Tumpeng Agustusan


Halo Bentoeliser,

Suasana pagi itu cerah berseri di kampung tempat Mas Ben tinggal. Jam baru menunjukkan pukul 6.30. Cericit burung menambah sejuk segarnya suasana.

Mas Ben tengah asyik mamandangi bendera yang gagah terkibar di tiang depan rumahnya, ketika Mbah Samto lewat dan menyapanya.

“Monggo Mas Ben.”

“Eh ya, monggo Mbah. Wah ndeting sekali panjenengan dengan seragam LVRI itu Mbah.”

Mbah Samto menghentikan sepedanya.

“Iyo Mas Ben, iki aku mau upacara pitulasan di Alun-Alun.” Suara Mbah Samto pelan tergetar, tatapannya menerawang teduh.

“Kemutan masa perjuangan ya Mbah ?”

“Iya Mas, waktu jaman perjuangan dulu aku masih umur belasan tahun, tapi juga sudah suka ikut perang. Jelek-jelek begini aku ini waktu itu sudah kedapuk jadi wakil komandan resimen lho.”

“Percoyo Mbah, ketahuan koq dari perbawanya.” Mas Ben menepuk bahu Mbah Samto.

Mereka tertawa bersama. “Wis ah Mas Ben, aku berangkat dulu ya.” pamit Mbah Samto.

“Nggih Mbah, nderekken. Oh ya nanti ke Pak RT nya bareng ya.” Mas Ben sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya kepada Mbah Samto yang sudah mengayuh sepedanya.

—-

Sore itu di beranda rumah Pak RT sudah tampak Pak Mardi, Jiyo, dan Lik Promo.

Lingkungan RT di mana Mas Ben tinggal, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal 17 Agustus terutama sejak Pak Kusno menjabat Ketua RT, selalu mengadakan tumpengan sekadar syukuran dan doa untuk negara dan pemimpinnya.

Pak Kusno, didukung swadaya sukarela dari warganya menjadikan acara tahunan ini sukses terlaksana. Para warga yang Ibu-Ibu berperan di dapur menyiapkan segala masakan dan logistiknya, dan yang pemuda seperti Kasturi dan Jiyo kebagian tugas laden membungkus dan membagi-bagi nasi tumpeng beserta lauk-pauknya. Memang tumpengan tahun ini berbeda. Karena bersamaan dengan bulan puasa, maka nasi tumpeng tidak disantap bersama, tapi dibekalkan pulang kepada yang hadir sebagai berkat.

Mbah Samto dan Mas Ben hadir beriringan sesuai janji mereka akan hadir berbarengan.

“Monggo-monggo Mbah Samto dan Mas Ben, monggo.” Pak RT mempersilakan keduanya.

“Wah, maaf telat.” Mas Ben berbasa-basi.

“Ah, ndak telat. Mulainya baru jam 16.00, masih setengah jam lagi mulai.” Balas Pak RT.

“Kan sudah diwakili gasiknya sama Jeng Arum dan Gus Atya tadi siang to.” Imbuh Lik Promo.

“Bapak … Bapak.” Suara kecil Atya melucur dari bibirnya.

Tampak dari pintu samping rumah Pak RT, Jeng Arum dan Atya di gendongannya.

“Maaf Pak RT, si kecil ini di belakang ngganggu ibu-ibu yang masak.” kata Jeng Arum berbasa-basi sambil menyerahkan Atya kepada Mas Ben.

Mas Ben menyambutnya, si Atya nampak girang dalam pangkuan bapaknya.

“Bocah bagus, aduh bakal pinter ya.” Si Jiyo gemas mencubit lengan montok Atya.

“Assalamualaikuum.”

“Waalaikuumsalam … eh Pak Kandar, monggo Pak … monggo moggo.” Pak RT bangkit menyalami Pak Kandar, sesepuh yang dipercaya memimpin acara dan doa.

Pak Kandar, menyalami satu-per satu yang hadir di situ.

“Belum telat kan ya, saya ?” Kata pak Kandar, setelah memposisikan diri di sebelah Pak RT.

“Belum Pak, masih menunggu Kang Darno dan Kasturi.” Sahut Lik Promo.

“Iyo, ini si Kasturi mana to. Juru laden berkat koq masih belum nongol ?” Pak Mardi urun suara.

