Archive | Agustus 2010

Tumpeng Agustusan

Halo Bentoeliser,

Suasana pagi itu cerah berseri di kampung tempat Mas Ben tinggal. Jam baru menunjukkan pukul 6.30. Cericit burung menambah sejuk segarnya suasana.

Mas Ben tengah asyik mamandangi bendera yang gagah terkibar di tiang depan rumahnya, ketika Mbah Samto lewat dan menyapanya.

“Monggo Mas Ben.”

“Eh ya, monggo Mbah. Wah ndeting sekali panjenengan dengan seragam LVRI itu Mbah.”

Mbah Samto menghentikan sepedanya.

“Iyo Mas Ben, iki aku mau upacara pitulasan di Alun-Alun.” Suara Mbah Samto pelan tergetar, tatapannya menerawang teduh.

“Kemutan masa perjuangan ya Mbah ?”

“Iya Mas, waktu jaman perjuangan dulu aku masih umur belasan tahun, tapi juga sudah suka ikut perang. Jelek-jelek begini aku ini waktu itu sudah kedapuk jadi wakil komandan resimen lho.”

“Percoyo Mbah, ketahuan koq dari perbawanya.” Mas Ben menepuk bahu Mbah Samto.

Mereka tertawa bersama. “Wis ah Mas Ben, aku berangkat dulu ya.” pamit Mbah Samto.

“Nggih Mbah, nderekken. Oh ya nanti ke Pak RT nya bareng ya.” Mas Ben sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya kepada Mbah Samto yang sudah mengayuh sepedanya.

—-

Sore itu di beranda rumah Pak RT sudah tampak Pak Mardi, Jiyo, dan Lik Promo.

Lingkungan RT di mana Mas Ben tinggal, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal 17 Agustus terutama sejak Pak Kusno menjabat Ketua RT, selalu mengadakan tumpengan sekadar syukuran dan doa untuk negara dan pemimpinnya.

Pak Kusno, didukung swadaya sukarela dari warganya menjadikan acara tahunan ini sukses terlaksana. Para warga yang Ibu-Ibu berperan di dapur menyiapkan segala masakan dan logistiknya, dan yang pemuda seperti Kasturi dan Jiyo kebagian tugas laden membungkus dan membagi-bagi nasi tumpeng beserta lauk-pauknya. Memang tumpengan tahun ini berbeda. Karena bersamaan dengan bulan puasa, maka nasi tumpeng tidak disantap bersama, tapi dibekalkan pulang kepada yang hadir sebagai berkat.

Mbah Samto dan Mas Ben hadir beriringan sesuai janji mereka akan hadir berbarengan.

“Monggo-monggo Mbah Samto dan Mas Ben, monggo.” Pak RT mempersilakan keduanya.

“Wah, maaf telat.” Mas Ben berbasa-basi.

“Ah, ndak telat. Mulainya baru jam 16.00, masih setengah jam lagi mulai.” Balas Pak RT.

“Kan sudah diwakili gasiknya sama Jeng Arum dan Gus Atya tadi siang to.” Imbuh Lik Promo.

“Bapak … Bapak.” Suara kecil Atya melucur dari bibirnya.

Tampak dari pintu samping rumah Pak RT, Jeng Arum dan Atya di gendongannya.

“Maaf Pak RT, si kecil ini di belakang ngganggu ibu-ibu yang masak.” kata Jeng Arum berbasa-basi sambil menyerahkan Atya kepada Mas Ben.

Mas Ben menyambutnya, si Atya nampak girang dalam pangkuan bapaknya.

“Bocah bagus, aduh bakal pinter ya.” Si Jiyo gemas mencubit lengan montok Atya.

“Assalamualaikuum.”

“Waalaikuumsalam … eh Pak Kandar, monggo Pak … monggo moggo.” Pak RT bangkit menyalami Pak Kandar, sesepuh yang dipercaya memimpin acara dan doa.

Pak Kandar, menyalami satu-per satu yang hadir di situ.

“Belum telat kan ya, saya ?” Kata pak Kandar, setelah memposisikan diri di sebelah Pak RT.

“Belum Pak, masih menunggu Kang Darno dan Kasturi.” Sahut Lik Promo.

“Iyo, ini si Kasturi mana to. Juru laden berkat koq masih belum nongol ?” Pak Mardi urun suara.

“Lha itu dia si kasturi-nya.” Suara Pak Kandar membuat semua yang hadir menolehkan kepalanya. Tampak Kasturi datang beriringan bersama Kang Darno.

“Sini cepet Kas, berkatnya sudah menunggu dibagi.” Kata Jiyo.

“Mohon maaf Bapak-Bapak.” Kata Kasturi sambil langsung menuju pintu samping mengambil setumpuk daun pisang dan kertas bungkus.

“Pun, monggo dibuka Pak RT.” Pak Kandar mempersilakan Pak RT membuka acara.

“Terimakasih, selamat sore Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Assalamualaikumm Warrahmatullohi Wabarakatuh.”

“Waalikuumsalam warahmatullohi wabarokatuh.” sambut yang hadir bersamaan.

“Jadi sore ini kita berkumpul di gubug saya ini dengan maksud melakukan tumpengan, memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa atas berkatNYA untuk negara kita, dan mengirimkan doa buat para pahlawan dan pejuang yang telah gugur di masa pergerakan atau pun wafat sesudahnya. Kita mendoakan semoga bangsa kita senantiasa diberkati, kepada para pemimpin dilimpahkan berkat dan rahmat kesehatan,  dan kepada kita para warga negaranya senantiasa diberikan kelimpahan rejeki dan kedamaian saling rukun dalam bernegara.

“Amiiiinnnnnn.”

Selanjutnya Pak Kandar memimpin doa. Tampak Mbah Samto berkaca-kaca matanya mengenang masa perjuangannya dahulu.

Setelah itu, acara disambung dengan bedah tumpeng dan membagi berkat. Para yang hadir menerima rejeki dan nikmat dari Tuhan itu dengan penuh syukur.

“Nambah Kang Darno, ampun isin-isin. Itu masih ada lebih lauk.” Goda Pak Mardi kepada Kang Darno.

“Oke-oke, siapa takut …” Balas Kang Darno sambil beringsut hendak mengambil sayuran dan lauk dari tampah tumpeng.

Tampak sekali kerukunan di antara warga kampung dalam merayakan pesta ulang tahun kemerdekaan ke 65 negara Indonesia.

“Wah kelihatannya masakannya joss gandoss.” Puji Lik Promo

“He eh, top markotop banget urapnya. Bumbunya tercium aromanya harum.” Imbuh Pak Kandar.

“Ya, berarti kita harus berterimakasih kepada Ibu-Ibu yang sudah memasak buat kita di sini.” Kata Pak RT.

“Ibu-Ibu lingkungan RT kita memang sip markosip tenan deh.” Kalakar Kasturi disambut tawa para hadir.

Selesai bedah tumpeng, acara inti selesai.

Warga tidak langsung pulang. Mereka memanfaatkan waktu sambil menunggu saat buka puasa dengan ngobrol, membahas topik-topik yang sedang hangat.

“Perasaan koq perayaan Agustusan tahun ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya ya.” Mbah Samto membuka percakapan.

“Ya, kan berbarengan dengan bulan puasa Mbah. Jadinya kan mau bikin lomba pun juga bingung waktunya. Badminton dan volley yang biasanya malam hari, terbentur sama waktu taraweh.” Jawab Pak Mardi.

“Eh tapi RT kita mending lho, umbul-umbul dan gapuranya paling hot. Terus lagi karnaval anak-anak juga meriah, hampir semua anak ikut meramaikan.” Giliran Jiyo.

“Iyo, kowe kalau nggak salah dandan dadi wandu to ? Ledek Kasturi.

“Sudah, sudah to … malah jadi saling ejek to.” Mas Ben yang sedari tadi asyik diam memangku Atya, akhirnya terdengar suaranya.

“Iya, bagaimana pun saudara kita yang wandu itu, tetep harus kita hormati pilihannya, dan keberadaannya dalam masyarakat.” Bijak Pak RT.

“Setuju Pak RT. Lha wong bangsa kita sekarang ini sedang terpecah belah malahan, semua orang saling bertikai demi kepentingannya masing-masing. Banyak orang yang mengatasnamakan nasionalisme sibuk berkeliling dari daerah ke daerah cuma untuk menjelek-jelekkan bangsa sendiri kepada para saudara-saudara sebangsa setanah airnya. Bahkan dalam menyambut ulang tahun kemerdekaan saja, masih banyak yang tidak antusias, termasuk bekas pemimpin yang masih menolak menghadiri undangan upacara di Istana Negara, malah membikin upacara tandingan. Terus peristiwa insiden bendera terbalik di Manokwari juga diangkat menjadi topik sorotan di tivi. Padahal hal semacam itu kan bisa saja menimpa siapa saja, para pemuda paskibra itu kan memikul beban berat to ?” Mbah Samto bersemangat berpapar.

“Ya, bagaimanapun juga kita tetap harus menghormati sikap mereka yang tidak sama dengan kita dan kebanyakan rakyat to. Yang penting kita patut bersyukur bahwa sampai dengan detik ini, negara kita ini dijauhkan dari malapetaka dan perpecahan yang mengancam kedaulatan, terutama adalah bahwa kampung kita ini masih suci semua hatinya; saling menjunjung kebersamaan, cinta kepada bangsa dan saling menghormati perbedaan baik suku maupun kepercayaan. Kan itu semua berkah yang besar to ? Jadi biarlah mereka dengan pendiriannya, kita jangan sampai terpengaruh keyakinan kita yang dapat merusak suasana damai di lingkungan kita. Betul begitu ?” Lik Promo berkata bijak sekali.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara beduk diiringi lafadz adzan dari Langgar tanda waktu buka telah tiba.

Para warga menikmati teh hangat dan sekadar makanan kecil sebagai syarat sahnya buka. Kemudian saling bersalaman, dan pulang ke rumah masing-masing dengan berjuta rasa kebanggaan. Kebanggaan menjadi bagian dari komunitas lingkungan kecil yang rukun penuh asah asih dan asuh, dan bangga sebagai warga negara Indonesia.

Salam bentoelisan

Mas Ben

KICK ANDY [Menabur Kasih Menuai Rekor MURI]

Halo Bentoelisers,

Pada hari Rabu tanggal 4 Agustus 2010, blogger berkesempatan hadir pada tapping Kick Andy di Grand Studio Metrotv. Kick Andy yang rencananya akan ditayangkan [hanya di Metrotv] pada hari Jumat tanggal 20 Agustus 2010 dan re-run pada hari Minggu tanggal 22 Agustus 2010 mendatang, dalam episode kali ini mengangkat tema TRIBUTE TO PEPENG [Pepeng di Mata Kartunis].

Para blogger dari komunitas Bengawan, Bekasi Blogger, Depok Blogger + Anging Mammiri, bersama dengan ratusan audience lainnya termasuk puluhan gambarist sangat terhibur ternikmatkan oleh jenaka dan interaktifnya pengisi acara sela antar segmen. Para audience yang kebanyakan anak muda dari perwakilan perguruan tinggi di Jakarta, Serang dan Jogja tergelak-gelak riuh rendah menyaksikan kawan-kawan mereka sukses “diplonco” oleh pemandu, mulai dari perintah menyanyi hingga berjoget.

Keriuhan semarak suasana dalam studio sontak hening, hanya desisan dari bibir hadirin laksana suara labah-labah, tatkala beberapa orang mengusung ranjang beroda ke atas panggung, dengan tubuh seorang multitalent Pepeng tergolek di atasnya. Sapa dan senyumnya mengembang segar kepada hadirin. Takjub, hanya itu yang terlukis pada raut wajah para yang hadir di studio. Seseorang yang terdiagnosis Multiple Sclerosis yang melemahkan saraf motorik, sensorik, dan otonom hingga menyebabkan kelumpuhannya, tampil dengan demikian segar dan riang malam itu.

Jaya Suprana mengawali acara dengan jentikan jemarinya yang lincah menari-nari membelai tuts piano, menghadirkan suasana syahdu melalui nada-nada yang dipersembahkannya secara khusus untuk Pepeng.

Selanjutnya acara mengalir renyah jauh dari sedu-sedan haru sebagaimana dugaan. Acara berubah menjadi sajian penuh gelak tawa berkat kelincahan Andy F Noya dan Jaya Suprana berbalas sarkastis mesra. Sementara Pepeng yang menjadi sentral acara hanya bisa menahan tawa di pembaringannya menyaksikan polah kedua pria dewasa saling melempar ejekan dengan kekocakannya masing-masing.

Dalam sela-sela “pertarungan” Andy Noya dan Jaya Suprana, Pepeng yang memiliki nama lengkap Ferrasta Soebardi mengisahkan tentang ihwal penyakit yang dideritanya. Pria kelahiran Sumenep 56 tahun lalu itu memaparkan bagaimana lara yang menyerang sumsum tulang belakang dan melumpuhkannya sejak tahun 2005 itu.

Ketika ditanyakan bagaimana sakitnya, dijawabnya sakit sekali.

Lalu bagaiamana dengan sakit yang luar biasa itu, Pepeng bisa sedemikian cerianya dan kuat. Dijawab karena perhatian tulus penuh kasih dari keluarganya dan banyak orang itulah sumber kekuatannya. Hingga menjadikan slogan pantang mati sebelum ajal, sangat termeterai kuat dalam jiwanya. Kelumpuhan raga tidak mampu melumpuhkan jiwanya dan mematikan asanya. Dalam lemah, Pepeng tetap berkarya dengan hobbynya menggambar kartun. Dia sangat mencintai kartun, hingga bercita-cita membuat coffee shop yang dindingnya akan dihiasi kartun karyanya. Ide itulah yang akhirnya mengilhaminya untuk membuat 15 kartun wajahnya. Bermodal social media facebook, Pepeng berkomunikasi dengan kawan-kawan [kartunis] mayanya, menyampaikan keinginannya itu. Rupanya gayung bersambut. Diprakarsai oleh Sarkeh Yeksa Chandra seorang jurnalis yang juga kartunis, akhirnya obrolan di facebook berkembang dan meluas direspon positif oleh para kartunis yang lebih nyaman disapa sebagai kaum gambarist itu. Dari keinginan dibuatkan 15 wajah dirinya yang dalam sebutannya dipletat-pletot-kan itu, berkembang menjadi 250 kartun wajahnya, dan bahwa hingga kini sudah mendekati angka 800.

