Archive | Juni 2010

Kekagumanku

Halo Bentoelisers,

… dari dalam buih-buih putih mendidih muncullah wajah, lalu sosok seorang gadis berkuncup-kuncup harapan; basah kuyup, rambut panjang sebagian terurai tak keruan dari ikatan; tertawa bahagia karena baru saja ter-kapyuk serombongan riak-riak nakal. Nyaris gadis itu jatuh tak mampu menahan dekapan kurang ajar ombak-ombak.

Si Duyung, begitu panggilan sayang orang-orang kampung untuk si dara itu. Dan memang, bila perahu pulang penuh bakul ikan-ikan perak yang mengilau di cahaya matahari pagi, dan orang-orang di darat melihat si perawan remaja itu gesit ikut mengayuh dalam kainnya yang serba basah, bahkan sering pucuk kain setengah lepas [dan nun kala itu, dada sehat masih dibiarkan merayakan kemerdekaan], kesan putri duyung harus diakui sungguh ada.

Gugusan kata-kata “nakal” namun kental makna sastrawi di atas mengalir lembut dari ruang batin seorang YB Mangunwijaya, yang terangkai apik mengawali novel triloginya – Rara Mendut.

Mas Ben menyelipkan karton penyekat penanda lembaran terakhir terbaca olehnya. Diletakkannya buku setebal 799 halaman yang baru dibacanya beberapa lembar itu di sebelahnya. Kedua tangannya bertangkup ditarik ke atas seiring kedua kakinya terdorong.

“Istirahat mbaca Mas ?” Tanya Jeng Arum, istrinya yang tiba-tiba sudah di sampingnya menyuguhkan teh hangat manis kesukaannya.

“Iya, sedang merenungkan makna kata-katanya. Berat ternyata.”

“Oalah Mas, baru selesai se-bab to ?”

Jeng Arum meraih buku itu dan melanjutkan pembacaannya yang sudah lebih setengahnya.

“Mau kemana Mas ? Wong ditemani, kok malah ninggal.” Kata Jeng Arum, melihat suaminya bangkit menuju kamar.

“Mau menuliskan kisah Romo Mangun, Jeng. Mumpung saya lagi mood dan terinspirasi tentang beliau.” Jawab Mas Ben menyibak kain gordin kamar, sambil sudah menjinjing notebooknya.

Jeng Arum dilihatnya sudah asyik dengan kegiatan bacanya.

Sudah sejak lama Mas Ben mengagumi Romo Mangun. Banyak hal dan talenta menyertai perjalanan hidup dan karya pelayanan Beliau yang menjadikan Mas Ben terobsesi untuk dapat setidaknya tertular sedikit dari kelebihan Romo Mangun.

Romo Mangun lahir di Ambarawa – Jawa Tengah pada tanggal 6 Mei 1929 dengan nama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dari orang tuanya Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.

Mengawali pendidikannya di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang (1936 – 1943). Lalu berturut-turut di STM Jetis, Yogyakarta (1943 – 1947), dan SMU-B Santo Albertus, Malang (1948 – 1951). Pendidikan seminari pada Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta, yang dilanjutkan ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang.

Karir karya pelayanan Beliau dimulai pada tahun 1959. Beliau ditahbiskan sebagai Imam oleh Uskup A Soegijapranata SJ, yang juga mentor beliau. Romo Mangun pertama kali bertemu Romo A Soegijapranata ketika menuntut ilmu di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru.

Namun demikian, cita-cita sejak lama untuk menjadi insinyur tidaklah hilang. Itulah sebabnya, setelah ditahbiskan, atas amanat dari gereja, Beliau melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur ITB, pada tahun 1959. Dari ITB, melanjutkan studi di universitas Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada 1960, yang diselesaikannya pada tahun 1966. Pendidikan arsitektur inilah yang kemudian memberinya landasan yang kuat untuk menghasilkan beragam karya arsitektural yang justru menghadirkan nuansa baru dalam arsitektur Indonesia. Tidak heran pula bila Romo Mangun kemudian dikenal sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Sebut saja kompleks peziarahan Sendangsono, Gedung Keuskupan Agung Semarang, Bentara Budaya Jakarta, termasuk beberapa gereja. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pun menganugerahkan kepada Beliau IAI Awards 1991 dan 1993 sebagai penghargaan atas beberapa karyanya.

Adapun karya arsitektural di Kali Code menjadi menjadi salah satu “monumen” Romo Mangun. Beliau membangun kawasan pemukiman warga pinggiran itu tidak sebatas pembangunan fisik, tapi sampai pada fase memanusiakan manusia. “Penataan lebih pada segi sosio-politis dan pengelolaan kemasyarakatan,” demikian tutur Romo Mangun, yang dikenal juga sebagai bapak dari masyarakat “Girli” (pinggir kali) mengenai “monumen”-nya tersebut. Penataan lingkungan di Kali Code itu pun membuahkan The Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992. Tiga tahun kemudian, karya yang sama ini membuahkan penghargaan dari Stockholm, Swedia, The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award untuk kategori arsitektur demi rakyat yang tak diperhatikan.

Aga Khan Award yang merupakan penghargaan tertinggi di bidang Arsitektur diraih untuk konsep penataan lingkungan di Kali Code, Yogyakarta. Pendidikan di bidang Humanistic Studies yang diselesaikan Romo Mangun pada tahun 1978 di Colorado nampaknya makin membuat Beliau menjadi seorang Humanis. Konsep penataan lingkungan ini merupakan proyek peremajaan lingkungan kumuh yang sangat manusiawi. Romo Mangun tidak hanya membuat konsep tersebut. “Rumah Mangun” juga didirikan di lingkungan tersebut, di samping kediaman para pemulung sampah, tukang becak, anak-anak penyemir sepatu dan “wong cilik” lainnya. Rumah panggung yang berdinding gedhek ini tidak pernah sepi dari pengunjung.

Romo Mangun memang mengalami berkat berlebih dari Tuhan, beliau terlahir sebagai seorang yang multi-talent; rohaniwan, arsitek, budayawan, sastrawan dan pendidik yang humanis sekaligus.

Sikap kritis dalam berbudaya, bukan hanya melulu bersumber pada budaya tradisional dan budaya masa lalu. Tetapi juga budaya kontemporer masa kini. Dalam hal ini, Romo Mangun memfokuskan pada sesuatu yang juga Beliau kenal dengan baik, budaya teknologi modern. Walau seorang insinyur, Romo Mangun tidak terhanyut dalam pemikiran dan spesifikasi teknis dari ketrampilannya tersebut, tetapi mencoba untuk merefleksikannya sebagai bagian dari gema budaya manusia. Tulisan-tulisan Beliau mengajak untuk melihat bagaimana budaya masa kini bisa menjadi hambatan dalam memanusiakan manusia, dan mengajak kita untuk bersikap kritis, bukan hanya sebagai penerima budaya teknik secara pasif, tetapi bersikap sebagai aktor dalam perjalanan budaya masa depan, seorang aktor dalam membentuk budaya yang semakin menghargai kemanusiaan.

Romo Mangun dikenal sangat dekat dengan semua golongan agama. Perbedaan agama bagi Beliau bukan suatu persoalan yang besar. “Bagi saya yang nomor satu bukan agama, melainkan iman dan takwa. Banyak orang yang beragama tapi tidak beriman,” ungkap Romo Mangun dalam berbagai kesempatan. Sikap toleransi ini dibuktikan nyata dengan pembelaan beliau Pada tahun 1986, ketika mendampingi warga Kedungombo yang kala itu memperjuangkan lahannya dari pembangunan waduk. Pembelaannya kepada nasib penduduk Kedungombo menyebabkan Beliau dituduh sedang melakukan kegiatan Kristenisasi. Meski demikian tidak menyurutkan semangat kemanusiaan Beliau. Hingga perjuangan keras itu berbuah manis ketika pada tanggal 5 Juli 1994, akhirnya Mahkamah Agung RI mengabulkan tuntutan kasasi 34 warga Kedungombo. Malahan warga memperoleh ganti rugi yang nilainya lebih besar daripada tuntutan semula.

Dalam bidang kesusastraan, buah tangannya tidak dimungkiri pula. Sebut saja “Burung-Burung Manyar” (1981) yang memperoleh penghargaan dari Ratu Thailand Sirikit lewat ajang The South East Asia Write Award 1983. Beliau juga menjadi orang Indonesia kedua setelah Goenawan Mohammad yang mendapat penghargaan The Professor Teeuw Award di Leiden, Belanda, untuk bidang susastra dan kepedulian terhadap masyarakat.

