah justeru bagian dalam yang kena.” Lanjut Mas Ben.

“Maksudmu itu apa to Mas Ben, wong borok kok di dalam to ?” Potong Pak Mardi.

“Lho, sampeyan itu yang ngajari nilai-nilai luhur mocopat koq malah ndak tahu maksud omongan Mas Ben to, Pak Mardi ?” Giliran Kang Darno urun suara.

“Maksudnya Mas Ben itu bangsa kita itu sedang diuji imannya. Di bangsa kita ini sedang terjadi krisis moral.” Kang Darno mengepulkan asap kreteknya.

“Kita bisa lihat, kejahatan para amtenar [pegawai pemerintah, maksudnya] makin marak seolah sulit dihambat. Berkembang bagai benalu menggerogoti bangsa. Mereka tidak memikirkan bahwa bangsa ini akan menjadi semakin rapuh dan menggrik-menggrik akibat ulah mereka.” Papar Kang Darno.

Pak Mardi manggut-manggut melirik pisang goreng yang tinggal sepotong.

“Nyoh, buat Pak Mardi.” Kata Kasturi yang menlihat hasrat terpendam di wajah Pak Mardi.

“Kamu tahu saja, Kas.” Jawab Pak Mardi tersipu.

“Para pendahulu kita sudah mewariskan ajaran hidup yang sarat nilai-nilai moral dan agama, melalui tembang mocopat. Misalnya Durma dan Pangkur. Kalau kita hayati, itu semua kan gambaran yang sedang terjadi di negeri kita to ?” Lalu Kang Darno menembangkan Durma,

Kae manungsa golek upa angkara
Sesingidan mawuni
ngGawa bandha donya
mBuwang rasa agama
Nyingkiri sesanti ati
Tan wedi dosa
Tan eling bakal mati

Banyak orang di negeri kita ini yang sedang mengupayakan keangkaraan, berlomba-lomba mengumpulkan harta dunia, dengan mengabaikan ajaran agama, menjauhi pesan nurani, tidak takut dosa, tidak ingat bakal mati.

juga Pangkur :

Sekar Pangkur kang winarna
lelabuhan kang kanggo wong urip
ala lan becik puniku
prayoga kawruhana
adat waton puniku dipun kadulu
miwa ingkang tatakrama
den keesthi siyang ratri

“Wah kalau ini saya tahu artinya Kang Darno, artinya dalam hidup itu selalu ada aturannya, tentang ajaran kebaikan dan kejelekan, yang harus kita ketahui dan mampu pilah, utamakan tatakrama. Betul begitu kan ? Nyaring suara Kasturi.

“Kamu ngawur, tapi ada benernya juga Kas.” Jawab Kang Darno meilirik Mas Ben yang sedari tadi banyak memilih jadi pendengar.

“Jangan tanya saya lho, saya juga tidak mengerti tembang mocopat.” Mas Ben buru-buru berkelit.

Semua tergelak melihat Mas Ben yang salah tingkah itu.

“Terjemahan intinya dari kesebelas tembang mocopat adalah bahwa tiap-tiap manusia kepunyaan Tuhan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Itu saja yang saya tahu.” Kata Mas Ben.

“Lho berarti mereka semua yang suka korupsi dan berbuat tidak baik itu bukan ciptaan Tuhan ya, Mas Ben ?” kelakar Pak Mardi.

“Sudah-sudah, ayo kita mulai keliling.” Ajak Mas Ben sambil bangkit dari duduknya.

“Ah iya, sudah hampir jam 12.00, ayo kita keliling. Jangan lupa pintu gardu dikunci.” Imbuh Kang Darno.

Mereka pun beriring memulai ronda malam itu, berpisah terbagi dalam 2 kelompok.

Salam bentoelisan

Mas Ben

Iklan

Posted April 23, 2010 by Ben Sadhana in Jurnal

Tagged with , ,

25 responses to “Durma

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah terasa sekali keakraban nya pak .. teringat di desa saya … malam-malam kumpul .. dengarin radio bersama di POS RONDA .. plus kopi dan pisang goreng .. hampir sama apa yang bapak ceritakan …

    Suka

  2. waktu kecil aku takut banget kalo dengerin tembang jawa.. kayak ada hantunya hehehhehe

    Suka

  3. wah.. obrolan yang asik dan bermakna ya mas…
    emang negara kita ini lagi sakit.. semoga lekas sembuh…

    Suka

  4. salam kenal mas ben.