Hal di luar dugaan ini tentu saja mengagetkan Pepeng. Namun dasar Pepeng, dengan licah lidahnya dia mengatakan bahwa dia semakin yakin coffee shopnya akan semarak, karena dengan 800 kartun wajahnya berarti dia akan bisa menggilir kartun—kartun tersebut setiap minggunya. Kelakarnya bersambut tepuk tangan meriah para audience.

Hal lain yang menarik dalam Kick Andy episode Pepeng ini adalah, hadirnya 50 Gambarist termasuk gambarist senior Dwi Koen, yang melakukan gambar live kartun Pepeng. Juga sisi lain dari Jaya Suprana selain sebagai pemilik pabrik jamu Jago, pemilik museum rekor Indonesia, Bapak Kelirumologi dan Humorologi adalah bahwa ternyata juga sorang kartunis yang karya-karyanya sudah laku dan mendapat tempat di hati para peminatnya ketika masa mudanya bermukim di Jerman.

Dalam kesempatan itu Jaya Suprana membukakan pemahaman tentang perbedaan kartun dan karikatur. Bila karikatur adalah gambar satir diri seseorang yang dibuat sedemikian rupa hingga menjadi lucu, sedangkan kartun adalah gambar lucu yang bercerita.

Menjelang akhir acara, ada kejutan lain yaitu diserahkannya piagam MURI untuk acara Kick Andy dan kepada pepeng dari Museum Rekor Indonesia.

Kick Andy dinilai telah menjadi baru satu-satunya program acara yang selalu menghadirkan sisi kemanusiaan dan inspiratif di setiap episodenya. Sementara untuk Pepeng, penghargaan MURI diterimakan kepadanya karena dia baru satu-satunya orang yang mampu menghadirkan dan menggalang 250 orang gambarist untuk membuat kartun dirinya. Kartun-kartun itu secara teratur diupload ke akun facebook-nya.

Pertunjukan hasil karya live cartoon para gambarist dan penyerahan koleksi kartun cover album lama Pepeng bersama Krisna Abu, Bang Nana, Mas Taufik plus Iwan Fales berjudul Canda Dalam Ronda yang rilis tahun 1979 dari Dwi Koen kepada Pepeng, mengakhiri acara malam itu.

Kesimpulan dari hasil kartun para gambarist [yang ternyata hampir semuanya baru bertemu secara langsung dengan Pepeng saat acara tapping malam itu], sosok Pepeng di mata kartunis adalah seorang hero. Hero sesungguhnya, walau dalam tubuh yang lemah namun semangatnya sebagaimana seekor singa yang kelaparan seperti kesaksian kartunis Mice.

Oh ya, Kick Andy episode Pepeng ini juga diramaikan oleh kehadiran tamu istimewa Berry Natalegawa yang kakak dari Marty Natalegawa, menlu kita, dan juga … [ah, saya lupa namanya]. Beliau berdua ini menggagas dan melakukan aksi sosial atas nama Unicef. Berry Natalegawa melakukan jalan kaki sepanjang +/- 700 km dari London ke Edinburgh untuk mengumpulkan dana bagi anak-anak UNICEF di Indonesia. Beliau juga sedang merencanakan aksi amal serupa di Indonesia yang akan didukung oleh Yayasan Kick Andy [ssstttt, ada liputannya juga di republika hari ini lho] Lain halnya dengan Bapak yang satunya, diilhami oleh perjalanan bermotor Ewan McGregor, beliau akan melakukan perjalanan darat menggunakan motor berdua bersama puteranya mulai wilayah timur Indonesia dalam perjalanan yang disebutnya Ring Of Fire Adventures.

Jadi jangan sampai ketinggalan, saksikan Kick Andy episode Tribute To Pepeng pada hari Jumat tanggal 20 Agustus 2010 atau re-runnya pada hari Minggu tanggal 22 Agustus 2010. Sekalian menjawab rasa penasaran para Bentoeliser tentang siapa adventurer ring of fire itu ya ya ya ya ya … :)

Salam bentoelisan

Mas Ben

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.