Dalam dunia sastra, novel-novel karya Romo Mangun banyak memberikan kepada pembacanya kesempatan untuk menikmati kompleksitas persoalan dan seni menuliskannya. Bukan hanya politik sebagai muatan sastra yang penting, tetapi juga sejarah, relijiusitas, ketegangan.

Melalui novel sebagai corong refleksi pemikiran dan perasaan, Romo Mangun mengajak semua orang untuk menaruh keprihatinan mengenai wujud masyarakat Indonesia; hubungan antar sesama manusia, hubungan dengan masyarakat dan bagaimana hidup yang bertolak dan berdasar pada nilai.

Karya tulis yang dihasilkan Romo Mangun bukanlah karya tulis sembarangan. Semua dihadirkan dengan alam pikir yang kompleks. Hal ini terwujud pula dari kalimatnya yang panjang-panjang, yang tak jarang sulit dipahami. Namun, Beliau berkata, “Tulisan saya realitas. Realitas itu kompleks, tidak sederhana, tidak satu dimensi, canggih, rumit, dan banyak segi. Kalimat mestinya begitu juga.

Tidak hanya dalam bidang arsitektur dan penulisan, Romo Mangun pun memiliki keprihatinan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Beliau mewujudkannya dengan mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Catherine Mills, yang menulis tesis mengenai Romo Mangun, mengutip perkataan Romo, “When I die, let me die as a primary school teacher (kalau saya meninggal, biarkan saya meninggal sebagai guru sekolah dasar).” Bagi Romo Mangun, pendidikan dasar jauh lebih penting daripada pendidikan tinggi. Itulah sebabnya, Beliau pun pernah berujar, “Biarlah pendidikan tinggi berengsek dan awut-awutan. Namun, kita tidak boleh menelantarkan pendidikan dasar.”

Tentang pendidikan dasar kepada anak-anak soal bagaimana mengamalkan rasa syukur, diteladankan dengan nyata oleh Beliau, ketika bersama anak-anak didiknya sedang merayakan ulang tahun salah seorang anak, Romo melihat bahwa anak-anak kecil tersebut tidak sanggup menghabiskan makanannya. Akhirnya, Romo mengumpulkan sisa makanan tersebut menjadi satu dan memakannya agar tidak ada yang terbuang.

Hingga bahwa tidak ada pengembaraan yang tidak bertemu pada akhirnya.

Pada tanggal 10 Februari 1999, Romo Mangun menghadiri Simposiom “Meningkatkan Buku Dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia”, yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia, di Hotel Le Meridien, Jakarta. Beliau juga berperan sebagai pembicara pada simposium tersebut, namun belum lama, badannya limbung, nyaris jatuh. Budayawan Mohamad Sobary langsung membaringkannya di lantai Ruang Puri. Dan tepat pukul 13:55 WIB, Romo Mangun dinyatakan meninggal karena serangan jantung.

Pemakaman Beliau dihadiri oleh ribuan pelayat. Hal ini menunjukkan betapa Romo Mangun merupakan pribadi yang sangat dikagumi sekaligus dihormati masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan rohaniawan dan penganut Katolik atau masyarakat Yogyakarta, berbagai lapisan masyarakat dan agama turut menghadiri.

Ya, Sang Pengembara bersahaja itu kini sudah berpulang ke Bapa-nya. Namun karya kasih dan karya nyata sosio-humanisnya akan selalu dikenang.

Tongkat estafet telah digulirkan, tinggal adakah kerelaan hati untuk melanjutkan karya kasih yang diteladankannya ?

Mas Ben menutup note-booknya. Diraihnya teh hangat manis yang sudah mulai dingin buatan isterinya, dan direguknya dengan lembut.

Salam bentoelisan

Mas Ben

[Disarikan dari : http://www.christianpost.co.id, http://www.sabda.org, http://www.socineer.com]

Solo Antara Kultur dan Modernisasi Dalam Gelaran Internasional [Kisah Perjalanan 2 hari Mas Ben di Solo]

Halo Bentoeliser

Solo atau dulu dikenal dengan nama Surakarta, sebuah kota karesidenan yang masih kental nilai budaya keningratannya, mulai menggeliat menunjukkan kiprahnya di tataran internasional.

Solo [Surakarta] dengan demografi melingkupi wilayah Kartasura, Solo Baru, Palur, Colomadu, Baki, Ngemplak; didukung oleh enam kabupaten di sekitarnya : Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri semakin eksis menjelma sebagai sebuah wilayah terpadu Soloraya.

Wilayah pecahan kejayaan Mataram ini dalam perkembangannya berlaju seiring dinamika kemajuan teknologi dan modernisasi, berusaha mempertahankan kultur adiluhungnya. Kuliner, tatapergaulan dan eknisitas yang terpelihara baik tetap membudaya tercermin dari perilaku keseharian warganya.

Kebersahajaan jawa sebagaimana diwariskan oleh pendahulunya, begitu kental terukir di setiap sisi kotanya. Hidup yang tidak ngoyo dan senantiasa andap asor, terlepas dari sedikit masalah sosialnya, yang dengan ketulusan timur diakui oleh walikota Solo, Bp. Joko Widodo.

Semua hal di atas terurai dalam acara SOlO [Sharing Online lan Ofline] yang digagas, dibidani dan dikawal dengan apik oleh para anak muda komunitas blogger Bengawan.

Acara yang dipusatkan di Graha Solo Raya Jl. Slamet Riyadi, dihadiri oleh para blogger wakil dari beberapa daerah di Indonesia wilayah barat, tengah dan timur ini sukses digelar selama 2 hari pada tanggal 5 dan 6 Juni 2010.

Sesuai dengan namanya sharing online dan ofline, keseluruhan agenda acara SOlO sengaja dirancang sebagai mediasi dan sarana komunikasi positif antara para blogger yang diharapkan menjadi jembatan tersosialisasikannya kota Solo dan tentu saja program-program sukses pemerintah kotanya dalam mengelola rumah tangganya.

Sejarah asal nama Solo, dan segala prestasi kota Solo disampaikan oleh Kadiskominfo kota Solo. Salah satunya adalah keberhasilan kota Solo dalam mengelola PKL, yang diklaim sebagai yang pertama dan satu-satunya kota di Indonesia berhasil merelokasi PKL dengan pendekatan humanis, yang oleh Ibu Kadis dikatakan sebagai kegiatan yang mengwongkan wong atau memanusiakan orang.

Dalam program prioritasnya, walikota menyusun suatu konsep yang komprehensif untuk menata PKL dimulai dengan merevitalisasi Kantor Pengelolaan Pedagang Kaki Lima [PPKL] sebagai leading agency dalam pelaksanaannya.

Kebijakan utama pengelolaan PKL di kota Solo meliputi pembinaan, penataan, dan penertiban. Pembinaan mengasumsikan bahwa bisnis dan karakter PKL perlu dibangun dan dikembangkan dengan memberi mereka bimbingan dan penyuluhan, termasuk informasi tentang peraturan dan tanggung jawab PKL dalam memelihara ketertiban di kota Solo. Istilah penataan berarti mengelola PKL secara fisik agar mereka lebih rapih teratur. Selain itu ada kebijakan penertiban yang dilakukan pemerintah dalam upaya “memaksa” PKL untuk pindah atau kadang kala merelokasi mereka ke tempat baru. Kebijakan yang dibuat di kantor PPKL sebagian besar disusun secara persuasif dengan melibatkan kelompok-kelompok PKL sendiri. Sebagai hasilnya, keramahan kota Solo terhadap PKL bisa ditunjukkan secara fisik [ruang], secara sosial ekonomi, secara aturan, maupun secara kesempatan.

Pengalaman kota Solo menunjukkan bahwa kebijakan perkotaan yang ramah PKL harus diawali dengan adanya keberpihakan pada nasib rakyat kecil dan pengakuan bahwa PKL adalah nafas dari kehidupan perkotaan yang tidak bisa dihilangkan. Oleh karenanya berbeda dengan kota-kota lain yang bermasalah dengan PKL, kota Solo berhasil merelokasi PKL dengan damai. Untuk memanusiakan PKL, proses relokasi dilakukan dengan cuma-cuma. Para PKL diberikan kios atau lapak gratis termasuk surat ijin usaha sudah difasilitasi oleh pemerintah kota Solo. Tidak selesai sampai di situ, pemerintah kota Solo pun telah memikirkan dukungan fasilitas publik yang memadai seperti jalur pejalan kaki, tempat parkir, penerangan jalan, air bersih, saluran pembuangan dan termasuk juga dibukanya akses jalur menuju lokasi baru dan rambu-rambu yang menunjukkan lokasi baru para PKL.

Semua upaya pemerintah kota Solo berimbas positif terhadap peningkatan penghasilan para pelaku PKL, dari yang sebelumnya hanya berkisar Rp. 400.000,00 kini meningkat menjadi Rp. 800.000,00 – 1.200.000,00.

Helatan SOlO semakin menggugah para blogger yang memenuhi aula Graha Solo Raya, ketika acara bergulir ke sharing kesaksian para blogger yang telah berhasil memberikan kontribusi baik dan terbukakannya peluang usaha berkat kegiatan blog.

Misalnya Mas Bachtiar yang menceritakan bagaimana gerombolan Bundaran Hotel Indonesia [BHI] yang bermula dari kongkow-kongkow kawan-kawan yang sedang berusaha mencari kerja di Jakarta, pada akhirnya berkembang menjadi sebuah kelompok charity yang berhasil membantu pendidikan para anak tidak mampu di Cilacap dengan program pinjam asuh kambing, dan juga gerakan seribu buku yang pada realisasinya jauh melebihi target dengan berhasil mengumpulkan 3.200 buku layak baca. Selain itu sebuah kumpulan yang disebut gerombolan oleh Mas Bachtiar juga telah menjadi sarana informasi kerja dan peluang kerja baru bagi membernya, termasuk penyediaan rumah singgah [kost] untuk kawan atau saudara yang sedang berupaya mencari pekerjaan.

Kesaksian lain dari Mas Ben [Bunyamin] dengan usaha grafikanya yang sudah menjadikannya sebagai seorang wirausahawan melalui blognya.

Juga kisah perintisan Rumah Batik Putra Laweyan.

Tidak kalah membahananya, kesaksian Ibu FE Sujanti, Ketua Jaringan Perempuan Usaha Kecil (Jarpuk) Kota Solo. Ibu Sujanti memaparkan harapannya untuk memajukan para wanita sekaligus aktualisasi bahwa wanita pun juga mampu berbuat besar. Termasuk harapannya untuk standarisasi usaha dan produk. Dengan adanya standarisasi pada sisi kualitas produk pastilah akan berpengaruh bagi pertumbuhan kuliner di kota Solo. Selain itu produk kuliner dari UKM tersebut bisa berkembang masuk ke ritel-ritel yang besar. Masih banyak pelaku UKM kuliner di Solo yang belum menerapkan standardisasi produknya. Ini terlihat dari 180-an UKM kuliner binaan Jarpuk, ternyata baru 20 persen saja yang menerapkan standar SP (Sertifikat Penyuluhan) atau PIRT (Produksi Industri Rumah Tangga).

Menjelang tengah hari, ada kejutan besar buat para blogger dengan hadirnya Bapak Joko Widodo walikota Solo. Kedatangan beliau cukup membuat Mas Gunawan sang moderator menjadi kelabakan mengingat terbatasnya waktu dan di luar rencana. Akhirnya Mas Gunawan “mendaulat” Pak Wali untuk memberikan sambutan beberapa menit saja.

Dengan kesempatan terbatas yang dibatasi oleh Mas Gunawan, Pak Joko Widodo memaparkan tentang kota Solo dan obsesi beliau untuk menjadikan Solo sebagai kota yang di kenal di manca negara, termasuk kegalauannya saat membaca sebuah terbitan majalah yang memberikan “warning” agar berhati-hati bila berkunjung di pasar “X” yang merupakan trade mark kota Solo, karena copetnya banyak sekali.

Kehadiran beliau dengan gesture dan tutur kata yang santun, menggairahkan para blogger yang sebelumnya sudah lemas dan kuyu tanda sudah melewati jam makan siang. Para blogger berebutan untuk mengajukan pertanyaan kepada Pak Wali. Akibatnya waktu yang disediakan hanya beberapa menit akhirnya molor menjadi lebih dari setengah jam, ketika Pak Jokowi atas dasar pertanyaan yang ada, menjelaskan program-program pemerintah kota Solo untuk mempromosikannya ke mancanegara yang sudah teragendakan sepanjang tahun 2010, antara lain : Solo Menari, Festival Kuliner, Solo Batik Fashion, The Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development [APMCHUD] yang rencananya akan dihadiri oleh para meneteri dari 68 negara di Asia Pacific, Solo Batik Carnival, Solo International Ethnic Music [SIEM], Festival Keraton Sedunia, Solo International Performing Art [SIPA], dan Solo Keroncong Festival. Semuanya akan digelar selama tahun 2010 antara bulan Juni – September.

Pak Jokowi memungkasi kehadirannya dengan mengimbau agar para blogger mendukung program pemerintah kota Solo dengan kreasi kata dan gambar di blognya masing-masing.

Dan Pak Jokowi pun meninggalkan ruangan dengan iringan tempik sorak membahana.

Selepas ishoma, materi lanjutan hari pertama SOlO diisi oleh Bapak Teddy Bara Iskandar – National Sales Manager XL, dan Area Manager XL wilayah Solo. Beliau memaparkan program-program niaga XL dan segala dukungannya. Tidak lupa bagi-bagi hadiah dadakan untuk para blogger yang berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar XL. Di akhir acara hari pertama SOlO diinformasikan tentang lomba blog dan atau foto tentang Solo atau Internet, berhadiah blackberry untuk 2 karya terbaik.

Malam harinya, di Wisma Seni tempat beristirahat para blogger, para blogger saling bertukar informasi dan kesan-kesan mereka tentang SOlO dan juga even temu blogger lain yang pernah mereka ikuti, termasuk saran membangun dan harapan di kegiatan sejenis ke depannya.

Dalam suasana penuh kekeluargaan itu disampaikan pula rencana dan koordinasi kegiatan untuk keesokan harinya, yaitu susur bengawan, kunjungan ke kampung batik Laweyan, Kunjungan ke sentra kerajinan keris, wayang dan gamelan dan juga kunjungan ke sentra kerajinan tembaga di Cepogo. Namun karena animo peserta yang lebih banyak untuk susur bengawan, dan kunjungan ke Laweyan, maka acara di Cepogo dan kampung keris, gamelan dan wayang ditiadakan.

Mas Ben yang memilih rombongan ke Laweyan, bisa menyaksikan antusiasme peserta blogger lainnya sejak perjalan hingga di Laweyan. Klak-klik-klek membidik objek-objek bertema Solo yang akan mereka ikut sertakan dalam lomba blog dan atau foto berhadiah blackbery.

Acara di Laweyan dimulai di rumah Batik Putra Laweyan, setelah sedikit pengarahan, para blogger pun beriang-ria memecah kelompok mengikuti para pemandu yang ditunjuk. Di sana para blogger bisa leluasa menyaksikan dan mengagumi keelokan kreasi batik Solo yang halus dan melegenda, termasuk praktek membatik. Pemandangan menarik lainnya adalah berpadunya masa lalu dan kini yang termanifestasikan melalui arsitektur bangunan di perkampungan Laweyan. Banyak bangunan yang sudah berusia ratusan tahun masih berdiri tegak dan terawat di antara bangunan-bangunan moderen, berdampingan harmonis menghasilkan nuansa dramatic romantic.

Aroma tradisional kental menguasai atmosfer gang-gang kecil rapih, ditingkah aktivitas penarik becak moda angkutan rakyat yang tidak lekang digerus modernisasi, dan juga warung jajan angkringan yang manjadi ikon kota Solo.

Selepas sholat Dzuhur, para blogger melanjutkan perjalanan hari itu menuju Taman Balekambang. Di sana sudah menanti grup musik keroncong yang siap menghibur kalbu memanjakan rasa. Rencananya akan turut berpartisipasi adalah cucu Pak Gesang, sang maestro keroncong kita yang belum lama berpulang ke haribaan Sang Khaliq.

Sampai di sini, Mas Ben tidak bisa menemani kawan-kawan blogger menuntaskan rangkaian acara SOlO, dikarenakan sudah harus menuju kota Salatiga untuk selanjutnya kembali ke kota Tangerang, tempat ia tinggal dan berkarya.

Akhirnya, 2 hari di Solo menyisakan kesan indah persaudaraan para blogger yang hadir, melahirkan kerinduan untuk kembali lagi mereguk keramahan dan eksotikanya.

Sampai jumpa lagi para sahabat blogger-ku di ajang temu blogger selanjutnya di kota-kota lain.

Salam bentoelisan

Mas Ben

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.