“Lha itu dia si kasturi-nya.” Suara Pak Kandar membuat semua yang hadir menolehkan kepalanya. Tampak Kasturi datang beriringan bersama Kang Darno.

“Sini cepet Kas, berkatnya sudah menunggu dibagi.” Kata Jiyo.

“Mohon maaf Bapak-Bapak.” Kata Kasturi sambil langsung menuju pintu samping mengambil setumpuk daun pisang dan kertas bungkus.

“Pun, monggo dibuka Pak RT.” Pak Kandar mempersilakan Pak RT membuka acara.

“Terimakasih, selamat sore Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Assalamualaikumm Warrahmatullohi Wabarakatuh.”

“Waalikuumsalam warahmatullohi wabarokatuh.” sambut yang hadir bersamaan.

“Jadi sore ini kita berkumpul di gubug saya ini dengan maksud melakukan tumpengan, memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa atas berkatNYA untuk negara kita, dan mengirimkan doa buat para pahlawan dan pejuang yang telah gugur di masa pergerakan atau pun wafat sesudahnya. Kita mendoakan semoga bangsa kita senantiasa diberkati, kepada para pemimpin dilimpahkan berkat dan rahmat kesehatan,  dan kepada kita para warga negaranya senantiasa diberikan kelimpahan rejeki dan kedamaian saling rukun dalam bernegara.

“Amiiiinnnnnn.”

Selanjutnya Pak Kandar memimpin doa. Tampak Mbah Samto berkaca-kaca matanya mengenang masa perjuangannya dahulu.

Setelah itu, acara disambung dengan bedah tumpeng dan membagi berkat. Para yang hadir menerima rejeki dan nikmat dari Tuhan itu dengan penuh syukur.

“Nambah Kang Darno, ampun isin-isin. Itu masih ada lebih lauk.” Goda Pak Mardi kepada Kang Darno.

“Oke-oke, siapa takut …” Balas Kang Darno sambil beringsut hendak mengambil sayuran dan lauk dari tampah tumpeng.

Tampak sekali kerukunan di antara warga kampung dalam merayakan pesta ulang tahun kemerdekaan ke 65 negara Indonesia.

“Wah kelihatannya masakannya joss gandoss.” Puji Lik Promo

“He eh, top markotop banget urapnya. Bumbunya tercium aromanya harum.” Imbuh Pak Kandar.

“Ya, berarti kita harus berterimakasih kepada Ibu-Ibu yang sudah memasak buat kita di sini.” Kata Pak RT.

“Ibu-Ibu lingkungan RT kita memang sip markosip tenan deh.” Kalakar Kasturi disambut tawa para hadir.

Selesai bedah tumpeng, acara inti selesai.

Warga tidak langsung pulang. Mereka memanfaatkan waktu sambil menunggu saat buka puasa dengan ngobrol, membahas topik-topik yang sedang hangat.

“Perasaan koq perayaan Agustusan tahun ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya ya.” Mbah Samto membuka percakapan.

“Ya, kan berbarengan dengan bulan puasa Mbah. Jadinya kan mau bikin lomba pun juga bingung waktunya. Badminton dan volley yang biasanya malam hari, terbentur sama waktu taraweh.” Jawab Pak Mardi.

“Eh tapi RT kita mending lho, umbul-umbul dan gapuranya paling hot. Terus lagi karnaval anak-anak juga meriah, hampir semua anak ikut meramaikan.” Giliran Jiyo.

“Iyo, kowe kalau nggak salah dandan dadi wandu to ? Ledek Kasturi.

“Sudah, sudah to … malah jadi saling ejek to.” Mas Ben yang sedari tadi asyik diam memangku Atya, akhirnya terdengar suaranya.

“Iya, bagaimana pun saudara kita yang wandu itu, tetep harus kita hormati pilihannya, dan keberadaannya dalam masyarakat.” Bijak Pak RT.