    Suka

  5. koment dl baru baca hehehe..
    ternyata mas ben punya 2 blog to 😀

    Suka

  6. hahaha.. wah saya tidak terlalu paham mas ben 😀
    maklum saya bukan orang jawa hehe..
    tp saya sedikit mengerti ttg durma gara² ntn kuntilanak yg dibintangi julia esteler hehe

    Suka

    • @Mbak Kampret : sekarang udah nggak takut lagi to ? 🙂

      @Mas Arsumba : Amin, mari kita doakan agar semakin banyak orang yang baik di negeri ini 🙂

      @Den Hanafi : Salam kenal juga Mas dari Bentoelisan 🙂

      @Free : Silakan dibaca-baca hehhe. Iya jadi 2 setelah kemarin sempat mati suri 3 hari blognya, jadi bikin baru lagi 🙂

      @Mas Tomi : Ssssstttttt saya juga tidak paham sekali koq hehehhehehe

      Salam bentoelisan
      Mas Ben

      Suka

  7. yupss

    Suka

  8. He eh yupsss 🙂

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

    Suka

  9. hahaha… masben… 🙂 emang pos ronda tempat yang enak buat ngerumpi, dari yang ringan sampai serius. apalagi buat nonton bola bareng. asal tidak seperti komplotan bang Acim hehehe…

    Suka

  10. Tembang mocopat yang merupakan salah satu produk budaya jawa mengilustrasikan perjalan hidup manusia mulai dari lahir sampai mati. Di dalamnya terkandung pitutur-pitutur luhur. Wah jadi ingat jaman dulu ketika sy ikut kelompok karawitan.

    Suka

  11. begitulah, kadang membayangkan uang yang dikorupsi pejabat rakus aja bikin ngeri..entah untuk apa uang haram yang begitu banyak,akhirnya muntah pula di tangan pengacara dan penegak hukum,masuk penjara dan berdosa..

    Suka

  12. kental sekali asas kekeluargaannya.. tidak seperti kehidupan di kota, individualis 🙂
    salam.

    Suka

    • @Mas MT : Heheehe, kalau Bang Acim itu udah memalfungsikan peruntukan sejati dari gardu ronda hehhehe. Terimakasih ya 🙂

      @Mas Mursyid : Iya Mas, walau nilai bahasa jawa saya dulu 5 hehehhe, tapi saya tetep semangat kalau mbahas soal budaya Jawa hehehehe

      @Mr Psycho : Ya begitulah Mister. Kita hanya kuasa mendoakan semoga mereka semua yang berbakat nakal itu segera memperoleh pencerahan hati 🙂

      @Mas Afif : Selamat datang di Bentoelisan, Mas. Terimakasih, salam kenal juga dari bentoelisan 🙂

      Salam bentoelisan
      Mas Ben

      Suka

  13. oke banget,….

    Suka

  14. Wealah saya dulu sering banget kena tugas ngeronda gitu Mas Ben, cuma dulu di Pos nggak bawa radio.. pernah waktu itu saya ngeronda ngejarin maling wuih jadi seru malahan hehe… BTW blognya keren juga, yg lama kemana eror lagi ya Mas?

    Salam Blogger

    Suka

  15. Ping-balik: Tweets that mention Durma | Mas Ben & Kata-Katanya -- Topsy.com

  16. “Wegah makarya kepingin urip kaya Raja. Ngumbar nafsu angkara murka anggedekake duroko. Wong bener tenger-tenger, wong salah bungah-bungah. Wong apik ditampik, wong jahat munggah pangkat.”

    Suka

    • @Mas Haryadi : Maturnuwun Mas 🙂

      @Fansmaniac : Radio di pos ronda kp Bentoelisan itu inventaris dari RW katanya, Mas 🙂 hehehe. Terimakasih Mas. Blog lama masih ada, alternatif buat para Bentoeliser pengin main. Soalnya sayang, yang ini terlanjur dibuat hehhhee.

      @Mas Bayu : Yo itu Mas, reality show sejati di Indonesia Raya yang kita cintai ini 🙂 Sing sabar yo para penyabar dan orang yang jujur hhehehehe

      Salam bentoelisan
      Mas Ben

      Suka

  17. wahh …jd ingat desaku nih…
    aku juga punya koleksi mp3 tembang mocopat lho di sini :
    http://desaweru.blogspot.com/2009/06/tembang-macapat-sarat-dengan-nasehat.html

    Suka

  18. terkadang perbincangan asyik terjadi tanpa direncanakan sebelumnya
    seperti di warung kopi sambil bicara kesana kemari akhirnya timbul juga topik yang menarik dan hangat

    salam dari pamekasan madura

    Suka

  19. critane ngalir enak…

    pesan tersampaikan dengan ringan…Tembang jawa syarat makna…

    *Aku pesen dandang gulo mas ben..:D

    Suka

    • @Mas Citro : Pembicaraan dengan topik ringan justeru manjur menghangatkan suasana dan memupuk akrab 🙂

      @Mas Sugiman : Maturnuwun Mas. Baiklah Mas, saya belajar dulu ya, nanti dandhanggula-ne dikirimken hehehe 🙂

      Salam bentoelisan
      Mas Ben

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: