Ada Pelangi Di Matamu

Halo Bentoelisers,

Tidak berbeda dengan kebanyakan para pelaku social media yang lain, ketika hari Minggu pagi tanggal 18 Desember 2011 Mas Ben terjaga, maka hal pertama yang dilakukannya ketika terjaga dan mendapati kesadarannya kembali adalah meraih handphone semata wayangnya, guna cek n ricek status facebooknya.

Namun berbeda dengan hari biasanya, pagi itu Mas Ben dipaksa untuk terpana pada sebuah status  dari seseorang yang sangat berarti dikenal olehnya yang tepat berada pada urutan teratas status para kawannya di halaman “beranda” FB, begini bunyinya [dikutip sebagaimana adanya] :

mlm ini aku tdk bisa nyenyak. setiap terbangun yg ada di hati n mataku rasanya msh melihat kantorku (DAP) yg sdg dilalap api. begitu kejam, sedih,sakit, perih membayangkan semua. katorku + pabrik tanpa sisa. semua karyawan hny bisa meneteskan air mata tanpa kata. ya Allah.. kami sdr dlm kesedihan ini bhw semua milikmu

SukaTidak Suka ·
· Bagikan · Kemarin jam 6:32 melalui BlackBerry ·
Serta merta Mas Ben langsung menuju profil pemilik status tersebut.
Kaget dan tidak mampu berkata-kata. Mas Ben dipaksa menerima berita tidak diharapkan di pagi itu. Ya perusahaan cabang Medan di mana Mas Ben berkarya bakti di Pabrik Pusatnya, telah dilalap si jago merah pada hari Sabtu sore tanggal 17 Desember 2011.
Oh tidak mungkin. Mana mungkin bisa ? Mas Ben sangat terpkul menerima kenyataan ini.
Masih setengah percaya, Mas Ben menelusuri setiap komen yang menyertai status tersebut. Ya, memang benar. Perusahaan yang telah menorehkan berjuta kesan dan kenangan indah pada diri Mas Ben, dalam dua kesempatan kunjungan kerjanya di sana, kini telah musnah dilalap si jago merah.
Benedikt Agung Widyatmoko Saya yg pernah merasakan nikmatnya berkantor di DAP Medan merasa sedih dan terpukul dgn peristiwa ini. Namun saya yakin bhw DAP Medan akan bisa bangkit lg menjadi leader dan cerminan perusahaan yg baik di antara DAP Nasional lainnya berkat adanya kawan2 yg selalu bekerja bahu membahu menyajikan kontribusi baik penuh cinta pada perusahaan dan pekerjaan. Kemarin jam 8:35 · Suka
Hanya itu, kalimat balasan yang tercipta dari diri Mas Ben dalam perasaanya yang campur baur antara sedih, haru dan terpukul, melengkapi beberapa kalimat empati lainnya.
Perasaan dalam batin Mas Ben semakin tak terkirakan kesedihannya tatkala menrima pesan singkat dari seorang sahabat karyawan pabrik cabang Medan :
“Kami down semua Pak. Karyawan  yang perempuan pada nangis histeris pada saat kejadian. Sedih sekali Pak, pabrik tempat kita mengais rejeki sudah terbakar, … Mohon dukungan doanya buat kita di Medan. Tks, GBU.”
Bergetar tangan Mas Ben menggenggam ponsel, tak kuasa menahan lagi kesdihannya. Mas Ben larut dalam keharuan yang sangat.
Rekaman keindahan persahabatan dengan kawan – kawan di Medan sekejab menghiasi ruang batin dan pikiran Mas Ben, seolah dipertontonkan slide suasana penuh kekeluargaan yang bersaja antara Mas Ben dan kawan-kawan di sana,
Semua kenangan dan kebersamaan yang indah di bangunan gedung yang resik itu tidak mungkin bisa terhapus dari ruang ingatan Mas Ben.
Namun peristiwa Sabtu sore, 17 Desember 2011 telah memporakporandakan prasasti hati kami yang beralamat di komplek Kawasan Industri Medan (KIM) Star, Kecamatan Tanjung Morawa. Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara [Lih berita].

Terbersit pengobat hati ketika menerima sms lanjutan dari sahabat yang menjelsakan bahwa kawan-kawan di sana pada hari Minggu 18 Desember 2011, berkumpul di gedung pabrik [gudang lama] kamu, bahu membahu mempersiapkan tempat kerja mereka yang baru, guna bisa segera melanjutkan darma karya mereka untuk perusahaan.
“Tks Pak. Kami lagi kerja mempersiapkan kantor baru di Gudang Lama. GBU.”
didukung status indah lainnya :
saya salut buat teman2 yg memiliki loyalitas yg sgt tinggi utk hadir pd hari ini bergotong royong di kantor DAP lama. kita hrs bangkit dgn penuh semangat utk saling bahu membahu. kebaikan/loyalitas itu cerminana dari diri kita sendiri.

SukaTidak Suka ·
· Bagikan · 19 jam yang lalu melalui BlackBerry ·

Oh, praise for God. Tuhan Mahabesar dengan segala firmannya, yang telah menjaga hati kawan-kawan kami di Medan. Tuhan menatang kawan-kawan kami bangkit menjauh dari rasa putus harapan. Semangat pelayanan yang sangat luar biasa dari kawan-kawan kami sontak mendongkrak saya pun turut bangkit. Mendukung dalam doa agar perusahaan cabang kami di Medan [Deli Serdang, tepatnya] akan segera pulih kembali berkat semangat dan  kekompakan kawan-kawan kami di sana,

Berikut status FB dari kawan-kawan di sana yang sengaja saya share sebagai tanda baik kebangkitan kembali perusahaan cabang kami di Tanjung Morawa, Deli Serdang.
I Love KINGKOIL, I Love DAP. kuserahkan fikiran n tenagaku untukmu DAP. setelah duka pasti ada suka cita. Semangat…..

SukaTidak Suka ·
· Bagikan · 4 jam yang lalu melalui BlackBerry ·
Hujan di pagi hari selama 2 hari ini mengiringi kesedihan yg di alami oleh DAP Cab.Medan tetapi Teman2 harus tetap SEMANGAT

SukaTidak Suka ·
· 9 jam yang lalu melalui BlackBerry ·
Semua sudah ada yang atur.. Apupun yang trjadi semuanya krn Tuhan msh sayang pada kita.

SukaTidak Suka ·
· 5 jam yang lalu melalui seluler ·
Apapun yg kurasakan hari ini ya Tuhan, buatlah aku tetap tersenyum, karena aku percaya tak ada satupun yg terjadi dalam hidupku, tanpa Allah peduli,,, Semangat….!!!
SukaTidak Suka ·
· 9 jam yang lalu melalui BlackBerry ·
Tuhan akan Merangkul Kita Smua, dlm Suka maupun Duka.. Smangattttttt…

SukaTidak Suka ·
· 9 jam yang lalu melalui BlackBerry ·
Sudah selayaknya perusahaan kita bangga dan merasa beruntung memiliki kalian semua, kekayaan yang tidak akan mampu dinilai dengan sebesar apappun juga. Kalian memang luar biasa.
Maju terus kawan-kawanku. Maju terus PD. DAP Cabang Medan dan PT. DAP Nasional. Akan ada bianglala indah menyonsgsong di depan setelah hujan air mata.
Salam bentoelisan
Mas Ben

In Your Eyes

Halo Bentoelisers,

Sebuah cuplikan festival music jazz dalam tayangan televisi terekam tampilan apik dari seorang George Benson menembangkan In Your Eyes. yang walau hanya sepotong bait saja, namun lirik lagunya sudah cukup menghadirkan nuansa magis kekuatan bola mata.

In your eyes, i can see my dream’s reflections
In your eyes, found the answers to my questions
In your eyes, i can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
And i think i’ve finally learned to love you more

Ya, entah disadari atau tidak melalui bola matanya, seseorang menampilkan kekuatan, kecerdasan, atau kelemahannya. Dan harus diterima bahwa  kondisi ketangguhan dan ketegaran bisa dipengaruhi oleh suasana mata.

Sorang pesulap, dengan matanya yang tegas dan berbinar tajam ke arah wajah Anda, sangat cukup menimbulkan sugesti pada diri Anda untuk tehipnotis mengikuti anjurannya. “Perhatikan mata saya”, atau “Perhatikan layar televisi Anda”, Adakah Anda rasakan aliran kekuatan paksa kepada Anda untuk menuruti atau setidaknya sedikit saja adanya kehendak pada diri Anda untuk mengabaikan instruksinya itu ? Biasanya Anda akan terhanyut mengikutinya bukan ?

Anda pasti sependapat dengan saya, bahwa warga negara Amerika dengan segala kemoderenan dan kemajemukan kultur etnisnya, akan sulit menerima ras AfroAmerika dalam pemerintahan. Kenyataannya Barrack Obama dengan gemilangnya mampu merebut hati mayoritas rakyat Amerika untuk memilihnya sebagai pemimpin. Pun juga karena kemampuannya meyakinkan membawa perubahan untuk Amerika secara menyeluruh. Satu kata CHANGE yang semua orang akan dengan mudah mengucapkannya, namun melalui kekuatan mata seorang Obama, kata Change begitu menggelegar dan menjadi teramat menjanjikan perubahan besar.

Seorang petinju sebelum bertanding, dipastikan melakukan adu mata untuk mengintervensi nyali lawannya. Dan bisa ditebak petinju yangmenolak memandang mata lawannya setajam-tajamnya, pasti sangat sedikit kemungkinan menang, kecuali faktor luck turut campur :)

Di tempat lain, seorang korban gendam atau kejahatan hipnotis, bisa dipastikan bahwa pelaku telah mengamati dan memilih calon korbannya melalui kondisi psikis wajah yang terekam jelas karena suasana matanya.

Dan masih banyak contoh lain lagi dari kekuatan bola mata; bagaimana seorang pimpinan perusahaan dengan mudah menentukan menerima atau menolak kandidat karyawannya hanya sesaat setelah bertemu dalam sesi interview. Keputusan Anda untuk membeli sebuah produk dari wiraniaga A daripada Wiraniaga B sekalipun keduanya menawarkan jenis produk yang sama kepada Anda.

Kekuatan mata demikian dahsyatnya, adalah berlaku sama untuk semua mahluk Tuhan. Anda bisa mengenali hewan kesayangan Anda sedang mood atau bad mood pun bisa disimpulkan dari matanya.

Bukti kebesaran Tuhan melalui karunia mata, paling menyentuh adalah dalam tayangan Kick Andy pekan lalu, yang mana menampilkan narasumber berprestasi. Itu hal menjadi biasa bila narasumber yang dihadirkan dalam kondisi sempurna. Dan tayangan Kick Andy episode ini menjadi demikian hebatnya berkat tampilan para saudara kita yang penglihatannya sedang dipinjam oleh Tuhan itu dengan prestasinya yang mengagumkan.

Bukan prestasinya yang mengagumkan saya, namun kekuatan matanya yang mampu menghadirkan wajah – wajah penuh semangat dan kegigihan mengalahkan ketidaksempurnaan. Wajah-wajah ini penuh senyum karena matanya yang tidak mampu memberikan terang kepadanya, melalui pemandangannya yang gelap, mata mereka telah mampu menghadirkan kekaguman dan sujud syukur atas kebesaran Tuhan.

Mata Anda adalah spion dari suasana hati Anda. Dari mata Anda, orang dengan mudah mengetahui Anda orang lemah atau kuat, Mata Anda adalah potensi Anda, walau apapun keadaannya … baik dalam terang maupun gelap.

Untuk menutup tulisan ini, baiklah bila kita simak syair apik dari keseluruhan lagu In Your Eyes dari George Benson.

I think i finally know you
I can see beyond your smile
I think that i can show you
That what we have is still worthwhile
Don’t you know that love’s just like the thread
That keeps unravelling but then
It ties us back together in the end

(chorus)

In your eyes, i can see my dream’s reflections
In your eyes, found the answers to my questions
In your eyes, i can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
And i think i’ve finally learned to love you more

You warned me that life changes
That no one really knows
Whether time would make us strangers
Or whether time would make us grow
Even though the winds of time will change
In a world where nothing stays the same
Through it all our love will still remain

(chorus)
In your eyes, i can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
And i think i’ve finally learned to love you more

~~~~~

Salam Bentoelisan

Mas Ben

P.s. Please forgive me ya mans-temans Bentoelisers terkasih, bila  gaya pengisahan saya kali ini sedikit keluar dari pakem Bentoelisan hehhee.

Antara Nasi Tempe, Jadah Bakar dan Karunia

Halo Bentoelisers, “Kiri Mas.” “Turun di sini Pak ?” tanya sopir angkota sambil mengurangi kecepatan kendaraan dan menepi. “Iya Mas, di sini saja.” Jawab Mas Ben. Mas Ben langsung menuju ke sebuah warung makan yang cukup besar. “Beli makan, Mas.” Kata Mas Ben kepada seorang yang ada di dekat dapur warung.

Orang itu cuma tersenyum sebagai balasan dan dia menunjuk kepada seseorang yang sedang ada di meja kasir sedang melayani seseorang lain.

Dilihatnya orang di meja kasir itu. Tampak serius sekali dia melayani seorang perempuan yang mendiktekan nama-nama menu, yang ditindaklanjuti dengan menuliskannya ke dalam bon nota pembayaran.

“Iya Bang, makanannya aja yang ditulis, Nanti saya yang kasih angka-angkanya. Oh ya, jangan lupa sama stempelnya ya Bang.” Terdengar jelas oleh Mas Ben percakapan mereka, walau si perempuan berusaha berbicara pelan.

Sudah ada lebih 5 menit Mas Ben menunggu untuk dilayani atau sekedar menanti kata, maaf sebentar ya. Namun karena penantian itu tidak juga menunjukkan harapan baik, dan orang yang duduk-duduk di dekat dapur pun tidak menunjukkan insiatif peduli pelanggan, apalagi perhatian dari dia yang sedang melayani di perempuan. … Ya sudah, Mas Ben pun bangkit dari duduknya, dan keluar membatalkan niat makan siangnya di warung itu.

Menjelang keluar pintu warung, masih dilihatnya si perempuan menunjukkan jari ke buku bon dan memberikan instruksi, yang dengan nurutnya dipatuhi oleh pemilik warung.

Di seberang warung yang baru saja ditinggalkannya, Mas Ben melihat dengan jelas warung sederhana; tiada dinding yang melingkupinya, hanya selembar plastik terpal sebagai penutup dan kain putih penghalang debu menerpa punggung pembeli bertuliskan “warung nasi”.

“Mau beli apa Dik ?” kata sambutan Ibu pemilik warung kepada Mas Ben, yang membuat Mas Ben cukup happy menerima sapaan Dik, itu :)

“Eh ya, gado-gaado Bu. Pedesnya sedeng saja ya.” Kata Mas Ben sambil menempatkan diri di bangku kayu sederhana.

Dalam sekejab sepiring gado-gado itu sudah ada di hadapannya penuh penyerahan diri meminta untuk segera disantap.

“Es-nya ada Bu ? Kalau ada, tolong dibikinkan es teh manis ya.” Kata Mas Ben,

Dilihatnya si Ibu memberikan selembar uang seribuan kepada ibu-ibu lain yang ada di warung itu. Rupanya itu uang untuk memberli es batu.

Saat Mas Ben asyik menikmati makan siangnya, “Boleh minta air dingin, Bu ?” Terdengar kata santun penuh hormat.

Dilihatnya 3 orang anak muda berpakaian dekil. Mereka itu biasa dikenal sebagai anak punk. “Ada Dik. Mau diminum di sini atau diplastik ?” Tanya si Ibu Warung.

“Kalau boleh kami pinjam gelasnya Bu, sekalian minta ijin neduh sebentar.” Jawab salah satu dari mereka, tetap dengan kesopanannya.

“Gorengan berapaan Bu ?” tanya remaja pertama sambil membuka kain serbet penutup nampan wadah gorengan.

“Lima ratusan, Dik.” Jawaban yang langsung direspon oleh anak itu dengan mengambil satu bakwan, dipecah-pecahnya menjadi 3 bagian,  lalu bertiga mereka menikmati gorengan itu.

Ya, memang fenomena anak punk itu sudah bukan hal asing lagi saat ini. Di beberapa wilayah komunitas ini sudah ada. Memang ada yang kelihatan sangat dekil dan ada yang lebih mengutamakan pernak-pernik aksesoris penghias penampilan mereka.

Sambil makan Mas Ben melihat Ibu Warung memperhatikan ketiga anak itu dengan kelahapannya menikmati bakwan dan mereguk air.

“Mau nasi Dik ?” Tiba-tiba suara Ibu warung memecah kesunyian. “Maaf Bu, kami tidak bawa uang cukup. Belum dapat banyak hasil ngamen dari pagi.

Tanpa menghiraukan jawaban anak-anak itu, Mas Ben melihat si Ibu dengan cekatan meracikkan ke dalam 3 piring, nasi dengan menambahkan sepotong tempe dan tahu bacam di masing-masing piringnya.

“Maaf, cuma ada tempe dan tahu saja ya.” Kata si Ibu sambil menyerahkan piring-piring itu. Tampak terlihat keraguan pada masing-masing wajah muda itu. “Tapi Bu, kami tidak …”

“Tidak apa-apa, ini untuk Adik-Adik. Kebetulan sudah mau habis, jadi tidak apa-apa, dimakan saja. Tidak bayar.” Jawab si Ibu.

Adegan sesaat itu sangat cukup meluluhlantakkan hati Mas Ben, menciptakan keharuan. Menyaksikan ketulusan si Ibu penjual gado-gado, begitupun kelahapan ketiga anak muda itu menyantap rejeki yang mereka terima.

Sepanjang perjalanan pulang Mas Ben, masih terus saja terbayang jelas wajah Ibu warung itu. Penuh kesederhanaan dan jauh dari kecantikan fisik. Berbeda sekali dengan wanita di warung yang ditinggalkan Mas Ben.

Ada persamaan antara Ibu warung dengan 3 anak punk, dan pemilik warung makan  berdinding dengan perempuan necis yang sebelumnya ditemui Mas Ben. Pada mereka ada hal pemberian dan penerimaan, namun berbeda buahnya. Buah segar dan ranum berbalut perkenan Tuhan telah diteladankan oleh si ibu warung, yang dalam kesederhanaan bahkan kekurangan mungkin, rela memberikan dengan tulus. Sebaliknya si perempuan dengan kecukupan yang tertampilkan melalui penampilannya, masih berusaha menambahkan atas hak yang telah diberikan Tuhan kepadanya dengan kecurangan. Entah apapun motifnya, [kan bisa saja bon palsu itu dibuatnya untuk menutupi bon dia yang hilang atau rusak] tetap saja perbuatan membuat bon palsu itu kalah mulianya bila dibandingkan dengan pengakuan kepada pihak yang perlu laporan atau pertanggungjawabannya. Mungkin dia berisiko merugi senilai uang yang bonnya hilang atau rusak. Namun bila perbuatannya itu aman-aman saja, tidak menutup kemungkinan akan menjadi kebiasaan buruk yang bersinambung.

Tiba-tiba,

“Mas Ben, piye to koq nggleler tanpa sapa gitu. Wajah manyun bibir mecucu.” Suara Mbah Samto membuyarkan lamunan Mas Ben.

“Eh, Mbah Samto, maaf Mbah. Hatiku sedang gundah gulana hari ini.” Jawab Mas Ben sambil melambaikan tangannya.

“Hallah ennnyyyyaaaaakk, gaya banget kata-katamu. Eh, sini dulu to, mampir ke warungku. Buat pancingan pembeli lain, dari pagi tadi sepi ini warungku.” Wis pokoknya jadah bakar sama teh manis tak-gratiskan wis. Buat penglarisan.

“Yang bener Mbah ? Woo dengan senang hati Mbah, mana jadah dan teh manisnya ? Antusias Mas Ben menerima limpahan anugerah rejeki jadah bakar dan teh manis siang itu.

Ah, mengapa ketulusan dan sukacita lebih sering hadir dari dari mereka yang sederhana.

Terimakasih Sang Hidup yang telah menciptakan dan menghadirkan mereka yang sederhana itu di antara angkara murka dan kerakusan masa.

 

Salam bentoelisan

Mas Ben

Blogger dan Semangat Sumpah Pemuda

Salam untuk Anda semua,

Blogger dan semangat sumpah pemuda. Pertanyaan mendasar perlu klarifikasi adalah mengapa harus blogger ? Mengapa bukan segenap warga negara Indonesia ? Toh sumpah pemuda adalah representasi dari hasrat para pemuda Indonesia untuk bersumpah setia menjunjung kerukunan bernegara.

Jawaban paling sederhana adalah karena adanya kedekatan antara tanggal 27 Oktober yang telah ditetapkan menjadi Hari Blogger Nasional, dan tanggal 28 Oktober yang diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Dan sebagai informasi, bahwa pada hari Sabtu tanggal 30 Oktober 2010 akan dilangsungkan sebuah pesta akbar para blogger Indonesia [mungkin ada tamu dari luar negeri ?]dan pelaku jejaring sosial, dunia maya bertopik “Pesta Blogger+ 2010 – Merayakan Keragaman”.

Pemilihan tema dan pengangkatan isu yang sangat cerdas,  menyentil kondisi dunia umumnya dan Indonesia khususnya yang ternyata  hingga setelah 82 tahun sumpah pemuda Indonesia dideklarasikan, masalah SARA masih menjadi polemik yang menghiasi perjalanan sejarah bangsa ini.

Mari kita tengok paling dekat saja kisah konflik jemaat HKBP dengan warga di Bekasi, masalah SKB 3 menteri tentang penyelenggaraan rumah ibadah yang masih dipertentangkan, marjinalisasi kaum Ahmadiyah, dan juga masalah-masalah bernuansa SARA lainnya, masih sering terjadi di Indonesia. Kejadian ini bukan hanya terjadi di area rakyat saja, namun juga sudah menjangkiti para elit politik yang duduk di pemerintahan / kabinet.

Masalah kebangsaan, masih banyak saudara sebangsa setanah air kita yang belum merasakan kesetaraan dan pemerataan dalam pembangunan dan kesejahteraan. Masih ada pergerakan-pergerakan yang berupaya merongrong kedaulatan negara, memberontak berkeinginan membentuk sebuah negara merdeka yang terpisah dari negara Republik Indonesia. Upaya makar yang bahkan telah digagas dan dirancang di luar negeri, sebagaimana dilakukan oleh RMS beberapa waktu lalu. Dari internal pun upaya menggoyang stabilitas negara tidak kurang banyak dengan kelompok-kelompok yang terus merongrong kewibawaan pemerintah melakukan teror demi tujuan mengganti ideologi negara Pancasila.

Masalah-masalah kewarganegaraan dan berbangsa masih disikapi dan ditanggapi beragam. Belum ada satu kata atau sikap dan upaya untuk penyelesaiannya. Yang marak terjadi justeru perseteruan opini tanpa aksi nyata untuk memperbaiki. Tidak jarang diperkeruh oleh pemberitaan media yang tidak proporsional dan cenderung memojokkan pemimpin negara.

Dalam masalah bahasa, kita masih sering menjumpai dalam berbagai kesempatan, bahasa Indonesia tidak digunakan sebagaimana kaidah yang semestinya. Sebagai contoh, taman bermain anak-anak atau lebaga pendidikan pre-sekolah cenderung memaksakan anak-anak harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Dampaknya mau tidak mau, para orang tua anak pun di rumah harus sering berkomunikasi menggunakan kata-kata bahasa Inggris demi metode belajar anak-anak mereka. Di luar rumah, begitu banyak nama toko, perumahan atau perkantoran memilih menggunakan istilah asing untuk penamaannya, demi alasan komersialitas.

Contoh lain paling jamak adalah dalam berbagai kesempatan talk show [temu wicara] atau wawancara di televisi, banyak narasumber sering menyisipkan kata, frasa atau kalimat dalam bahasa asing. Termasuk dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Bapak Presiden kita Soesilo Bambang Yudoyono yang pernah mendapat anugerah tokoh berbahasa Indonesia paling baik dan benar, pun sekarang sangat gemar menggunakan istilah-istilah asing dalam percakapan resmi maupun non-resmi beliau.

Sungguh disayangkan sekali bahwa semangat kebangsaan yang pada konggres pemuda di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928 dengan melahirkan janji persatuan Sumpah Pemuda yang megah yang sebelum pembacaannya didahului oleh diperdengarkannya lagu kebangsaan Indonesia Raya itu, justeru semakin pudar dari waktu ke waktu. Semangat sumpah pemuda nyaris luntur dari jiwa semua lapisan masyarakat negeri tercinta ini.

Seiring memudarnya semangat persatuan dan nilai tenggang rasa ini, setidaknya ada angin segar yang menyegarkan dengan lahirnya para blogger nasional yang giat mempropagandakan keberagaman melalui karya-karya tulis di blog mereka. Termasuk kegiatan-kegiatan amal yang mengatasnamakan blogger.

Penghargaan atas keberagaman itu terlukiskan jelas dalam bingkai kegiatan yang mereka adakan. Kegiatan yang mereka usung selalu lintas budaya dan etnis. Dan dipastikan dalam setiap acara yang diselenggarakan atas nama blogger dan pelaku jejaring sosial dunia maya selalu berakhir penuh kesan kebersamaan dan kerinduan untuk berulangnya.

Dalam tulisan-tulisan mereka, sekalipun banyak mengedepankan opini pribadi, toh tidak pernah terjadi atau terdengar kisah permusuhan atau pecahnya komunitas blogger kewilayahan disebabkan oleh perbedaan pendapat dan ideologi. Semua dikembalikan kepada narablog yang bersangkutan untuk mempertanggungjawabkan isi tulisannya, bila di kemudian hari ada dampak mengikuti hasil pemikirannya.

Demikian pun dalam ajang Pesta Blogger + 2010 “Merayakan Keragaman”, nafas dan semangat persaudaraan bangsa telah jauh hari ditampilkan melalui Blogshop Pesta Blogger+ 2010 di 10 kota Indonesia.

Bukti nyata bahwa deritamu adalah deritaku juga, telah dibuktikan banyak oleh kawan – kawan blogger dengan komunitasnya : ambillah contoh komunitas Bengawan dengan Solo Sinaunya, Blogger Bekasi dengan Sebuai-nya, Leonpia dengan kegiatan sosialnya, BHI dengan aksi buku dan pendidikan, dan masih banyak contoh kegiatan positif memupuk rasa solidaritas dan kemanusiaan lain oleh para blogger dengan komunitasnya, seperti baru-baru ini Pesta Blogger 2010+ Untuk #Mentawai dan Merapi#.

Kuncup persatuan telah bersemi kembali melalui persaudaraan para blogger dan komunitasnya. Persaudaraan yang lintas budaya, religi, dan etnik yang tanpa motif kepentingan.

Sebagai tanda sukacita atas kuncup baru ndonesia yang bersatu, marilah kita perbarui sumpah kita sebagai putra-putri Indonesia yang merindukan dan mengupayakan kembalinya persatauan sejati Indonesia :

SUMPAH PEMUDA

Pertama :
- KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA

 

 

Salam bentoelisan

Mas Ben

Tumpeng Agustusan

Halo Bentoeliser,

Suasana pagi itu cerah berseri di kampung tempat Mas Ben tinggal. Jam baru menunjukkan pukul 6.30. Cericit burung menambah sejuk segarnya suasana.

Mas Ben tengah asyik mamandangi bendera yang gagah terkibar di tiang depan rumahnya, ketika Mbah Samto lewat dan menyapanya.

“Monggo Mas Ben.”

“Eh ya, monggo Mbah. Wah ndeting sekali panjenengan dengan seragam LVRI itu Mbah.”

Mbah Samto menghentikan sepedanya.

“Iyo Mas Ben, iki aku mau upacara pitulasan di Alun-Alun.” Suara Mbah Samto pelan tergetar, tatapannya menerawang teduh.

“Kemutan masa perjuangan ya Mbah ?”

“Iya Mas, waktu jaman perjuangan dulu aku masih umur belasan tahun, tapi juga sudah suka ikut perang. Jelek-jelek begini aku ini waktu itu sudah kedapuk jadi wakil komandan resimen lho.”

“Percoyo Mbah, ketahuan koq dari perbawanya.” Mas Ben menepuk bahu Mbah Samto.

Mereka tertawa bersama. “Wis ah Mas Ben, aku berangkat dulu ya.” pamit Mbah Samto.

“Nggih Mbah, nderekken. Oh ya nanti ke Pak RT nya bareng ya.” Mas Ben sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya kepada Mbah Samto yang sudah mengayuh sepedanya.

—-

Sore itu di beranda rumah Pak RT sudah tampak Pak Mardi, Jiyo, dan Lik Promo.

Lingkungan RT di mana Mas Ben tinggal, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal 17 Agustus terutama sejak Pak Kusno menjabat Ketua RT, selalu mengadakan tumpengan sekadar syukuran dan doa untuk negara dan pemimpinnya.

Pak Kusno, didukung swadaya sukarela dari warganya menjadikan acara tahunan ini sukses terlaksana. Para warga yang Ibu-Ibu berperan di dapur menyiapkan segala masakan dan logistiknya, dan yang pemuda seperti Kasturi dan Jiyo kebagian tugas laden membungkus dan membagi-bagi nasi tumpeng beserta lauk-pauknya. Memang tumpengan tahun ini berbeda. Karena bersamaan dengan bulan puasa, maka nasi tumpeng tidak disantap bersama, tapi dibekalkan pulang kepada yang hadir sebagai berkat.

Mbah Samto dan Mas Ben hadir beriringan sesuai janji mereka akan hadir berbarengan.

“Monggo-monggo Mbah Samto dan Mas Ben, monggo.” Pak RT mempersilakan keduanya.

“Wah, maaf telat.” Mas Ben berbasa-basi.

“Ah, ndak telat. Mulainya baru jam 16.00, masih setengah jam lagi mulai.” Balas Pak RT.

“Kan sudah diwakili gasiknya sama Jeng Arum dan Gus Atya tadi siang to.” Imbuh Lik Promo.

“Bapak … Bapak.” Suara kecil Atya melucur dari bibirnya.

Tampak dari pintu samping rumah Pak RT, Jeng Arum dan Atya di gendongannya.

“Maaf Pak RT, si kecil ini di belakang ngganggu ibu-ibu yang masak.” kata Jeng Arum berbasa-basi sambil menyerahkan Atya kepada Mas Ben.

Mas Ben menyambutnya, si Atya nampak girang dalam pangkuan bapaknya.

“Bocah bagus, aduh bakal pinter ya.” Si Jiyo gemas mencubit lengan montok Atya.

“Assalamualaikuum.”

“Waalaikuumsalam … eh Pak Kandar, monggo Pak … monggo moggo.” Pak RT bangkit menyalami Pak Kandar, sesepuh yang dipercaya memimpin acara dan doa.

Pak Kandar, menyalami satu-per satu yang hadir di situ.

“Belum telat kan ya, saya ?” Kata pak Kandar, setelah memposisikan diri di sebelah Pak RT.

“Belum Pak, masih menunggu Kang Darno dan Kasturi.” Sahut Lik Promo.

“Iyo, ini si Kasturi mana to. Juru laden berkat koq masih belum nongol ?” Pak Mardi urun suara.

“Lha itu dia si kasturi-nya.” Suara Pak Kandar membuat semua yang hadir menolehkan kepalanya. Tampak Kasturi datang beriringan bersama Kang Darno.

“Sini cepet Kas, berkatnya sudah menunggu dibagi.” Kata Jiyo.

“Mohon maaf Bapak-Bapak.” Kata Kasturi sambil langsung menuju pintu samping mengambil setumpuk daun pisang dan kertas bungkus.

“Pun, monggo dibuka Pak RT.” Pak Kandar mempersilakan Pak RT membuka acara.

“Terimakasih, selamat sore Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Assalamualaikumm Warrahmatullohi Wabarakatuh.”

“Waalikuumsalam warahmatullohi wabarokatuh.” sambut yang hadir bersamaan.

“Jadi sore ini kita berkumpul di gubug saya ini dengan maksud melakukan tumpengan, memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa atas berkatNYA untuk negara kita, dan mengirimkan doa buat para pahlawan dan pejuang yang telah gugur di masa pergerakan atau pun wafat sesudahnya. Kita mendoakan semoga bangsa kita senantiasa diberkati, kepada para pemimpin dilimpahkan berkat dan rahmat kesehatan,  dan kepada kita para warga negaranya senantiasa diberikan kelimpahan rejeki dan kedamaian saling rukun dalam bernegara.

“Amiiiinnnnnn.”

Selanjutnya Pak Kandar memimpin doa. Tampak Mbah Samto berkaca-kaca matanya mengenang masa perjuangannya dahulu.

Setelah itu, acara disambung dengan bedah tumpeng dan membagi berkat. Para yang hadir menerima rejeki dan nikmat dari Tuhan itu dengan penuh syukur.

“Nambah Kang Darno, ampun isin-isin. Itu masih ada lebih lauk.” Goda Pak Mardi kepada Kang Darno.

“Oke-oke, siapa takut …” Balas Kang Darno sambil beringsut hendak mengambil sayuran dan lauk dari tampah tumpeng.

Tampak sekali kerukunan di antara warga kampung dalam merayakan pesta ulang tahun kemerdekaan ke 65 negara Indonesia.

“Wah kelihatannya masakannya joss gandoss.” Puji Lik Promo

“He eh, top markotop banget urapnya. Bumbunya tercium aromanya harum.” Imbuh Pak Kandar.

“Ya, berarti kita harus berterimakasih kepada Ibu-Ibu yang sudah memasak buat kita di sini.” Kata Pak RT.

“Ibu-Ibu lingkungan RT kita memang sip markosip tenan deh.” Kalakar Kasturi disambut tawa para hadir.

Selesai bedah tumpeng, acara inti selesai.

Warga tidak langsung pulang. Mereka memanfaatkan waktu sambil menunggu saat buka puasa dengan ngobrol, membahas topik-topik yang sedang hangat.

“Perasaan koq perayaan Agustusan tahun ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya ya.” Mbah Samto membuka percakapan.

“Ya, kan berbarengan dengan bulan puasa Mbah. Jadinya kan mau bikin lomba pun juga bingung waktunya. Badminton dan volley yang biasanya malam hari, terbentur sama waktu taraweh.” Jawab Pak Mardi.

“Eh tapi RT kita mending lho, umbul-umbul dan gapuranya paling hot. Terus lagi karnaval anak-anak juga meriah, hampir semua anak ikut meramaikan.” Giliran Jiyo.

“Iyo, kowe kalau nggak salah dandan dadi wandu to ? Ledek Kasturi.

“Sudah, sudah to … malah jadi saling ejek to.” Mas Ben yang sedari tadi asyik diam memangku Atya, akhirnya terdengar suaranya.

“Iya, bagaimana pun saudara kita yang wandu itu, tetep harus kita hormati pilihannya, dan keberadaannya dalam masyarakat.” Bijak Pak RT.

“Setuju Pak RT. Lha wong bangsa kita sekarang ini sedang terpecah belah malahan, semua orang saling bertikai demi kepentingannya masing-masing. Banyak orang yang mengatasnamakan nasionalisme sibuk berkeliling dari daerah ke daerah cuma untuk menjelek-jelekkan bangsa sendiri kepada para saudara-saudara sebangsa setanah airnya. Bahkan dalam menyambut ulang tahun kemerdekaan saja, masih banyak yang tidak antusias, termasuk bekas pemimpin yang masih menolak menghadiri undangan upacara di Istana Negara, malah membikin upacara tandingan. Terus peristiwa insiden bendera terbalik di Manokwari juga diangkat menjadi topik sorotan di tivi. Padahal hal semacam itu kan bisa saja menimpa siapa saja, para pemuda paskibra itu kan memikul beban berat to ?” Mbah Samto bersemangat berpapar.

“Ya, bagaimanapun juga kita tetap harus menghormati sikap mereka yang tidak sama dengan kita dan kebanyakan rakyat to. Yang penting kita patut bersyukur bahwa sampai dengan detik ini, negara kita ini dijauhkan dari malapetaka dan perpecahan yang mengancam kedaulatan, terutama adalah bahwa kampung kita ini masih suci semua hatinya; saling menjunjung kebersamaan, cinta kepada bangsa dan saling menghormati perbedaan baik suku maupun kepercayaan. Kan itu semua berkah yang besar to ? Jadi biarlah mereka dengan pendiriannya, kita jangan sampai terpengaruh keyakinan kita yang dapat merusak suasana damai di lingkungan kita. Betul begitu ?” Lik Promo berkata bijak sekali.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara beduk diiringi lafadz adzan dari Langgar tanda waktu buka telah tiba.

Para warga menikmati teh hangat dan sekadar makanan kecil sebagai syarat sahnya buka. Kemudian saling bersalaman, dan pulang ke rumah masing-masing dengan berjuta rasa kebanggaan. Kebanggaan menjadi bagian dari komunitas lingkungan kecil yang rukun penuh asah asih dan asuh, dan bangga sebagai warga negara Indonesia.

Salam bentoelisan

Mas Ben

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.