“Setuju Pak RT. Lha wong bangsa kita sekarang ini sedang terpecah belah malahan, semua orang saling bertikai demi kepentingannya masing-masing. Banyak orang yang mengatasnamakan nasionalisme sibuk berkeliling dari daerah ke daerah cuma untuk menjelek-jelekkan bangsa sendiri kepada para saudara-saudara sebangsa setanah airnya. Bahkan dalam menyambut ulang tahun kemerdekaan saja, masih banyak yang tidak antusias, termasuk bekas pemimpin yang masih menolak menghadiri undangan upacara di Istana Negara, malah membikin upacara tandingan. Terus peristiwa insiden bendera terbalik di Manokwari juga diangkat menjadi topik sorotan di tivi. Padahal hal semacam itu kan bisa saja menimpa siapa saja, para pemuda paskibra itu kan memikul beban berat to ?” Mbah Samto bersemangat berpapar.

“Ya, bagaimanapun juga kita tetap harus menghormati sikap mereka yang tidak sama dengan kita dan kebanyakan rakyat to. Yang penting kita patut bersyukur bahwa sampai dengan detik ini, negara kita ini dijauhkan dari malapetaka dan perpecahan yang mengancam kedaulatan, terutama adalah bahwa kampung kita ini masih suci semua hatinya; saling menjunjung kebersamaan, cinta kepada bangsa dan saling menghormati perbedaan baik suku maupun kepercayaan. Kan itu semua berkah yang besar to ? Jadi biarlah mereka dengan pendiriannya, kita jangan sampai terpengaruh keyakinan kita yang dapat merusak suasana damai di lingkungan kita. Betul begitu ?” Lik Promo berkata bijak sekali.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara beduk diiringi lafadz adzan dari Langgar tanda waktu buka telah tiba.

Para warga menikmati teh hangat dan sekadar makanan kecil sebagai syarat sahnya buka. Kemudian saling bersalaman, dan pulang ke rumah masing-masing dengan berjuta rasa kebanggaan. Kebanggaan menjadi bagian dari komunitas lingkungan kecil yang rukun penuh asah asih dan asuh, dan bangga sebagai warga negara Indonesia.

Salam bentoelisan

Mas Ben

Tag:, , ,

8 Responses to “Tumpeng Agustusan”

  1. fatur says :

    dulu setiap 17an eyangku selalu cerita masa mudanya jaman perang, saiki wes ra ono sing critani, dadi kangen eyangku.

  2. Sriyono Semarang says :

    Pokokmen salam Merdeka sajalah…

  3. Extraordiharry says :

    Wah,,mas samto mungkin terharu sekaligus bersedih. Terharu karena dijaman kemerdekaan dahulu, Indonesia berhasil merdeka dari tangan penjajah. sekaligus bersedih karena pada jaman sekarang yang dikatakan Indonesia sudah ” MERDEKA” nyatanya belum mencapai kesejahteraan untuk semua orang di berbagai bidang… :(

    Thanks 4 share mas bentoelisan :D

  4. Extraordiharry says :

    Wah,,mas Samto pasti terharu dan bersedih. terharu karena dahulu bangsa Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, sekaligus bersedih karena bangsa indonesia yang mereka ini, nyatanya belum merdeka karena masih banyak para rakyat kurang sejahtera hidupnya sekarang ini… :(

    Thanks 4 share ya mas bentoelisan :D

  5. Cerita anak SMP says :

    Mantap sekali mas.. saya sangat setuju.. hmmm.. artikel yang sangat nJawani.. berpikir dengan hati, bertindak dengan nurani.. ^^

  6. nurhayadi says :

    NURHAYADI

    BESERTA STAFF KABINET ZIZZAHAZ BERSATU

    MENGUCAPKAN

    SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITHRI 1431 H

    TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM

  7. nurhayadi says :

    NURHAYADI

    BESERTA STAFF KABINET ZIZZAHAZ BERSATU

    MENGUCAPKAN

    SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITHRI 1431 H

    TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM.

    • Mas Ben says :

      @Mas Fatur : Podo Mas, aku yo wis rak duwe eyang. Lagi kroso, pas lebaran wingi sepi … sedulur dadi ora kumpul komplit :(

      @Mas Sriyono : Salam merdeka Mas :)

      @Mas Harry : Semoga negara kita segera menjadi baik makmur merata rakyatnya ya :)

      @Mas Joddie : Maturnuwun sanget pujiannya Mas :)

      @Mas Nurhayadi : Terimakasih Mas. Mohon maaf lahir batin dari Bentoelisan :)

      Salam bentoelisan

      Mas Ben

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.